Di milis kritik-iklan@yahoogroups.com, si Enda Nasution bilang agar berhati-hati dengan hari ini, 13 November 2003. Kenapa?
Ini karena analisa psiko terorisme andalan yang menetapkan bahwa 13-11-2003 adalah hari yang berbahaya bagi para sejawat.
Pattern analysis:
WTC: 11-09-2001
Bali boming: 12-10-2002Dimana hari, bulan dan tahun, bertambah satu. Jadi, kalo akan ada kejadian lagi, akan terjadi pada tanggal:
13-11-2003
![]()
Temanku yang kerja di sebuah stasion radio langsung misuh-misuh (baca: ngamuk-ngamuk) habis gue bilangin soal ramalan itu. Pasalnya, hari ini kebetulan dia ada tugas bikin live report dari salah satu mal… ups!
Oh ya, pasti ada yang nanya, kok peristiwa bom Marriot di Jakarta belum lama ini gak dimasukin dalam perhitungan ramalan itu? Mau tahu kenapa? Soalnya, entar kalo ikut dimasukin, jadi gak seru dong isunya…
Pengen lihat-lihat logo dari airlines atau maskapai-maskapai penerbangan dari seluruh dunia? Coba deh ke situs web AeroSite Airline Logos. Di situ ada juga logo dari airlines asal Indonesia seperti Garuda, Merpati, Bouraq, Mandala, dan Lion Air. Sayangnya, nama-nama seperti Star Air dan Pelita Air belum tercantum.
Belakangan ini aku bolak balik terima sms dari Satelindo yang isinya promosi soal layanannya. Malah yang soal ‘pancing hadiah’, hampir tiap hari dikirim. Hari ini aku barusan terima soal layanannya dengan salah satu bank. Apalagi jam terimanya gak tentu. Suka-suka mereka. Enak banget ya nyepam! Grr!
Emangnya sim card & pulsa yang gue pake ini gratisan apa? Terima e-mail spam di e-mail account yang gratisan aja menjengkelkan, apalagi kalau bayar. Apalagi yang nyepam itu providernya sendiri. Ugh!
SATELINDO suck! ![]()

Tadi pagi dapat kabar nenekku (dari pihak mama) telah meninggal sekitar jam 8 pagi waktu Gorontalo, setelah beberapa jam sebelumnya -katanya- sudah menunjukkan ‘tanda-tanda’ bahwa waktunya tidak lama lagi.
Asal tahu saja, ketika dapat kabar kalau beliau nafasnya sudah tidak beraturan, aku sempat gedar-gedor rumah salah satu omku yang tinggal dekat rumah lantaran tidak bisa dihubungi lewat telepon. Teleponnya dimatikan. Untungnya, setelah sekitar satu jam ‘berjuang’, akhirnya si om dapat dibangunkan agar dia bisa mengetahui keadaan terakhir.
Sedikit mengenang nenekku yang oleh para cucunya biasa dipanggil “apu” itu, aku jadi ingat dulu pas kecil cukup sering dikirimi masakan olehnya. Yang paling aku ingat adalah masakan ikan yang enak (namanya lupa). Nenekku itu juga tergolong sabar dalam menghadapi cucu-cucunya, termasuk yang nakal banget sekalipun. Terakhir pas aku pulang dan bertemu dengannya, ia terlihat masih cukup sehat. Masih kuat untuk berjalan dan setiap orang pamitan pulang, ia selalu ingin mengantar sampai depan pintu rumah. Sayang, tidak lama kemudian terderngar kabar ia sempat terjatuh sehingga harus berbaring terus. Kejadian itu membuat kondisinya jadi sangat menurun. Sehari sebelum meninggal, para keluarga dan kerabat dekat sempat merayakan ulang tahunnya yang ke-88.
Yang cukup melegakan, seperti yang diceritakan kepadaku, ia terlihat dapat menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang sambil dibacakan paritta (semacam ‘doa’ dalam Agama Buddha) oleh para anggota keluarga. Sekedar informasi, dalam ajaran Agama Buddha, kondisi pada saat menjelang kematian seseorang memang sangat penting untuk menentukan keadaan kelahirannya yang berikut. Dengan kondisi yang tenang dan damai seperti itu serta didukung dengan segala perbuatan baik beliau semasa hidupnya, semoga beliau dapat terlahir kembali dalam keadaan dan kondisi bahagia serta menyenangkan. Sadhu… sadhu… sadhu.
Tadi lihat iklan BCA di JP ada kalimat seperti ini: “…Nikmati segera fasilitas Cicilan BCA, yang dapat merubah semua transaksi …”
Duh, kok banyak sih yang senang pakai “merubah” ketimbang “mengubah”? Beberapa minggu lalu ada yang bilang (gue sih tidak lihat langsung) kalau iklan pro-XL juga pakai “merubah”. Gimana sih tingkat kemampuan berbahasa Indonesia mereka?
Padahal kalau menurut “INILAH BAHASA INDONESIA YANG BENAR”-nya Dr. J.S. Badudu yang benar itu adalah “mengubah“. Kenapa?
Kata dasar bakunya ialah ubah. Tidak ada kata dasar rubah. Jadi, bila kata dasarnya ubah (fonem awalnya vokal), maka bentuk awalan yang muncul ialah meng-, bukan me- atau mer-, sehingga kata bentukan yang betul ialah mengubah.
Kata merubah mungkin timbul karena orang mengacaukannya dengan bentuk awalan ber-, yaitu ber-ubah. Bentuk berubah dari kata dasar ubah yang beroleh awalan ber, bukan kata dasar rubah dengan awalan be- seperti pada kata rupa - berupa, rasa - berasa, roda - beroda, dan sebagainya. Hal, hasil, atau cara berubah melahirkan kata benda abstrak perubahan. Hasil pekerjaan mengubah disebut pengubahan. (Dari “INILAH BAHASA INDONESIA YANG BENAR” I, Dr. J.S. Badudu)
Anak-anak, demikian pelajaran Bahasa Indonesia pada siang hari ini. Semoga tambah pinter ya. Sampai jumpa. Merdeka! ![]()
Entah karena saking romantisnya atau terlalu kreatip, sebuah toko jualan underwear cewek di Paris menawarkan pelajaran gratis bagaimana berstriptis buat para cewek yang lagi belanja di situ!
Di sini ada toko yang berani nawarin ‘bonus’ kayak gitu gak ya? Biar para cowok jadi rajin nganterin cewek belanja underwear. ![]()
Satu lagi kesaktian dari tomat: bisa mengurangi resiko kanker prostat!
Mengapa? Karena tomat mengandung lycopene atau carotenoid yang dianggap dapat menurunkan reskio kematian bagi penderita kanker prostat. Oh ya, lycopene itulah yang membuat tomat berwarna merah.
Meskipun begitu, jangan keburu gila-gilaan memborong tomat di pasar dulu. Pasalnya, sejauh ini percobaan baru dilakukan terhadap tikus. Manusia belum. ![]()