Bagi yang pengen nonton Resident Evil: Apocalypse, ada baiknya kudu pastiin dulu deh apakah sebelumnya: (1) udah pernah main gim Resident Evil?; dan (2) udah nonton film Resident Evil (2002)? ![]()
Kalo jawabannya adalah tidak, mungkin lebih baik lupakan saja film itu.
Tetap nekat nonton? Bersiaplah terbingung-bingung (kayak gw!) ketika menyaksikan film yang disutradarai oleh Paul W.S. Anderson itu.
Bingung soal kehadiran tokoh Jill Valentine (Sienna Guillory, yang pernah main di Helen of Troy) yang justru lebih menonjol dari Alice (Milla Jovovich), bingung soal proyek Nemesis yang seharusnya jadi tema utama sekuel kali ini namun malah tampil kurang greget, bingung ketika menyaksikan sejumlah adegan tembak-tembakan yang nuansa gim-nya kental banget, bingung dengan alur cerita yang agak amburadul, dan kebingungan lainnya… ![]()
Dengan cerita yang masih seputar virus yang dikembangkan oleh Umbrella Corporation, mau gak mau membuat yang menonton harus mengingat-ingat kisah yang terjadi di film Resident Evil sebelumnya. Lawan yang harus dihadapi pun sama: para penduduk yang berubah menjadi zombie! Apalagi di awal film ini terang-terangan ditunjukkan kalau sekuel kali ini memang merupakan sambungan atau kelanjutan dari film Resident Evil yang dirilis tahun 2002 lalu dan langsung menggambarkan kekacauan yang sedang terjadi lantaran ulah virus tersebut. Rasanya semua itu sudah cukup membingungkan bagi yang belum nonton seri sebelumnya. Hanya bedanya kali ini mengambil setting di dalam kota Raccoon City yang sudah terkontaminasi virus ganas itu dan akan diratakan dengan nuklir saat fajar menjelang oleh pihak Umbrella! Yah, masih soal virus dan zombie lagi!
Kesannya kurang kreatif. Masalahnya itu-itu aja. Apa gak ada topik lain ya?
![]()
Hal yang paling parah dari film ini sebenarnya adalah alur cerita yang suka kurang nyambung dan menyepelekan logika berpikir yang menonton!
Sebut saja seperti adegan di mana tiba-tiba Alice menerobos masuk ke dalam gereja lewat jendela dengan mengendarai motor untuk membantu Valentine dan lainnya dalam menghadapi beberapa makhluk berwarna merah menyeramkan nan gesit. Kehadiran yang begitu kebetulan!
Juga tidak dijelaskan dari mana datangnya para makhluk-makhluk merah menyeramkan itu.
(more…)


Nama yang diusung oleh majalah baru keluaran Grup Gramedia (dengan bendera Elex) ini adalah CHIP Foto Video Digital, namun jangan keliru sampai keliru ya. Nama itu bukanlah jaminan lho kalau kita akan menemukan banyak artikel atau tips seputar membuat foto atau video digital di dalamnya. Bisa jadi hanya kekecewaanlah yang mencuat jika membeli majalah ini semata-mata dengan harapan mendapat sederet pelajaran soal memotret (pemandangan atau model, misalnya)!
Nama yang disandang memang mengandung kata “foto” dan “video”, tetapi kalau diperhatikan sebenarnya menu utama majalah ini justru bukan soal fotografi dan videografi melainkan lebih banyak mengenai seputar perkembangan kamera digital dan camcorder (kamera video)!
Apalagi pernyataan Dedy Irvan, Managing Editor CHIP Foto Video Digital (CFVD), dalam kata pengantar di halaman 4 semakin menegaskan hal itu. “Tes dan review digicam, camcorder dan perlengkapan pendukungnya adalah menu utama di dalam majalah ini, ” katanya. ![]()
Kalau memang begitu, buat yang sudah terlanjur ’salah’ membeli ya dinikmati saja…
Memang sih majalah berbandrol Rp 29.800,- ini tergolong mahal dan tetap terasa mahal meskipun 100 halamannya semua full color dan ada bonus CD berisi sejumlah software dan foto-foto contoh.
Namun, untuk yang barusan tertarik menggunakan kamera digital dan sedang berencana menukar kamera analognya ke versi digital, masalah harga tadi mungkin akan dapat dilupakan sejenak setelah membaca berbagai ulasan dan tes terhadap sejumlah kamera digital yang dimuat oleh majalah ini.
(more…)