Video Ring Back, Layanan Gacoan di Era 3G?

Seseorang yang sedang berada di lokasi konser menyiarkan langsung aksi panggung sebuah grup musik ke teman-temannya yang berada di berbagai lokasi berbeda dengan hanya bermodal ponsel berkamera video. Begitulah isi iklan di televisi soal kecanggihan layanan 3G dari salah satu operator yang sudah 3G ready.

Lepas dari kekuatiran apa yang dilakukan oleh penonton seperti di iklan tv itu mungkin bakal menuai larangan dari penyelenggara konser musik, fitur video nampaknya menjadi andalan dari semua penyedia layanan 3G. Selain iming-iming bisa melihat langsung orang yang ditelepon (video telephony) seperti yang sudah banyak dibicarakan di mana-mana, menonton konser sang idola dengan cara di atas mungkin bisa jadi daya tarik tersendiri untuk menggunakan layanan 3G. Bandingkan dengan beberapa tahun lalu di mana orang-orang hanya mengandalkan ponsel berkamera biasa untuk mengabadikan idolanya saat manggung dan mengirim foto itu via layanan GPRS.

ponsel konser


Diluncurkan pertama kali di Jepang pada tahun 2001 dan dilanjutkan di Eropa pada tahun 2003, akhirnya menjelang akhir tahun 2006 layanan 3G tiba juga di Indonesia. Hingga akhir September 2006 ini setidaknya sudah ada dua operator yang telah mengaktifkan layanan jaringan 3G bagi pelanggan mereka.

Marilah kita berbaik sangka. Anggaplah seiring dengan aktifnya layanan 3G, para operator terkait menambah besaran bandwidth yang mereka sediakan untuk dinikmati pelanggan. Berharap para operator memaksimalkan kapasitas maksimal 3G yang 384 kbps mungkin adalah suatu harapan terlalu berlebihan. Lebih besar dari yang saat ini disediakan via GPRS (yang disebut-sebut sebagai bagian dari layanan 2,5G) itu sudah sangat bagus.

Jika bandwidth sudah bukan masalah lagi, bolehlah kita berharap kehadiran berbagai layanan lain berbasis video streaming di samping fasilitas bertatap muka antar penelpon. Layanan nada sambung berbasis video, misalnya.

Sejauh ini layanan nada sambung berbasis suara atau ring back tone di Indonesia merupakan layanan gacoan karena telah terbukti menjadi tambang penghasil duit milyaran rupiah bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Namun, dalam era 3G ini apakah masih ingin bertahan dengan ring back tone atau RBT saja? ๐Ÿ˜‰

Menurut informasi yang dimuat di 3G.co.uk, SK Telecom tengah bersiap meluncurkan layanan media ring back tone (MRBT) atau video ring back (VRB) pertama di Korea. Biar tidak ketinggalan, harusnya pihak operator di tanah air bisa segera mengadaptasi layanan VRB.

Meskipun sekilas cara kerjanya kurang lebih sama namun dibandingkan RBT, VRB menjanjikan penampilan yang menawan. Kira-kira gambarannya begini. Kalau biasanya penelpon hanya mendengar nada tut-tut-tut atau potongan lagu RBT, maka dengan layanan VRB maka yang akan muncul di layar adalah streaming potongan video klip pilihan pihak yang dipanggil. Tentu hal ini jadi sebuah hiburan yang jauh lebih menarik ketimbang hanya mendengarkan nada sambung suara saja.

Sama juga seperti RBT, dalam menyediakan konten layanan VRB, pemilik jaringan tentunya harus bekerja sama dengan label rekaman atau langsung dengan artis untuk mendapatkan koleksi video klip musik. Agar bervariasi, konten yang disediakan sebaiknya tidak melulu hanya video klip musik saja. Ada sejumlah pilihan lain. Misalnya, wawancara eksklusif artis, cuplikan berita, movie trailer, bahkan iklan (TV commercial).

Apakah VRB bisa mengekor kesuksesan RBT? Apakah VRB bisa menjadi layanan gacoan era 3G? Di atas kertas atau secara teori kemungkinan itu besar sekali sejauh ada dukungan penuh dari operator jaringan 3G maupun vendor ponsel 3G. Bandwidth melimpah, tarif murah atau flat untuk akses 3G, dan harga ponsel 3G yang terjangkau. Bisakah ketiga faktor itu dihadirkan bersamaan? Mari kita tunggu! ๐Ÿ˜Ž

Print Friendly, PDF & Email

Baca juga:

4 comments on “Video Ring Back, Layanan Gacoan di Era 3G?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *