




Harrison Ford is back! Ya, Harrison Ford hadir lagi dengan film Firewall arahan Richard Loncraine. Tetapi lagi-lagi Ford hadir dengan tampilan orang kantoran. Lagi-lagi Ford berperan sebagai ayah tangguh dalam menghadapi penjahat penyanderan keluarganya. Dan lagi-lagi tokoh yang diperankan Ford bernama Jack, lengkapnya Jack Stanfield, bukan Jack Ryan seperti dalam Patriot Games dan Clear and Present Danger.
Jack Stanfield bekerja sebagai Computer Security Specialist di Seattle-based Landrock Pacific Bank. Karirnya yang tergolong cemerlang membuatnya menjadi salah satu orang penting di kantornya. Kehidupan keluarga bersama istri dan dua anaknya juga berjalan lancar-lancar saja hingga suatu hari terjadi hal yang tidak diduga.
Setelah seharian sumpek dengan rapat kantor soal rencana merger dengan bank lain, Jack dikejutkan oleh seseorang bernama Bill Cox (Paul Bettany) yang mengklaim telah berhasil menyekap istri dan anak-anak Jack di rumah mereka sendiri. Padahal baru saja (more…)





Film perang tanpa adegan perang baku tembak? Itulah Jarhead, film yang diadaptasi dari buku karya Anthony Swofford berjudul Jarhead: A Marine’s Chronicle of the Gulf War and Other Battles. Jarhead sendiri merupakan istilah slang untuk menyebut anggota marinir.
Memaparkan pengalaman nyata Swofford (diperankan oleh Jake Gyllenhaal) sendiri ketika menjadi anggota marinir, di film ini kita bisa menyaksikan bagaimana kisah dibalik penggemblengan di kamp pelatihan hingga pengiriman para marinir ke medan Perang Teluk Persia yang berlangsung sekitar tahun 1990-1991 dalam Operasi Badai Gurun. Bisa dibilang semuanya tersaji apa adanya, termasuk umbaran kata-kata umpatan sepanjang film yang mungkin bagi sebagian orang bisa terdengar kurang nyaman.
Ya, inilah film yang cocok bagi mereka yang ingin tahu suka duka kehidupan anggota militer sehari-hari baik. Dalam film yang disutradarai Sam Mendes ini, kita bisa mengetahui mulai dari bagaimana bentuk pendoktrian terhadap anggota baru, bagaimana bentuk perploncoan anggota lama terhadap anggota baru, bagaimana pengaruh tugas terhadap urusan dengan pacar atau istri di rumah, bagaimana harus (more…)
Ketika berbelanja di toko-toko eceran, adalah hal yang biasa menemui sebuah produk yang dijual lebih murah atau lebih mahal dari harga resminya atau harga yang tercantum pada produk itu. Sementara ketika berbelanja di toko atau showroom resminya, biasanya harga yang tercantum adalah harga resmi sesuai yang tercantum, tidak lebih murah atau lebih mahal.
Namun rupanya hal seperti itu tidak berlaku untuk harga voucher pulsa kartu prabayar Mentari dari Indosat. Beberapa hari lalu ketika membeli voucher pulsa Mentari senilai Rp 25.000 di Galeri Indosat cabang Plaza Marina Surabaya, gw diharuskan membayar Rp 26.000! Lebih mahal dari harga jual yang tertera pada voucher!

Sebenarnya yang menjadi masalah bukan perbedaan harga 1000 rupiah itu yang menjadi sorotan gw, apalagi jika dibandingkan dengan harga yang dipatok oleh toko-toko di sekitarnya, harga 26ribu itu memang tergolong lebih murah, tetapi mengingat Galeri Indosat (setahu gw) merupakan gerai resmi dari kelompok Indosat jelas hal tersebut sangat mengherankan! Mengapa gerai resmi bisa menjual voucher lebih mahal dari nilai pulsa itu sendiri? Masalah PPN? Bukankah pada voucher tersebut sudah tertulis dengan jelas bahwa harga tersebut sudah termasuk PPN? Sungguh mengherankan!

Sekedar perbandingan saja, bulan lalu gw membeli voucher untuk nomor XL Bebas di gerai resmi XL, yaitu XL Center cabang Plaza Tunjungan, Surabaya. Saat itu kebetulan gw membeli pulsa senilai 25ribu juga. Menurut penjaganya, yang tersedia untuk nilai pulsa sebesar itu hanya voucher elektronik. Bagi gw tidak masalah, yang penting harganya. Berapa? Dua puluh lima ribu rupiah alias Rp 25.000,- alias sesuai dengan nilai pulsanya sendiri. Tidak kurang dan tidak lebih ![]()
Jadi, apa kabar Indosat? :bye: