Sampai Kapan Kamera Film Bisa Bertahan?

“Apa kabar kamera film?” Itulah topik yang dibahas dalam Bincang Fotografi edisi 17 April 2007 lalu di HRFM Surabaya. Biar pas, gw mengundang Nano dan Freddy dari Fujifilm, sementara Ameck mewakili pengguna kamera film.

Kenapa mengundang perwakilan dari Fujifilm gw sebut “biar pas”? Karena setahu gw, Fujifilm merupakan salah satu (atau satu-satunya?) nama besar yang masih bermain di pasar kamera film maupun roll film. Dan kebetulan kamera film pocket Fujifilm yang dijual di beberapa negara, pabriknya ada di Indonesia!

Yang menarik, ketika ditanya sampai kapan Fujifilm akan tetap membikin dan menjual kamera film, seingat gw jawaban yang terlontar dari Nano adalah selama masih ada mesin cetak foto dari film! ๐Ÿ˜ฏ

Tadinya gw menduga bakal dijawab “selama masih ada yang mau beli dan pakai kamera film beserta roll film.” Ternyata hal itu bukan menjadi kekuatiran utama karena untuk saat ini kamera film dan roll film katanya masih cukup laku di pasaran… ๐Ÿ˜ฏ

Prediksi gw sendiri sih, perjalanan kamera film memang masih belum akan benar-benar tamat dalam waktu dekat ini. Setidaknya masih memungkinkan untuk bertahan minimal 5 tahun ke depan atau bisa lebih tergantung terobosan pemasaran dari pihak produsen kamera film dan roll film. Mungkin dengan memasarkannya di tempat-tempat terpencil sambil mengusung mesin cetak foto?

Bagaimana menurut lo? ๐Ÿ˜‰

Print Friendly, PDF & Email

Baca juga:

11 comments on “Sampai Kapan Kamera Film Bisa Bertahan?

  1. menurut gw sih harusnya mereka pindah target pasar seperti di kota-kota kecil yang rada pedesaan, krn target itu belum ngeh dgn kamera digital (kali)atau msh belum mampu beli yg digital jadi kamera film msh bisa jadi alternatif

  2. Sampai sekarang, aku masih lebih suka memakai Nikon FM10 daripada Nikon D70. Kepuasannya beda bo’! Lebih manual, lebih menantang. Orgasme saat mendengar tuas shutter berbunyi saat dijepret juga lebih puas daripada mendengar suara tiruan shutternya kamera digital.

    PS: Ameck bukannya pengguna DSLR? aku liat dia selalu bawa2 EOS digital tuh.. ๐Ÿ˜‰

  3. #1, pindah? “perluas” mungkin lebih tepat. ๐Ÿ™‚

    #2, katanya sih yg biasa dibawanya itu adalah pinjaman ๐Ÿ˜‰

    #3, kualitas kamera digital skrg sepertinya sudah setara kok sama hasil kamera film biasa, apalagi yg jenis kamera film pocket. Yg mungkin masih belum bisa disamai itu hasil dari kamera film medium format.

  4. Tergantung kantong juga ya sebenernya. Kamera pocket misalnya, yang 150-an juga ada khan? Jadi cukup terjangkau. Pertimbangan cuci cetak yang relatif mumer, cepat juga, selain itu tempat cuci cetaknya bisa dijumpai dimana saja.

  5. Benar, mungkin kamera film masih bisa bertahan cukup lama.. Karena peralihan dari kamera film ke kamera digital bukan hanya tentang upgrade teknologi seperti seperti dari tv monokrom Ke tv color.. Tapi ada unsur2 dalam kamera film yang memiliki karakter tertentu yang notabene disukai banyak kalangan fotografer. Tapi pengguna awam tentu saja lebih praktis dengan kamera digital ๐Ÿ™‚

  6. Yaaah, semenjak peralihan dari dunia analog ke digital, di mana itu berarti semakin praktis penggunaannya, tentu saja banyak orang yang lebih memilih DSLR daripada ASLR… Emang ada plus minusnya di 2 teknologi beda zaman tersebut. Kalo yg DSLR, kita gak perlu bingung akan cahaya yang over/under dan momen yang terlewatkan, namun kalo di ASLR, kita patut berbangga soalnya kalo eksposurenya udah pas, kamera semahal EOS 1D pun kalah hasil jepretannya.

    Ada salah satu alternatif sih gimana menyatukan kelebihan kedua jenis kamera itu, pake aja DSLR dengan lensa – lensa manual… :p

  7. Setau saya, kalau film untuk film (gambar bergerak) pakenya Kodak

    Film baru bisa “dimatikan” kalau:
    – Gambar diam minimal resolusinya 30 mp, gambar bergerak 14 mp
    – Dynamic Range setara dengan film
    – Media penyimpanan yang bisa bertahan lama (minimal 1 abad)
    – Filenya juga harus bisa dibuka (kalau udah 1 abad gimana?)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *