“Apa kabar kamera film?” Itulah topik yang dibahas dalam Bincang Fotografi edisi 17 April 2007 lalu di HRFM Surabaya. Biar pas, gw mengundang Nano dan Freddy dari Fujifilm, sementara Ameck mewakili pengguna kamera film.
Kenapa mengundang perwakilan dari Fujifilm gw sebut “biar pas”? Karena setahu gw, Fujifilm merupakan salah satu (atau satu-satunya?) nama besar yang masih bermain di pasar kamera film maupun roll film. Dan kebetulan kamera film pocket Fujifilm yang dijual di beberapa negara, pabriknya ada di Indonesia!
Yang menarik, ketika ditanya sampai kapan Fujifilm akan tetap membikin dan menjual kamera film, seingat gw jawaban yang terlontar dari Nano adalah selama masih ada mesin cetak foto dari film! ![]()
Tadinya gw menduga bakal dijawab “selama masih ada yang mau beli dan pakai kamera film beserta roll film.” Ternyata hal itu bukan menjadi kekuatiran utama karena untuk saat ini kamera film dan roll film katanya masih cukup laku di pasaran… ![]()
Prediksi gw sendiri sih, perjalanan kamera film memang masih belum akan benar-benar tamat dalam waktu dekat ini. Setidaknya masih memungkinkan untuk bertahan minimal 5 tahun ke depan atau bisa lebih tergantung terobosan pemasaran dari pihak produsen kamera film dan roll film. Mungkin dengan memasarkannya di tempat-tempat terpencil sambil mengusung mesin cetak foto?
Bagaimana menurut lo? ![]()

Setelah membaca Surat Pembaca di Seputar Indonesia (Koran SINDO) edisi hari ini, 28 April 2007, gw baru tahu ternyata junk SMS (atau SPAM INTERNAL™ menurut Nugi) yang biasa dikirimkan oleh operator GSM ke para pelanggannya sebenarnya bisa diminta untuk dihentikan.
MENANGGAPI keluhan pelanggan XL, Bapak S Kurniawan ”Junk SMS XL Bikin Kesal”, (20/4), dapat kami sampaikan bahwa kami telah menghubungi Bapak S Kurniawan dan menyampaikan permohonan maaf serta memenuhi permintaan Bapak S Kurniawan untuk menghentikan SMS broadcast dari XL dengan kode pengiriman 818 maupun 1818. Dapat kami sampaikan bahwa pengiriman SMS broadcast dari XL tersebut dimaksudkan sebagai penyampaian informasi berupa program maupun produk XL terbaru yang diharapkan bermanfaat bagi para pelanggan.
Sesuai dengan permintaan Bapak S Kurniawan, kami telah membatalkan pengiriman SMS broadcast ke nomor ponsel Bapak S Kurniawan mulai tanggal 23 April 2007. Terima kasih atas masukan yang disampaikan oleh Bapak S Kurniawan, kami senantiasa berupaya meningkatkan kualitas layanan kami untuk kepuasan pelanggan.
Ventura Elisawati Head of Corporate Communication XL
Gw termasuk pelanggan yang sudah bosan menerima kiriman junk SMS dari operator, baik itu XL, Mentari Indosat, maupun Telkom Flexi. Sayangnya, dalam surat tanggapan itu tidak disebutkan cara atau prosedur resmi bila ada pelanggan yang tidak ingin menerima SMS sampah lagi dari operator. Apa harus dengan cara menulis surat pembaca di media cetak seperti itu? ![]()
Gunakan tinta asli. Jangan gunakan tinta infus atau suntikan karena bisa merusak head printer. Kata-kata semacam itulah yang selalu dikampanyekan oleh para produsen printer di Indonesia pada setiap kesempatan.

Saat berlangsung Bincang Fotografi @ HRFM Surabaya pada Selasa, 10 April 2007 lalu yang membahas topik Mencetak Foto di Rumah, kalimat-kalimat seperti itu muncul juga lho…
Kali ini diusung oleh Devina, perwakilan EPSON yang menjadi tamu pagi itu.
(more…)

Pernah makan siang di restoran yang mengaku menyuguhkan “Modern Australian Cuisine” dan mengusung slogan “Feel 100% OZ with Our Australian Standard” sambil disetelkan dengan volume cukup besar lagu-lagu jadul Indonesia macam Anak Singkong-nya Bill & Brod, Kugadaikan Cintaku-nya Gombloh, Berdiri Bulu Romaku-nya Hetty Koes Endang, hingga lagu kebangsaan Indonesia Raya (walau hanya intro-nya saja)?
Gw dan istri gw baru mengalaminya kemarin siang di The Rocks, sebuah restoran yang berada di daerah Surabaya Barat.
Sekarang gw jadi tahu arti “Feel 100% OZ with Our Australian Standard” yang dipasang resto itu di mana-mana…