Ada fenomena yang cukup menarik saat berlangsung Bincang Fotografi (@ HRFM Surabaya) edisi 3 April 2007 lalu yang menghadirkan Richard, perwakilan dari Sony Ericsson (SE). Seharusnya topik pada saat itu adalah soal ponsel kamera namun yang terjadi adalah topik jadi bergeser seputar produk dari produsen ponsel itu…
He he he ![]()
Gimana gak, rata-rata pertanyaan yang masuk dari pendengar justru berkisar seputar produk keluaran SE ketimbang soal ponsel kamera pada umumnya. Misalnya, ada yang bertanya soal beda ponsel SE K790 dan K800, fitur kamera di seri W yang gak selengkap seri K, fitur terbaru ponsel kamera SE, hingga soal T610 yang udah jadul. Itu belum termasuk sederet pertanyaan via SMS yang juga banyak bertanya soal produk SE. *gedubrak*
(more…)


Adakah produsen dan atau toko kamera yang jujur? Itulah pertanyaan yang sempat terlontar di Bincang Fotografi @ HRFM Surabaya edisi 27 Maret 2007 lalu saat membahas topik “Memilih Kamera Saku Digital” bersama narasumber Argo dari Sentra Digital dan Chandra dari Fujifilm.
Pertanyaan itu muncul karena melihat ulah sejumlah produsen yang seringkali memunculkan berbagai istilah yang terkesan wah tapi ujung-ujungnya hanya merupakan akal-akalan saja. Apalagi tanpa disertai penjelasan yang memadai.
Lihat saja. Berapa banyak produsen yang menyertakan penjelasan beda antara istilah digital zoom dan optical zoom atau perbedaan ‘resolusi interpolasi’ dan ‘resolusi efektif’ ketika mencantumkan istilah-istilah itu pada produk yang mereka tawarkan? ![]()
Begitu juga dengan istilah image stabilization yang belakangan ini semakin ramai digunakan oleh berbagai produsen kamera saku digital. Berapa banyak produsen yang secara jujur mengakui kalau istilah image stabilization yang dipakainya hanyalah suatu fitur untuk menaikkan ISO secara otomatis agar diperoleh kecepatan rana yang lebih tinggi? Berapa banyak penjaga toko kamera yang mau ngasih tahu dengan jujur mana produk yang punya fitur image stabilization atau antishake bohong-bohongan dan mana yang betulan? ![]()
Tadi pagi mendengar kabar dari siaran radio bahwa Chrisye telah meninggal dunia membuat gw terkejut dan sedih.
Chrisye adalah salah satu penyanyi favorit gw sejak gw masih duduk di bangku SD.

Seingat gw, pada waktu itu gw sempat membeli beberapa album dari penyanyi yang bernama asli Chrismansyah Rahadi itu. Di antaranya, Nona Lisa, Jumpa Pertama, dan Pergilah Kasih. Sementara albumnya di tahun 2000an yang gw beli adalah Dekade.
(more…)
Mungkin ‘biaya terselubung’ kurang pas mewakili “sesuatu biaya yang dikenakan kepada gw tanpa konfirmasi sebelumnya dan gw sendiri tidak memperoleh manfaat atau keuntungan dari biaya tersebut,” namun gw belum punya istilah lain menyangkut kejadian yang gw alami di Johnny Andrean Salon, Supermall Pakuwon Indah, Surabaya pada Minggu sore lalu (25/3).
Usai rambut gw dipotong, gw menuju kasir. Katanya, total yang harus gw bayar adalah sebesar 32ribu rupiah. Setelah uangnya gw berikan, kasir salon tersebut menyerahkan secarik kertas yang berisi perincian biaya layanan. Sekilas gw menemukan ada yang aneh dalam struk itu. Apakah itu?
“Lho, kok ada biaya blow padahal tadi rambut saya tidak di-blow?” tanya gw.
“Itu sudah paket, Mas,” kata si kasir dengan tenangnya.
(more…)