Benny Chandra dot com

blogging without tagline since 2001

Dave Koz & Patti Austin

@ Java Jazz Festival, Jakarta.

Nathan King (Level 42)

@ Level 42 Indonesian Tour, Surabaya.

Jamie Cullum

@ Java Jazz Festival, Jakarta.

Archive for the ‘Books’ Category

Tuesday
Oct 5,2004

Rabu kemarin, teman gw cerita kalo bentar lagi di Surabaya bakal hadir toko buku baru di Go Skate, Surabaya! Gw terpana. Hah? di Go Skate? :shock: Gak salah? Iya, bahkan ada cafenya segala, kata teman gw itu lagi. Ya udah, gw percaya deh… (meskipun dalam hati, gak bisa kebayang kok bisa milih Go Skate… secara gedung itu tergolong kumuh dan kurang nyaman gitu loh… :roll:).

Beberapa hari kemudian, terlihat sejumlah spanduk soal toko buku itu. Eh, ternyata bener juga soal toko buku tadi :P… Yang kebayang dalam otak gw, kayaknya toko bukunya bakal dibikin senyaman dan sebagus mungkin nih biar sebanding dengan ‘perjuangan’ para pengunjungnya yang harus ke Gedung Go Skate… :wink:
Akhirnya, bareng Ady ‘HRFM’, semalam gw cabut ke toko buku yang punya nama lengkap Super Bookstore Toga Mas itu. Apalagi kebetulan katanya ada acara dialog bareng I Made Wiryana, seorang pakar Linux yang sedang berlibur dari kuliahnya di Jerman. Lumayan… Sekali dayung, dua tiga benua terlampauilah… :mrgreen:
Begitu masuk, langsung kelihatan kalau toko buku baru ini menempati satu lantai (lantai 2) sepenuhnya. Wah, gede juga. Tapi kok hawanya terasa panas ya? :roll: Ups, ternyata toko segede itu hanya mengusung puluhan kipas angin sebagai ‘pendingin’ ruangan! Tak ada AC!!! :evil: :cry: Waduh, plis deh! Iih, PEDE juga pemiliknya! :shock: Jadi penasaran, apa sih sebenarnya yang diandalkan?!!

Mungkin koleksi bukunya yang diandalkan? Okelah, mari kita lihat-lihat deh…:twisted: Begitu mulai lihat-lihat buku yang dipajang, sepertinya ada yang aneh dan tidak biasa nih… Gw baru sadar, ternyata di tempat itu pengelompokan buku diatur berdasarkan penerbit bukan per kategori seperti yang dilakukan di toko buku lain. Mungkin konsepnya mau meniru seperti di department store macam Matahari atau Rimo. Tetapi, itu kan pakaian di mana sudah banyak orang yang memang brandminded. Namun, kalau diterapkan dalam jualan buku? Hmm, gw rasa sih belum saatnya. Apalagi warna dan model rak bukunya serta penataannya sendiri gak menarik. :razz:
Selain membingungkan, juga nampaknya pihak Toga Mas sendiri belum siap. Lihat saja, Ady nanya bukunya Kiyosaki aja, lama banget petugasnya nyari. Bayangin, petugasnya aja bingung nyari buku yang harusnya cukup popoler, gimana kalo yang nyari itu pengunjung?!! :roll: :razz:
Bener-bener PEDE deh! Good luck deh! Yang jelas, gw malas deh kalo mo ke sana lagi… :wink:
*pengen nyambit teman gw tadi, karena promonya jauh dari kenyataan* :twisted:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Friday
Sep 3,2004
Dolly Hitam Putih

Hitam putih memang biasanya dipilih dalam membuat rangkaian foto yang bercerita atau essay photo. Konon, hitam putih bisa lebih kuat dalam bercerita, tanpa terganggu dengan godaan berbagai macam warna lain. Seharusnya, tak salah seorang fotografer bernama Trisnadi memilih hitam putih untuk menampilkan foto-fotonya soal prostitusi, khususnya di lokalisasi Dolly (salah satu lokalisasi di Indonesia yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara) Surabaya, yang dirangkum dalam buku berjudul “Dolly Hitam Putih Prostitusi”. :wink:
Membuka halaman demi halaman buku setebal 72 halaman ini akan terkesan kalau sang fotografer tergolong cukup dekat dengan lingkungan beserta penghuninya yang sedang coba diceritakannya lewat rangkaian foto-foto hitam putih dan sejumlah puisi karya dari Dorothea RH. Kedekatan dengan objek yang difoto biasanya jadi salah satu kunci sukses dalam menghasilkan foto esai. Sang objek tidak akan malu-malu dalam berekspresi secara natural dan normal ketika difoto. Seharusnya ini merupakan modal yang sangat bagus…

Seharusnya pula buku yang diterbitkan GagasMedia ini bisa disebut sebagai suatu terobosan dan alternatif di tengah serbuan buku-buku bergenre chicklit atau liputan berbau kehidupan seksual ala Jakarta Undercover-nya Emka. Terobosan karena terbilang jarang ada buku lokal dengan menu utama berupa karya fotografi, hitam putih pula. Seharusnya bisa tampil menggigit… :cool:
Sayangnya… tidak begitu. :neutral: Sayangnya foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini -meskipun hitam putih- terkesan kurang kuat, sehingga tidak bisa bercerita banyak tentang Dolly dan penghuninya dalam keseharian secara utuh. Hanya sepotong-sepotong. Apalagi beberapa kali ada pemuatan foto yang hampir sama. Apalagi banyak yang ditampilkan dalam ukuran kecil…

Dan satu hal yang sangat mengganggu dari sudut sebuah karya foto adalah adanya coretan sepidol berwarna perak untuk menutupi wajah-wajah orang yang ada dalam foto dan itu dilakukan pada hampir semua foto yang ditampilkan! Sangat mengganggu! :mad:
Mungkin pencoretan itu punya niat baik, dalam hal melindungi privacy objek yang di dalam foto itu. Mungkin begitu, tetapi untuk sebuah buku yang menawarkan foto-foto sebagai menu utama, jelas sangat mengganggu. Kalau memang niatnya melindungi privacy objek atau orang-orang di lingkungan, seharusnya sudah sejak pemotretan hal itu dilakukan. Sebagai seorang fotografer yang sudah berpengalaman, seharusnya Trisnadi sangat tahu akan teknik-teknik untuk itu. Menyamarkan identitas orang yang dipotret tanpa merusak nilai dan cerita sebuah foto hitam putih… :wink:
Di samping itu, pemuatan sebuah tulisan mengenai curhat provokator berjudul “Seorang Provokator dan Seorang Pelacur” dalam buku ini terasa dipaksakan untuk dikaitkan dengan soal prostitusi. Apakah tidak ada tulisan lain ya? Haruskah memuatnya? :twisted:
Oh ya, kalau hanya lihat dari covernya, sepertinya pembeli buku ini tidak akan menyangka kalau ternyata isinya berupa foto-foto dan puisi. Bukan tulisan berbentuk liputan soal kegiatan prostitusi di Dolly… :roll:
(thanks buat Lucky yang sudi ‘meminjamkan’ buku ini… [puas loe?! :P] Thanks ya! :P)

Meta


Recent Comments

    dannis: Bapak sering tuch makan2, apa [...]

    onnosz: Dan kuakui tanpa kemunafikan.. Bang Iwan [...]

    nesha: om saya mau mnta obat [...]

    Fazri: Mba,mas sekalian, Kalo mau withdrawn boleh [...]

    Ben: prast, maaf saya kurang tahu. [...]

    prast: terbit nyampe Batam ga ya [...]

    Ben: Justin, aku blm sempat nonton [...]