
Pernah gak berada dalam sebuah restoran yang hampir semua jenis makanannya terasa asing? Gw pernah dan itu terjadi hari Minggu kemarin (2/7).
Sekitar seminggu yang lalu gw terpilih sebagai salah satu penanya yang beruntung dalam talk show JW Marriott di Hard Rock FM Surabaya. Hadiahnya adalah undangan menikmati Sunday Brunch di Imari, JW Marriott Surabaya untuk dua orang. Asyik, bisa MAKAN-MAKAN™ (Thanks to JW Marriott & HRFM!) ![]()
Setelah sehari sebelumnya melakukan konfirmasi, akhirnya baru hari Minggu kemarin gw dan istri bisa datang ke japanese restaurant itu. Jam 11 lebih sedikit kita sudah tiba di hotel. Saat konfirmasi, oleh manajernya gw udah diwanti-wanti agar datang kurang dari jam 11 siang biar tidak sampai harus antri.
Secara gw dan istri tergolong bukan penggemar masakan Jepang, menikmati hidangan buffet bernuansa Jepang di Imari merupakan pengalaman tersendiri. Bahkan sempat gw agak kuatir jangan-jangan semua masakannya serba mentah kayak sushi dan sebangsanya. Hiii…
Untunglah kekuatiran gw tidak terbukti
(more…)

Hari Minggu kemarin (15/01), gw dan istri mencoba makan di gerai cabang American Grill yang baru buka di Tunjungan Plaza 3, Surabaya. Begitu masuk, kasir yang ada di dekat pintu mempersilakan untuk langsung memilih menu. Sambil membolak-balik lembaran menu, gw coba bertanya ke petugas kasirnya mengenai menu favorit. Biasanya di resto-resto ternama pada umumnya ketika kita menanyakan item menu mana yang favorit, kita akan diberitahu item mana yang biasa dipesan pengunjung. Tetapi tidak demikian dengan jawaban dari si petugas kasir. Setelah menunjuk salah satu menu, ia kemudian melanjutkan dengan menunjuk menu-menu lain sambil mengatakan ini enak… itu juga enak. Halah, jawaban basbang nan kampungan! ![]()
Akhirnya gw dan istri memutuskan memesan Boneless Ribs dan BBQ Chicken. Untuk minumnya, kita maunya hanya pesan air mineral saja tetapi pada item “Tea” terbaca kalo ada free refills. Gw konfirmasi ke kasirnya, diiyakan sambil kasirnya menambahkan kalo untuk refill-nya tersedia pilihan teh hangat, es teh, dan lemon tea. Mendengar tawaran begitu, gw jadi tertarik untuk memesan “Tea” yang langsung dicatat oleh kasirnya. Saat itu gw sempat bilang, “Tehnya minta yang dingin.”
Sambil menunggu pesanan steak datang, kita berdua sempat mencicipi salad bar, fruit, dan es krim yang tersedia. Minuman yang kita pesan pun tak lama kemudian datang. Ternyata teh yang disajikan adalah teh celup hangat. Saat itu gw gak langsung protes karena gw pikir gak apa-apalah, toh kalo entar habis gw bisa minta diisi es teh secara gratis, sesuai penjelasan kasir di depan tadi. Tapi ternyata kenyataannya tidak demikian!
(more…)

Minggu kemarin gw dan istri sebelum jalan-jalan di PTC/Supermal, menyempatkan mampir di Bebek Goreng/Bakar Brooodhin yang berada di pinggir jalan Kupang Jaya, Surabaya. Mumpung sama dengan PTC/Supermal yang ada di daerah Surabaya Barat juga ![]()
Gw dan istri dapat info soal warung ini dari seorang teman yang istrinya kerja di daerah dekat situ. Katanya lumayan dan cukup murah.
Melihat di spanduknya tercantum menu bebek bakar, gw jadi pengen nyoba. Tapi pas dipesan katanya versi bakarnya belum siap. Kalau tetap ngotot pengen yang bakar, bakal nunggu lama. Ya udah, akhirnya pesan dua porsi yang versi goreng aja.
Begitu pesanan datang, gw sempat takjub lihat ukuran potongan bebek goreng yang gw pesan! Gede banget! Mungkin dua kali ukuran bebek goreng pada umumnya. Gw langsung bersemangat! ![]()
Begitu gw mulai ‘membedah’nya… ugh! Ternyata alot! Jadi rada susah makannya. Harus butuh perjuangan! Untunglah cita rasanya masih bisa dinikmati meskipun gw tetap lebih suka Bebek Goreng Papin yang ada di daerah Kalianyar.
Selain ukurannya yang lebih gede, keistimewaan bebek Brooodhin ini ada pada pilihan sambelnya. Di meja tersedia dua macam sambel. Yang pertama adalah sambel biasa yang umumnya diberi kecap manis dulu, sementara yang kedua adalah sambel yang tidak perlu dicampur dengan kecap manis. Jenis sambel yang kedua ini sekilas mirip sambel ala Bali dengan warna lebih gelap. Rasanya? Berhubung gw bukan penikmat sambel yang baik, menurut gw sih sekilas lebih pedas!
Oh ya, sebenarnya ada juga sambel pencit (mangga muda) yang sudah langsung disertakan di atas nasi yang kita pesan. Buat penggemar sambel, hal ini tentu sangat menyenangkan ![]()
Saat membayar, gw juga dibikin rada takjub dengan harganya. Ternyata satu potong bebek goreng tadi beserta sepiring nasi putih harganya 8000 rupiah! Bagi gw harga segitu tergolong murah meriah, apalagi mengingat gedenya dan pilihan sambelnya yang bervariasi itu. Lumayan buat alternatif kalo lagi lapar berat! ![]()

Minggu kemarin, setelah motret acara kawinannya Rezi, gw dan istri menyempatkan diri untuk muter-muter Malang. Rada nekat sih, karena gak tahu seluk-beluknya. Gak heran sampai harus berputar-putar beberapa kali untuk bisa ke tempat yang ingin kita singgahi. He he he… ![]()
Salah satunya tempat yang kita singgahi adalah Toko Oen, yang terkenal sebagai sebuah rumah makan kuno peninggalan jaman penjajahan Belanda. Letak Toko Oen ini berada di jalan Basuki Rahmat, depan McD Sarinah Malang dan bersebelahan dengan Gramedia.
Sebenarnya menu rumah makan ini cukup banyak, mulai dari steak hingga es krim. Namun, karena masih kenyang lantaran sebelumnya sudah makan di pesta kawinannya Rezi ditambah mampir makan Cwi Mie (yang tidak terlalu istimewa), akhirnya kita hanya pesan es krim Oen Special. Sambil menunggu pesanan itu diantar, gw coba melihat sekeliling.
Memang suasana kuno masih terasa di sana sini. Di salah satu pojok ruangan terdapat piano dan radio kuno. Radionya berukuran cukup gede. Para pelayannya mengenakan seragam putih-putih model jaman dulu, sayang tampang-tampang mereka rada-rada serem… he he he ![]()
Sambil menunggu juga, Istri gw sempat beli roti keju yang dijual di situ. Rasanya? Biasa aja tuh. Beberapa menit kemudian akhirnya pesanan es krim kita datang. Begitu mencicipi, langsung terasa kalau susu yang digunakan kurang banyak sehingga rasa dinginnya es yang lebih mendominasi. Gw dan istri tidak menemukan keistimewaan dari sajian es krim itu… ![]()
Sudah gini, mungkin lain kali kalo ke tempat itu kudu nyoba makanannya atau ya nikmati saja suasananya… ![]()
Selama ini gw pikir aturan last order hanya diterapkan oleh resto atau cafe yang nota bene menawarkan beragam menu hidangan yang butuh waktu khusus untuk memasaknya. Dengan demikian, pihak pengelola masih punya waktu yang cukup untuk menyajikannya tanpa harus memperpanjang jam tutup. Berbeda dengan tempat makan yang mengandalkan menu junk fast food, yang biasanya sudah siap saji tentu tidak perlu waktu lama untuk menyajikannya kepada pembeli. Namanya juga fast food, agak aneh dong kalo ada aturan last order ![]()
Senin kemarin, setelah nonton “Mr. & Mrs. Smith” di Galaxy 21, gw mampir di KFC cabang Mal Galaxy yang berada di lantai 1 gedung yang sama. Kebetulan gw lihat masih buka dan di luar juga masih hujan. Sambil menunggu (more…)
Sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Surabaya yang hari ini (31 Mei) berulang tahun ke-712, tetap saja hingga sekarang gw masih bingung apa sebenarnya oleh-oleh khas Surabaya yang bisa diberikan kepada keluarga atau kenalan yang berkunjung. Gw tetap gak tahu apa yang bisa dibawa untuk dibanggakan sebagai buah tangan dari Surabaya ketika mengunjungi keluarga atau teman di kota lain ![]()
Tentunya bentuk oleh-oleh yang gw maksud bukan berupa makanan basah, tetapi makanan kering atau barang yang bisa diidentikkan dengan kota Surabaya. Kira-kira sejenislah dengan kaos Joger, sosis Titiles, kacang Bali dari Bali, bakpia pathok dan kaos Dagadu dari Jogja, molen dari Bandung, sirup markisa dari Makassar, bagea dari Ternate, dan kain Karawang dari Gorontalo.
Selama ini, biasanya gw hanya membawakan sejenis camilan dan makanan kering seperti kerupuk belinjo, kerupuk udang, kripik belinjo, udang “Bu Rudy”, dan kue belinjo “Anda” atau “88″. Padahal kalo ditelusuri lebih lanjut, setahu gw, jenis camilan seperti kerupuk belinjo dan kerupuk udang berasal dari Sidoarjo. So, bisa dibilang mungkin hanya dua nama terakhir yang termasuk produk buatan Surabaya. Hiks…
Gw sendiri masih kurang sreg mengusung keduanya sebagai oleh-oleh khas Surabaya… ![]()
Hmm, mungkin ada yang bisa ngasih tahu gw apa sebenarnya oleh-oleh khas Surabaya? ![]()

Awal bulan Mei kemarin, gw dan istri nyoba makan di Restoran Kampoeng Bamboe yang ada di jalan Dharmahusada, Surabaya. Sebelumnya sih sudah pernah ke situ, tetapi waktu itu hanya mencoba menu sarapan paginya yang ditawarkan di bagian depan restoran itu setiap paginya. Katanya yang mengelola menu sarapan pagi lain dengan menu malamnya. Agak aneh kedengarannya, tapi… oke deh. Apalagi ada rekomendasi dari temannya istri gw. So, mari kita coba.
Pas markir mobil, gw sempat lihat sekelilingnya terdapat cukup banyak pohon bambu. Sekilas terlihat cukup menarik. Hmm, berusaha menghadirkan suasana alamkah? Begitu gw masuk ke dalam restorannya, bayangan suasana alam itu langsung buyar!
Ternyata interior di dalamnya kurang ditata dengan baik sehingga ‘kurang nyambung’ dengan pohon-pohon bambu yang dihadirkan di sekitar taman dan parkiran… Sayang…
Sementara dari sederet menu seputar seafood dan makanan berbau Manado yang ditawarkan, kita memesan Patin Woku dan Sayur Pait. Masakan woku terkenal sebagai masakan khas Manado. Untuk minumnya, gw pesen Es Kacang Merah yang katanya pakai durian! ![]()
Di tempat itu, masakan woku sebenarnya pilihan yang tersedia gak hanya Patin, ada juga Gurami Woku dan (kalo gak salah ingat) Bandeng Woku. Namun karena sang pemberi rekomendasi hanya menyebut “Woku Patin dan Sayur Pait” sebagai menu yang kudu dicoba, ya coba kita turuti. Sebenarnya, sesaat setelah mesan, gw ingin ganti jadi Gurami Woku aja yang harganya lebih murah. Tapi ternyata gak bisa diganti lagi… *ngomel-ngomel dalam hati sambil menatap harga Patin Woku yang limapuluhan ribu per porsi :sad:*
(more…)