





The Pledge, The Turn, dan The Prestige. Itulah tiga bagian utama dalam bersulap yang disampaikan Harry Cutter (Michael Caine) sebagai pembuka dan penutup film arahan Christopher Nolan ini. Diangkat dari novel berjudul sama karangan Christopher Priest, The Prestige berkisah soal sisi gelap dunia sulap di Inggris jaman tempo doeloe yang tergambar lewat persaingan penuh dendam antara dua pesulap, Alfred Borden (Christian ‘Batman’ Bale) dan Robert Angier (Hugh ‘Wolverine’ Jackman).
Awalnya, di bawah pengawasan Cutter, Borden dan Angier sama-sama bekerja pada Milton the Magician (Ricky Jay). Mereka berdua berperan sebagai penonton bohongan yang pada saat pertunjukan akan mengikat Julia (Piper Perabo), istrinya Angier. Setiap pertunjukan, sebagai asisten si pesulap, Julia harus segera melepaskan ikatan dan membuka kunci rahasia dari tabung air begitu ia dicemplungkan agar bisa tampil dengan selamat di hadapan penonton. Suatu hari, Julia tidak berhasil membuka ikatan yang dibuat oleh Borden sehingga menyebabkan dirinya tewas. Ketika ditanya Angier soal jenis ikatan yang digunakan, Borden mengaku lupa. Angier pun menjadi murka. Sejak itulah persaingan di antara mereka dimulai.
Setelah menikahi Sarah (Rebecca Hall), Borden menggunakan nama panggung “The Professor” dan didampingi seorang manajer teknis bernama Fallon. Sementara Angier mengusung nama “The Great Danton” dengan dibantu Cutter dan seorang asisten cantik bernama Olivia Wenscombe yang diperankan oleh Scarlett Johansson. Meskipun terkesan hanya sebagai pemanis namun kehadiran Scarlett cukup menyita perhatian. Sempat terpikir, biar lebih maksimal dan makin dramatis, sebenarnya bisa saja tokoh Olivia dan Sarah diperankan olehnya secara bergantian
(more…)







Kalau ditanya apa yang menonjol dari film The Departed yang merupakan remake dari film Hong Kong berjudul Infernal Affairs ini, mungkin jawabannya adalah nama-nama kondang, tembakan, dan makian (termasuk kata-kata vulgar). Selain itu, rasanya tidak ada.
Makian memang menjadi hal yang cukup dominan dalam film arahan Martin Scorsese ini. Bagi yang tidak terbiasa mendengar makian atau kata-kata rada vulgar, menonton The Departed bisa jadi bakal merasa kurang nyaman. Pasalnya, berbagai makian dan kata-kata vulgar berhamburan sepanjang film. Apalagi ada yang diterjemahkan segala. Meskipun begitu, beberapa kali makian bernada sarkas yang dilontarkan Dignam (Mark Wahlberg) sebenarnya justru mengundang senyum.
Berkisah soal nasib berbeda yang dialami dua lulusan akademi polisi Colin Sullivan (Matt Damon) dan Billy Costigan (Leonardo DiCaprio), rasanya The Departed bukanlah sebuah film yang menarik bagi penggemar film yang mementingkan detilnya jalan cerita ketimbang taburan bintang-bintang kondang. Begitu diterima menjadi polisi di Massachusetts State Police, karir Sullivan langsung menanjak dengan cepat padahal seorang mafia bernama Frank Costello (Jack Nicholson) berada di baliknya. Costellolah yang mendidik Sullivan sejak kecil dan sengaja memasukkannya ke lingkungan kepolisian sebagai mata-matanya. Dan Sullivan semakin beruntung karena mendapat atasan yang kurang pintar, Ellerby (Alec Baldwin), sehingga berbagai tindakannya tidak langsung dicurigai ketika muncul dugaan adanya mata-mata dalam tubuh kepolisian. Urusan menggoda cewek juga bisa dilakukan dengan mudah, termasuk mengajak kencan psikiater kepolisian Madolyn (Vera Farmiga).
Nasib berbeda dialami Costigan, yang terlihat kurang cocok diperankan oleh Leonardo. (more…)





Sabtu malam kemarin (9/9), kebetulan gw sempat menyaksikan sinetron baru di RCTI berjudul DTK “Dunia Tanpa Koma”, yang digembar-gemborkan sebagai sebuah sinetron yang menjanjikan. Dilihat dari pendukungnya memang cukup menjanjikan. Mulai dari artis pendukungnya sampai penulis skenarionya, semuanya memang nama-nama kondang. Lihat saja yang sudah tampil dalam episode pertama kemarin itu, ada Dian Sastro, Fauzi Baadila, Tora Sudiro, Surya Saputra, Didi Petet, Slamet Rahardjo, Wulan Guritno, Indra Birowo, Cut Mini, dan Donny Damara. Itu masih ditambah dengan sederet nama terkenal lain macam Leila S. Chudori (penulis skenario), Leo Sutanto (produser), dan Maruli Ara (sutradara). Kurang? ![]()
Ya, kurang Nicholas Saputra, Rachel Maryam, dan Aida Nurmala! Kenapa? (more…)






Kembali penonton Indonesia mendapat kesempatan pertama menonton film Hollywood terbaru. Lebih duluan satu hari ketimbang jadual rilis internasional, Miami Vice sudah diputar di bioskop di Indonesia mulai 27 Juli 2006 kemarin. Dengan ‘kesempatan’ yang tidak dimiliki oleh setiap film asing yang masuk ke Indonesia, seharusnya film adaptasi dari serial tv tahun 80an itu menjanjikan sesuatu yang menarik. Setidaknya lebih baik dari versi televisinya. Namun, nampaknya tidak demikian.
Setelah 135 menit berlalu tetap saja masih sulit menemukan apa yang bisa diandalkan dari film besutan Michael Mann ini selain ‘merek’ Miami Vice dan Michael Mann sendiri. Nostalgia? Lupakan saja. Karakter dua detektif yang bergaya glamour dan flamboyan yang selama ini identik dengan Don Johnson dan Philip Michael Thomas agak susah ditemui pada penampilan Colin Farrel dan Jamie Foxx yang berperan sebagai James “Sonny” Crockett dan Ricardo “Rico” Tubbs. Sudah gitu, sebagai Sonny, Colin terlihat gendut dan tanpa jas putih ‘kebangsaan’ pula. Padahal di serial tv-nya, sosok yang biasanya terlihat lebih ‘berisi’ itu justru Rico, bukan Sonny. (more…)






Terinspirasi dari judul artikel Lois Lane (Kate Bosworth) berjudul “Why the World Doesn’t Need Superman” yang dalam film Superman Returns disebutkan memenangkan penghargaan Pulitzer Prize, memunculkan ide soal judul “5 Alasan Mengapa Kita Tidak (Terlalu) Butuh Superman Returns“. Apa saja itu? Tunggu dulu.
Sebelum melangkah lebih jauh, asal tahu saja, jika dilihat sesuai urutannya, seharusnya Superman Returns merupakan kelanjutan dari film Superman terakhir yang dimainkan oleh Christopher Reeve, Superman IV: The Quest For Peace. Namun pada kenyataannya tidak demikian. Film kali ini justru lebih berkaitan dengan Superman (1978) dan Superman II (1980). Saking eratnya, beberapa adegan di Superman Returns jadi terkesan seperti pengulangan dari dua film pertama Superman itu. Remake? Tidak persis sih. Prekuel dari Superman III? Sepertinya tidak. Bingung? Ya udah, mari kita lihat saja kelima alasan itu.
(more…)






Sepertinya penonton film di Indonesia semakin sering memperoleh kesempatan lebih dulu menikmati film-film unggulan rilisan terbaru Hollywood, minimal bersamaan. Yang terbaru adalah X-Men: The Last Stand, di mana Indonesia mendapat giliran pemutaran mulai 24 Mei 2006, berbarengan dengan Philipina, Swedia, dan Perancis, tetapi sehari lebih cepat dibandingkan dengan Australia, Malaysia, Singapore, Hong Kong, Jerman, dan Thailand. Bahkan dua hari lebih cepat daripada jadual rilis di Amerika, Brazil, dan Italia.
Membahas X-Men: The Last Stand tanpa lepas dari spoiler, rasanya agak sulit. Yang jelas, dalam bagian ke-3 trilogi X-Men ini, rentetan tragedi menyelimuti para mutan, baik anggota X-Men pimpinan Charles Xaviar Xavier alias Professor X (Patrick Stewart) maupun Brotherhood of Mutants-nya Magneto (Ian McKellen). Bisa dibilang inilah film X-Men paling kelabu, penuh kesedihan. Akibat dari rentetan tragedi itu, nama-nama seperti Cyclops, Jean Grey, Mystique, bahkan Professor X dan Magneto mungkin tidak bakal ditemui lagi seandainya film waralaba keluaran Marvel ini akan dibikin lanjutannya. Sekali lagi, mungkin lho. Ups, spoiler-nya terlalu banyak ya? He he he ![]()
Diawali dengan keadaan Scott alias Cyclops (James Marsden) yang masih depresi memikirkan kematian Jean Grey (Famke Janssen) di X2. Dia tidak bisa melatih anak-anak mutan bareng Storm (Halle Berry) di ruang latihan simulator, Danger Room, sehingga harus digantikan Logan alias Wolverine (Hugh Jackman). Mengetahui hal itu, Professor X tidak lagi berharap Cyclops dapat menggantikannya kelak. Adalah Storm yang kini dianggap sebagai kandidat kuat.
Dibayangi-bayangi panggilan suara Jean, membuat Cyclops pergi ke danau tempat Jean terbunuh. Tak disangka, di tempat itu tiba-tiba muncul Jean. Jean bangkit dari kematian! Sayangnya Jean yang sekarang bukan Jean yang dulu. Kali ini bukannya menghapus kesedihan Cyclops, dengan munculnya kepribadiannya sebagai Phoenix yang kekuatannya sangat besar, dia malah membawa bencana besar untuk suaminya!
(more…)
Kepada
Yth. Pengelola Stasiun TV Swasta
cq Direktur Program
di seluruh Indonesia
Dengan hormat,
Bersama ini saya mengajukan permintaan agar 20 film yang tercantum di bawah ini untuk tidak lagi diputar atau ditayangkan di stasiun televisi tempat Anda bekerja, setidaknya dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Hal ini dikarenakan keduapuluh film tersebut sudah demikian seringnya diputar di televisi-televisi swasta di Indonesia atau meminjam istilah muda-mudi jaman sekarang: BASBANG.
Adapun 20 Film Terbasbang di TV Swasta Indonesia yang saya maksud adalah: (more…)