A robot may not harm a human or, by inaction, allow a human being to come to harm.
A robot must obey orders given it by human beings except where such orders would conflict with the first law.
A robot must protect its own existence as long as such protection does not conflict with the first or second law.
Well, hari libur kemerdekaan kemarin akhirnya gw bisa nonton film I, Robot juga setelah beberapa kali rencana nonton gagal terus…padahal udah pengen segera nonton film lain abis liat Catwoman yang kurang sip (baca: mengecewakan) itu!
Ada dua sih yang gw incer, I, Robot dan The Bourne Supremacy… Tapi, I, Robot dulu deh… takut keburu gak main lagi… ![]()
SPOILER ALERT! Film bersuasana tahun 2035 dan diangkat dari novelnya Isaac Asimov ini punya settingnya asik… pencahayaannya juga oke… Yang paling bikin gw terkesan adalah pas diliatin gimana mobil diparkir pada masa itu… yaitu, dijejer dengan posisi moncong mobil berada di bawah… bagus juga tuh idenya untuk menghemat luas parkiran…
Belum lagi model robotnya yang unik dan keren… ditambah dengan penggunaan teknologi CGI (Computer Generated Imagery) terhadap si robot bernama Sonny yang membuat gerakan dan mimiknya menjadi manusiawi (secara memang ada aktor beneran -Alan Tudyk- yang memerankannya) … sempat juga ada adegan si Sonny meloncat bergaya bullet-time effect ala Matrix… wuih..
FYI, kabarnya sih tingkat penggarapannya sama dengan tokoh Gollum di LoTR lho… ![]()
Walaupun begitu, ketika sedang mengagumi settingnya, tiba-tiba gw teringat dengan film Minority Report… nuansanya terasa sama lho… Di lain sisi, gw juga merasa cerita yang diusung oleh film yang disutradarai Alex Proyas (sutradara The Crow juga) itu meskipun cukup seru namun kurang kuat. Apalagi kalau dilihat sebagai film yang mengusung persoalan robot.. Bisa dibilang, film tersebut kurang kuat dalam menawarkan variasi cerita agar tampil jauh berbeda dengan film-film soal robot yang sudah pernah ada… Asal tahu aja, mengusung tema robot yang manusiawi sudah pernah dilakukan oleh Artificial Intelligence (2001) dan Bicentennial Man (1999) (ups, cerita Bicentennial Man ternyata bersumber pada penulis novel yang sama dengan film I, Robot… Isaac Asimov! :mrgreen:)
Selain itu, dalam ceritanya beberapa hal yang rasanya kurang pas. Seperti soal ketidaksenangan yang sangat oleh sang tokoh John Spooner (Will Smith) terhadap robot, diceritakan ‘hanya’ lantaran kecewa karena dalam sebuah kejadian, sebuah robot tidak menolong anak kecil yang mau tenggelam. Begitu juga soal siapa yang menjadi dalang di balik ‘pemberontakan’ para robot yang menjadi mimpi buruk para warga kota. Agak mudah ditebak, meskipun sempat diarahkan bahwa pelakuknya adalah bos dari perusahaan pembuat robot itu. Adegan yang ditampilkan di akhir film di mana digambarkan si robot Sonny sebagai ‘pemimpin’ para robot juga terkesan terlalu dibikin dramatis, maksa, dan kurang bermakna… ![]()
Overall, film itu tergolong asik dan recommended, terutama buat yang kecewa dengan Catwoman, kayak gw
Bisa dibilang, I, Robot merupakan sebuah tontonan yang cukup menyenangkan bagi yang gila dengan film-film berbau sci-fi (science fiction)
Di samping itu, boleh juga tuh jadi semacam warning agar ada langkah antisipasi terhadap ‘pemberontakan’ robot di kemudian hari kelak…. Males banget ‘kan kalo suatu hari tiba-tiba kita disekap dalam rumah sama robot dan dikenai jam malam segala… what a nightmare!!! No, thanks!
![]()

Sekali lagi terbukti bahwa dukungan nama-nama terkenal bukanlah jaminan kebagusan sebuah film! Itulah yang terjadi dengan Catwoman! ![]()
Lihatlah, dari nama-nama aktris pendukung, film itu cukup meyakinkan. Setidaknya ada dua artis papan atas macam Halle Berry dan Sharon Stone serta masih ditambah oleh Benjamin Bratt dan Lambert Wilson. Namun begitu Sabtu (7 Juli 2004) kemarin nonton midnite film itu, ternyata tidak sebagus yang gw perkirakan. Malah cenderung mengecewakan dan tanpa greget!
![]()
Ada beberapa hal yang bikin film itu jadi gak asik ditonton. Salah satunya adalah soal permainan kamera yang memusingkan mata, terutama pas adegan kejar-kejaran dan berkelahi. Gerakan kamera yang dipakai untuk membuat film itu terlalu cepat, terlalu ‘digoyang’ ke sana-ke mari, dan perpindahan view kamera dari sudut satu ke sudut lain kurang smooth. Serasa dipaksa nonton video klip musik aja! ![]()
Dalam hal cerita juga kurang greget. Awal filmnya aja, yang dibuka dengan kilasan-kilasan soal sejarah kucing Mau keturunan Mesir, termasuk udah cukup bertele-tele. Terkesan mengulur-ngulur waktu aja! Penggarapan konflik juga kurang seru. Sudah gitu, tokoh yang dimunculkan sebagai musuh Catwoman kali ini juga tidak meyakinkan, terlalu sepele untuk ukuran seseorang yang punya kelebihan super seperti Catwoman. Bukan kelasnyalah! Bahkan, menurut gw yang sedikit konyol adalah ketika adegan perkelahian antara Catwoman dan Laurel (yang diperankan oleh Sharon Stone). Di situ kesannya ilmu berkelahi si Laurel cukup tinggi, bolak-balik ia bisa menghajar Catwoman dan bahkan sempat hampir sukses mendorongnya jatuh dari gedung! Padahal sebelumnya tidak ada tanda-tanda kalau si Laurel itu seorang jagoan hantam-hantaman. Tidak ada juga adegan yang memperlihatkan si Laurel lagi latihan karate, misalnya… ![]()
Hal lain yang juga mengganggu adalah make up si Halle Berry pas udah dalam seragam Catwoman. Terlalu tebel, norak, dan gak berkelas… Iih!
Overall, bagi gw film itu, maaf aja, NOT RECOMMENDED!
Meskipun begitu, dalam hal jadual main, kita-kita di Indonesia bolehlah kembali sedikit berbangga! Kenapa? Karena jadual pemutaran Catwoman di Indonesia tergolong cepat lho, meskipun tidak termasuk dalam jadual resmi. Indonesia masih lebih cepat dari negara-negara seperti Singapore, Australia, Inggris, Perancis, dan Belanda!
![]()
Semoga aja 21 Cineplex bisa sukses terus dalam melobi jadual main untuk film-film ngetop berikutnya. Asal gak malu-maluin aja ya! Termasuk untuk urusan penulisan judul film di tiket masuk. Jangan seperti midnite kemarin yang sampai salah ketik. Udah jelas-jelas tertulis di poster, namanya Catwoman, eh di tiket masuknya malah tertulis Catwomen! Film soal rombongan kucing cewek ‘kali! Plis deh!
![]()

Agak aneh ya sistem pemutaran film di bioskop di Indonesia. Kadang jadual main sebuah film bisa berbarengan dengan jadual di bioskop negara-negara besar, tetapi tidak jarang sebuah film akhirnya main di bioskop-bioskop jaringan 21 setelah versi VCD / DVDnya sudah hampir dirilis atau malah sudah ada di toko-toko duluan… ![]()
Itulah yang terjadi dengan film Hellboy, yang menjadi pilihan Midnite Lovernya 89.7 HRFM Surabaya edisi Sabtu kemarin (24 Juli 2004). DVDnya udah mau dirilis 27 Juli 2004 besok, eh 21 Cineplex baru mau putar minggu ini….
Meskipun secara jadual pemutaran film itu tergolong super basi, untungnya kualitas film itu sendiri gak basi dan gak garing!
Awalnya, gw sempat under estimate terhadap film soal si Big Red itu. Gw tidak banyak berharap soal efek dan setting yang wah. Eh, ternyata… asik juga lho setting, efek, dan pencahayaan yang ada di film itu. Seru!
Di samping itu, gw masih punya beberapa catatan lain:
Mudah-mudahan sekuelnya yang akan dirilis tahun 2006 nanti bisa lebih baik! Gw tunggu lho!
![]()
Midnite Lover is back! Ya, acara nonton midnite rame-rame digelar lagi oleh Hard Rock FM Surabaya pada Sabtu kemarin (10 Juli 2004) yang kali ini dengan menggandeng salah satu provider jaringan CDMA. Bioskopnya tetap di Tunjungan Plaza. Seperti biasa, semua peserta mendapat bonus goody bag yang berisi gift dari sponsor. Untuk kemarin ‘hanya’ mendapat starter pack dan souvenir notes dan pulpen doang…. Ditambah ada games berhadiah.. Dibanding acara ML yang season sebelumnya sih, kali ini giftnya agak garing…. kalah banyak dan kurang asik…:sad: Yang dulu itu bisa dapat macam-macam, mulai dari soft drink, permen, biskuit, dompet, sampai radio FM scan segala! ![]()
Untunglah film Around the World in 80 Days yang jadi film pilihan Midnite Lover kemarin itu cukup menarik dan bisa bikin orang segedung ketawa terpingkal-pingkal sampai bubaran.
![]()
Untung pula di film itu ada Jacky Chen yang berperan sebagai Passepartout/Lau Xing. Untunglah film itu dipenuhi sederet bintang ngetop seperti Sammo Hung, Owen Wilson, Kathy Bates, sampai Arnold Schwarzenegger (meskipun rata-rata hanya tampil 5-10 menit). Untung juga film tersebut mengikuti pakemnya Jacky Chen sehingga jadi enak ditonton sebagai hiburan segar, meskipun jadinya film daur ulang itu agak sedikit melenceng dari film aslinya yang dibuat tahun 1956.
Gak kebayang deh gimana film itu tanpa Jacky Chen dan pakem kung-fu komedi yang jadi ciri khasnya… ![]()
Beberapa hari ini gw lagi bingung membedakan film dan movie. Kelihatannya sih artinya sama, tapi kok rasanya ada bedanya deh.. ![]()
Udah nanya dan googling sana-sini, tetap aja masih kurang memuaskan..:???: Om Stephanus Eko ngasih link ke artikel “So you’d like to… know the difference between movies and films?” Dalam artikel itu, si Chris Varnadoe bilang kalo Film itu adalah a work of art, most often having been made with this goal in mind. Sementara Movie adalah guilty entertainment, most often having been made for the sole purpose of making money…
So, baginya, Film adalah hiburan seni yang serius dan Movie hanya sekedar hiburan bertujuan komersil! Betulkah begitu? ![]()
Coba kita lihat apa yang dimuat di glossarynya Cinema Minima Forum…
Film:
Motion-picture recorded on chemical-based, analog medium e. g., Technicolor, Kodak 5247, etc. All films are movies, but not all movies are films.
Movie:
A motion-picture, without respected to recording medium, or way of distribution. A talkie is a kind of movie. A film is a kind of movie. A motion-picture recorded on digital video tape is properly called a movie, in the same way as one which has been recorded on film.
Hasilnya? Gw tetap BINGUNG!
Ada yang bisa bantu jelasin yang lebih komplit? ![]()
Hingga Selasa minggu lalu (29 Juni 2004), gw masih gak yakin kalau Spider-Man 2 bakal diputar di Indonesia sesuai jadual rilis internasional. Saat itu tertulis, jadual main Spider-Man 2 di Indonesia adalah 1 Juli 2004 (tadi gw cek lagi di situs yang sama, ternyata udah dikoreksi jadi 30 Juni! Grr..
:P). Ditambah, pas gw cek di situsnya 21 Cineplex gak ada tanda-tanda kalo film itu bakal main midnite dulu, seperti lazimnya film baru yang mesti melewati jadual midnite dulu baru main regular. Eh, gak tahunya, besoknya pagi-pagi gw diberitahu Mirza kalo filmnya udah main hari itu!!!
Surprised!!! ![]()
Wah, gak nyangka deh film sekelas Spider-Man 2 bisa milih Indonesia sebagai salah satu tempat pemutaran paling pertama bareng negara-negara seperti Amerika, Kanada, Australia, Philipina, dan Singapore. Padahal Jepang aja baru dapat kesempatan mutar film itu 10 Juli besok. Jadi terharu nih.. he he he
![]()
Gw sendiri pengennya nonton hari pertama, tapi baru bisa nonton kemarin… Gw milih nonton di Studio 21, PTC-Supermall yang berada nun jauh di Surabaya Barat sana… Begitu masuk ke lobinya buat beli tiket, wuih… udah penuh dengan antrian! Sambil sedikit kuatir gak dapat tiket, bergabunglah gw dengan antrian itu. Akhirnya, dapat juga tiketnya!!!
Hanya saja, yang posisi duduknya masih lumayan di atas tinggal yang pertunjukan jam 19.45, padahal saat itu masih jam 3-an sore! Gile gak!? Padahal yang mutar film itu ada Studio 1 dan Studio 2!
Puas-puas deh keliling PTC - Supermall bolak balik buat nunggu show yang jam 19.45 itu… ![]()
Sementara mengenai filmnya sendiri, asik banget! Meskipun di seri pertama dulu sisi kehidupan pribadi Spider-Man sebagai Peter Parker sudah dibahas, namun rupanya itu masih belum cukup. Sekuelnya kali ini tetap aja mengupas soal itu, bahkan lebih dalam dan cukup mendominasi jalannya cerita sejak film dimulai. It’s ok! Sah-sah aja sih sisi manusiawi seorang superhero dibahas mendalam… Bahkan mungkin hal itu bisa jadi pembeda dengan cerita superhero lain yang jarang-jarang ditampilkan sisi kegagalannya… Jadinya, sah-sah aja kalo tiba-tiba jaring laba-laba yang biasa ditembakkan dari pergelangan tangannya jadi macet gak mau keluar, sehingga sang super hero jadi jatuh terkapar… begitu juga kelincahannya untuk merayap di dinding gedung bertingkat yang ikut lenyap… atau sempat patah hati dengan Mary Jane (yang herannya kenapa masih diperani oleh Kirsten Dust yang kurang sip itu :twisted:) Pokoknya, kali ini sang superhero jadi membumi banget deh… ![]()
Walaupun demikian, film ini gak lantas terjebak dengan kesenduan dan nasib malang seorang superhero… Adegan seru ala Spider-Man yang bergelantung dari gedung ke gedung tetap saja masih jadi andalan yang menarik ditonton! Bahkan kali ini bisa dibilang lebih mendebarkan karena kadang-kadang (sengaja dibikin) hampir nabrak sesuatu! Namun dari semua itu, puncak keseruan dan titik utama kisah sekuel kali ini terletak pada adegan duel di atas kereta api antara Spider-Man dan Doc Oct yang dilanjutkan usaha sang superhero yang harus menahan laju kereta api yang remnya blong agar tidak jatuh ke laut ketika sampai di ujung rel yang masih belum selesai! Dan gara-gara adegan pada bagian ini, sambil meminjam istilah dalam kisah Harry Potter, gw jadi terinspirasi asik juga kali ya kalo sekuel kali ini mengusung sub-judul (ini bukan spoiler lho!) Spider-Parker: You Know Who! ![]()
Kenapa? Buktikan aja sendiri pas nonton! You will know why…
![]()
Nonton film di bioskop memang enak. Suaranya asyik dan layarnya gede. Namun, di samping itu ada juga gak enaknya. Setidaknya, ada 5 Hal Gak Enaknya Nonton di Bioskop yang bikin bete. Apa saja?
Seperti Kamis kemarin pas nonton LotR: The Return of the King di Mal Galaxy, ada orang di sebelah gue yang sering goyang-goyangin kakinya yang bikin sederet kena dampaknya.
Ganggu banget deh. Mo pindah tempat ke deretan lain, udah full house! Keasyikan menikmati settingnya LotR II yang asyik banget dan kolosal selama 3 jam itu jadi berkurang gara-gara si ‘kaki goyang’ itu. Mau ‘diikatin’ kakinya, om?! ![]()