Penonton Duduk dan Penonton Berdiri

Dalam beberapa konser yang sempat saya datangi belakangan ini, terlihat sejumlah orang lebih suka menonton sambil duduk, meskipun pihak penyelenggara tidak menyediakan kursi bagi penonton. Lantas, mereka duduk di mana? Di lantai.

Ada yang mengambil tempat di belakang, tetapi tidak sedikit juga berada di barisan depan.

Cukup sampai di situ? Tidak.

Rupanya mereka yang duduk itu ingin penonton lain juga harus ikut seperti mereka. Akibatnya, setiap kali terlihat ada yang berdiri, selalu terdengar hardikan dari arah penonton yang duduk. Bahkan ketika musisi sudah di atas panggung, mereka tetap berteriak dan ribut sendiri menyuruh penonton lain untuk ikut duduk di lantai.

Mungkin bagi mereka, penampilan musisi di atas panggung tidak sepenting urusan itu. Pokoknya, semua penonton harus duduk meskipun, sekali lagi, penyelenggara pertunjukan tidak menyediakan kursi.

Situasi serupa juga saya jumpai dalam sebuah pertunjukan di sebuah festival musik belum lama ini. Saat itu, selain tidak tersedia kursi, panggung pertunjukannya pun terbilang cukup tinggi, sekitar 1,5-2 meter.
(more…)

ยป

penonton.com di Koran Tempo

penonton-kortem

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 25 November 2008, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor berkode 021 ke nomor Mentari saya. Begitu saya terima, agak kaget juga karena si penelepon memperkenalkan dirinya adalah Dimas dari Koran Tempo. Wah, ada apa nih sampai ada yang mau mewawancarai saya? ๐Ÿ™„

Ternyata Dimas ingin mewawancarai saya seputar penonton.com, tempatnya para penonton memberi nilai dan komentar itu tuh… ๐Ÿ™‚ Karena pada waktu itu suara yang terdengar lewat nomor Mentari saya agak terputus-putus, pembicaraan dilanjutkan lewat nomor telepon lokal. Wawancara berlangsung sekitar setengah jam.

Setelah wawancara kelar, saya diberitahu bahwa kemungkinan besar hasil wawancara tersebut akan dimuat di edisi Jumat atau Sabtu ini. Namun, lewat Plurk, Ndoro kakung (rekan sepabriknya Dimas) mengoreksi bahwa yang benar adalah Sabtu.

Eh, benar lho. Sabtu ini, 29 November 2008, hasil wawancara itu muncul di iTempo, suplemen gaya hidup digitalnya Koran Tempo. Horeee… ๐Ÿ™‚

Sayangnya, karena sedang di Gorontalo, saya tidak bisa membaca artikel itu dalam versi cetaknya, karena sepertinya Koran Tempo tidak (atau belum?) beredar di kota kelahiran saya ini. Untuk saat ini, saya hanya bisa mengintip tulisan berjudul penonton.com Tempat Orang Menilai Film” itu dalam versi online dan epaper-nya.

Bagaimana pun, thanks Dimas dan teman-teman di Tempo. ๐Ÿ™‚

ยป

Tampilan Baru penonton.com

new-penontoncom

Kemarin, 17 November 2008, penonton.com berganti tampilan! Tampilan baru sekarang terlihat lebih segar dan informatif dengan navigasi yang lebih memudahkan. ๐Ÿ™‚

Setelah awalnya menggunakan theme Arthemia (versi modifikasi tentunya), sekarang theme yang dipakai berbasis theme Digital Statement.

Dengan theme yang sekarang, beberapa masalah bisa dipecahkan. Salah satunya adalah masalah kompabilitas dengan IE 6, seperti dilaporkan oleh Pitra. Dengan theme yang baru, nampaknya sekarang masalah itu sudah tidak muncul lagi. ๐Ÿ™‚ Thanks Pitra atas informasinya. Ada saran dan kritik lain? ๐Ÿ™‚

Semoga dengan tampilan yang baru, penonton.com bisa semakin menyenangkan para penonton. Apalagi jumlah film yang dimasukkan dalam database terus bertambah. ๐Ÿ™‚

Yuk, nilai sendiri film yang sudah kamu tonton! Kasih bintang dan berkomentarlah.

ยป