
Tadi siang, ketika lewat di daerah Gubeng, Surabaya, saya melihat ada sejumlah spanduk vertikal berwarna hijau muda yang terpasang di sepanjang pinggiran jalan. Di spanduk itu tidak banyak tulisan yang tertera, tapi karena ukuran tulisannya agak kecil dan kurang tebal, jadinya yang paling terbaca dari balik kemudi mobil hanya ini: 103.1 fm.
Radio baru di Surabaya? Melihat sekilas warna dan jenis huruf yang digunakan, saya langsung menduga: Gen FM masuk Surabaya? Kemungkinan besar (dengan keyakinan lebih dari 68%) sih begitu.
Buru-buru saya pindahkan frekuensi radio di mobil ke 103.1 FM. Ya, ketemu siarannya, meskipun sempat terlewat ketika saya melakukan pencarian frekuensi secara otomatis. Kayaknya daya pancarnya masih belum kuat. Begitu mulai masuk ke wilayah lain menjauhi daerah Gubeng dan sekitarnya, suaranya jadi tidak jelas dan timbul tenggelam. Duh!
Seperti siaran percobaan pada umumnya, sepanjang siaran yang saya dengarkan tadi belum ada penyebutan nama radionya secara lengkap. Rekaman suara Jingle-nya yang muncul di sela lagu-lagu hanya menyebutkan angka frekuensinya saja: satu kosong tiga koma satu ef em. seratus tiga koma satu ef em
Jadi, kapan radio baru cabang Jakarta yang menggunakan bekas frekuensi Radio Camar Surabaya itu akan resmi mengusung mereknya sendiri di udara kota Surabaya? Saya belum tahu. Yang jelas, jangan lupa perkuat dulu daya pancarnya ya sebelum mengundang makan-makan (ge-er).

Presentasi 20 slides dengan durasi 20 detik per slide.
Itulah hal yang membuat saya tertarik untuk datang ke acara Pecha Kucha Night. Ya, saya penasaran ingin melihat bagaimana para pembicara bisa menyiasati aturan itu dengan sukses atau tidak.
Akhirnya, rasa penasaran itu terbayar ketika beberapa hari lalu (tepatnya 25 November 2009) saya bisa datang ke acara Pecha Kucha Night Surabaya #02 (info via Jie). Di edisi Surabaya #01 yang digelar beberapa bulan lalu, saya tidak bisa hadir. Kali ini, acaranya diadakan di sebuah kafe bernuansa outdoor di jalan Sumatera, Surabaya. Karena lokasinya tidak terlalu jauh, saya berusaha datang tidak (terlalu) terlambat.
Menurut jadwal yang tercantum di poster sih seharusnya dimulai jam 06.30 pm…
(more…)
Belum lama ini telah berlangsung sebuah acara seni dan budaya bertajuk “Cross Culture Festival 2009” di Surabaya. Yang tampil dalam festival lintas budaya tahunan itu berasal dari berbagai negara. Selain dari sejumlah daerah di Indonesia sendiri, juga ada tim kesenian dari Thailand, Korea Selatan, China, Spanyol, dan Ekuador.
Rangkaian acara Cross Culture Festival 2009 diadakan di beberapa tempat terpisah selama empat hari, 15 – 18 Oktober 2009. Saya sendiri tidak sempat menyaksikan semuanya satu per satu, hanya beberapa acara saja.
Salah satu acara yang saya tonton adalah pertunjukan “Dynamic Korea” yang berlangsung di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Sebuah pertunjukan seni yang menarik. Penuh warna dan ekspresif. Apalagi didukung dengan gedung pertujukan seni yang meskipun tidak terlalu besar tapi termasuk lumayan untuk ukuran kota Surabaya.
Minggu lalu saya menonton eh meliput konser Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover 2009 yang diadakan di ballroom Empire Palace, Surabaya. Sebuah konser yang lumayan menghibur, apalagi untuk ukuran Surabaya yang jarang ada konser besar. Menyenangkan.
Yang bikin tambah happy adalah pada saat itu saya bisa memotret sepanjang pertunjukan di dekat panggung, meskipun butuh perjuangan juga bergerak secara bertahap dari belakang ke depan.
Nah, dari sekian banyak foto yang saya hasilkan malam itu, berikut ini beberapa foto yang menjadi favorit saya saat menyaksikan pertunjukan bertabur artis musik kondang asal Indonesia (dan juga Filipina) itu.
Bagaimana menurut kamu? ![]()
LALA:

Rahasia Berbisnis Kreatif Tanpa Modal ala Jerry Aurum? Wow, judulnya dahsyat ya?
Apakah saya barusan ikutan salah satu dari sekian banyak acara talkshow atau seminar soal motivasi dengan iming-iming kesuksesan luar biasa bombastis yang lagi ngetren di mana-mana? Bukan, tapi itulah salah satu hal yang saya dapatkan saat mendatangi roadshow FGD Expo 2009 di Surabaya yang berlangsung selama dua hari, 29-30 Mei 2009, di dua kampus yang berbeda secara gratis.
(more…)

Setiap kali menjelang hari H, sebuah acara musik yang saban tahun digelar di Jakarta -bisa dibilang- selalu mengadakan roadshow di beberapa kampus dan mal sebagai ‘pemanasan’. Menarik, tapi sayangnya kampus dan mal yang dikunjungi hanya terbatas di Jakarta saja.
Begitu juga dengan sosialisasi sebuah acara penghargaan bagi para artis musik Indonesia yang rutin digelar oleh sebuah yayasan bekerja sama dengan sebuah stasiun televisi. Tahun ini, roadshow acara itu hanya datang ke sekolah-sekolah di Jakarta saja.
Patut disayangkan memang jika ada acara besar yang memakai embel-embel nasional bahkan internasional tapi perkenalan atau sosialisasinya hanya dilakukan di Jakarta saja.
Apakah semua acara besar seperti itu? Untunglah tidak. ![]()
(more…)

Selama beberapa tahun belakangan ini, penerbangan dari Gorontalo ke Surabaya hanya dilayani oleh pesawat milik Sriwijaya Air dan Lion Air. Namun sejak 30 November 2008 lalu, ada alternatif baru dengan dibukanya rute Gorontalo – Surabaya (via Makassar) oleh Batavia Air. Sayangnya, untuk rute sebaliknya (Surabaya – Gorontalo) tidak sekalian dibuka.
Menurut jadwal resminya, Batavia Air terbang jam 13.50 WITA dari Gorontalo dan tiba di Surabaya pada 18.00 WIB. Dibandingkan dengan Sriwijaya Air dan Lion Air, jam keberangkatan yang dipilih terbilang paling siang. Jadwal yang menarik bagi yang tidak ingin bangun pagi banget (kalau naik Sriwijaya Air) dan masih ingin makan siang di Gorontalo.
(more…)
Benny Chandra is a blogger, photographer, web designer, and freelance journalist. Living in Surabaya, East Java, Indonesia. More »