2003

Liputan Pertama untuk XY-Kids

Tahu majalah XY-Kids? Bukan, itu bukan majalah luar negeri. Itu majalah anak-anak keluaran terbaru grup Gramedia yang kayaknya diposisikan jadi ‘adik’nya Bobo.

Nah, di nomor 7 yang terbit minggu ini ada liputan dari gue yang nongol di situ soal penggemar R/C car Surabaya. Dibanding laporan yang dulu aku sering bikin buat Hai dan MWMAG dulu, yang ini gak panjang-panjang amat sih. Tapi yang susah nyari nara sumbernya. Habis yang dicari adalah anak usia SD yang hobi main R/C car. Aku sampai tanya sana-sini (via milis dan telepon), akhirnya dapat juga meskipun baru dapat di detik-detik terakhir deadline sambil dikejar-kejar si Om Yunus yang ngasih tugas. Wuih…

Bagaimanapun, liputan kali ini cukup bersejarah karena tercatat sebagai liputan pertama gue untuk XY-Kids setelah lama gak nulis di majalah. πŸ˜‰

Sst, kalo ada info soal lowongan menulis di majalah (kalo bisa soal Internet), kasih tahu gue ya. πŸ˜€

Domain tanpa Identitas?

Saat ini, sejumlah pihak dari berbagai negara sedang melobi ICANN agar mempertimbangkan perlindungan informasi kepemilikan domain ( data WHOIS) yang saat ini bisa dilihat oleh umum secara bebas asal punya koneksi Internet. Sudah seharusnya fungsi keberadaan data kepemilkan domain itu dikembalikan ke fungsi dan tujuan semula, yaitu “to allow network administrators to find and fix problems to maintain the stability of the Internet.” Tidak diumbar seperti sekarang ini yang membuat siapapun bebas melihat informasi itu, termasuk para spammer! Kalau perlu, segala identitas kepemilikan disembunyikan. Demikian menurut berita ini.

Ini kayaknya dilema juga. Di satu sisi utk menghindari serangan spam, di sisi lain informasi kepemilikan domain dituntut harus lebih jelas oleh pemerintah AS September lalu.

Sementara ada juga pihak-pihak yg memanfaatkan isu ini untuk menarik duit, seperti Go Daddy yg mencharge biaya tambahan $9 per tahun per domain jika informasi kepemilikan disembunyikan. Dasar matre! πŸ˜›

The Edge

Gue baru tahu kalau ternyata tiap lima atau enam minggu sekali, Macromedia merilis semacam newsletter yang dikasih nama The Edge yang bisa dibaca gratis dan online juga (dalam versi Flash) disamping bisa minta dikirim ke e-mail kita.

Sekilas, artikel-artikel di dalamnya lumayan menarik dengan penulis yang cukup terkenal pula. Seperti misalnya untuk edisi Oktober 2003 ada artikelnya si Jeffrey Zeldman berjudul Jeffrey Zeldman on Coding for Easier Redesigns. πŸ™‚

Korban Flyblogging

Barusan ngomong soal flyblogging atau serangan spam ke situs blog, eh ternyata sudah ada korban. πŸ˜€

Si Steven tadi bilang udah ‘ngaku kalah’ (dengan menonaktifkan situs blognya) gara-gara sering dispam. Piye to’ nak? Masak langsung nyerah gitu? B’rani dong! πŸ˜›

Flyblogging

Belakangan ini, beberapa kali komentar yang masuk ke situs web gue ini berbentuk ‘spam’. πŸ™ Spammer memang kurang ajar!

Ternyata saat ini para spammer memang mulai menyerang situs-situs web blog dengan ‘sampah-sampah’ mereka, yaitu dengan mengisi bagian ‘komentar’ pada suatu situs web blog. Hal itu ditegaskan Bill Thompson, seorang analis teknologi, dalam artikelnya How spammers are targeting blogs.

Kalau biasanya untuk mengisi komentar dengan ‘junk comment’ harus dilakukan satu per satu, si Bill menengarai sekarang hal itu sudah bisa dilakukan secara otomastis oleh para spammer itu. Ini yang makin menjengkelkan. Apa setiap pengunjung harus mendaftar dulu? Malas amat. πŸ™

Oh ya, untuk spam yang menyerang blogsites seperti itu dia menyebutnya sebagai “flyblogging“, meskipun sebenarnya istilah itu sebelumnya diartikan sebagai “ngeblog sambil terbang (di pesawat)” atau “ngeblog soal terbang”. Dia menyamakannya dengan “flyposting”, istilah buat poster atau brosur promosi yang biasanya ditempelkan di jendela rumah-rumah oleh pihak-pihak yang gak bertanggung jawab. Bedanya yang ini versi digital, tetapi sama-sama MENJENGKELKAN! πŸ™

Soal 300 dpi di MPPC 2003

Salah satu syarat di MOSSAIK Press Photo Contest 2003 (MPPC 2003) adalah:

Sumber foto bisa berupa film analog maupun digital. Penggabungan gambar dan penambahan elemen-elemen gambar dengan tenik digital maupun lab tidak diperkenankan. Sebelum penyerahan hadiah, peserta harus dapat menunjukkan sumber asli film ( original analog source ). Untuk sumber digital peserta harus dapat menunjukkan sumber asli digital dengan ukuran aslinya ( actual size). Dengan Resolusi 300 dpi.

Setahuku hasil foto dari kamera digital itu rata-rata 72 dpi, bukan 300 dpi. CMIIW. Makanya aku minta konfirmasi ke panitia. πŸ™‚

Tanggapan dari Pak Hendro Dwijo Laksono (Majalah Mossaik) begini:

  1. Dalam wacana kamera digital, sebetulnya tidak ada yg menegaskan bahwa dpi asli kamera digital adalah 72. Untuk kamera tertentu, misalnya Nikon D-1, bisa di-set 300dpi. Begitu juga beberapa kamera lain.
  2. Hasil diskusi terakhir di panitia, penyebutan 300dpi ini sebetulnya tidak berlaku mutlak. Hanya saja, penyebutan densitas foto 300dpi (bukan 72dpi), ini semata-mata pemikiran logis bahwa karya yang dikumpulkan adalah ‘foto cetak’ dengan ukuran 12 R (30 x 40 cm). Dengan sendirinya, cetak sebesar ini butuh kualitas image yang memiliki tingkat kerapatan dot per inch yang tinggi, yaitu 300dpi. Jika maksa 72dpi, dipastikan bakal pecah.
  3. Kalaupun ada upaya menaikan densitas foto dari 72dpi ke 300dpi lewat photoshop, asal bukan “Penggabungan gambar dan penambahan elemen-elemen gambar dengan tenik digital maupun lab”, maka sah-sah saja.

Kalau aku sih masih tetap bingung. Karena kalau memang yang bakal dinilai itu adalah foto cetakan, kenapa harus mengurus resolusi dpi? Bukannya cukup dengan melihat saja bagaimana kualitas cetakan foto yang dikirim ke panitia? Kecuali boleh hanya mengirim filenya saja ke panitia, tanpa perlu dicetak dulu. πŸ˜‰

Mudah-mudahan gak dianggap reseh sama panitianya… he he he πŸ˜€