2004

Mimpi Buruk Soal Robot

A robot may not harm a human or, by inaction, allow a human being to come to harm.
A robot must obey orders given it by human beings except where such orders would conflict with the first law.
A robot must protect its own existence as long as such protection does not conflict with the first or second law.

I, RobotWell, hari libur kemerdekaan kemarin akhirnya gw bisa nonton film I, Robot juga setelah beberapa kali rencana nonton gagal terus…padahal udah pengen segera nonton film lain abis liat Catwoman yang kurang sip (baca: mengecewakan) itu! 😈 Ada dua sih yang gw incer, I, Robot dan The Bourne Supremacy… Tapi, I, Robot dulu deh… takut keburu gak main lagi… :mrgreen:

SPOILER ALERT! Film bersuasana tahun 2035 dan diangkat dari novelnya Isaac Asimov ini punya settingnya asik… pencahayaannya juga oke… Yang paling bikin gw terkesan adalah pas diliatin gimana mobil diparkir pada masa itu… yaitu, dijejer dengan posisi moncong mobil berada di bawah… bagus juga tuh idenya untuk menghemat luas parkiran… :mrgreen: Belum lagi model robotnya yang unik dan keren… ditambah dengan penggunaan teknologi CGI (Computer Generated Imagery) terhadap si robot bernama Sonny yang membuat gerakan dan mimiknya menjadi manusiawi (secara memang ada aktor beneran -Alan Tudyk- yang memerankannya) … sempat juga ada adegan si Sonny meloncat bergaya bullet-time effect ala Matrix… wuih.. 😯 FYI, kabarnya sih tingkat penggarapannya sama dengan tokoh Gollum di LoTR lho… 😯

Walaupun begitu, ketika sedang mengagumi settingnya, tiba-tiba gw teringat dengan film Minority Report… nuansanya terasa sama lho… Di lain sisi, gw juga merasa cerita yang diusung oleh film yang disutradarai Alex Proyas (sutradara The Crow juga) itu meskipun cukup seru namun kurang kuat. Apalagi kalau dilihat sebagai film yang mengusung persoalan robot.. Bisa dibilang, film tersebut kurang kuat dalam menawarkan variasi cerita agar tampil jauh berbeda dengan film-film soal robot yang sudah pernah ada… Asal tahu aja, mengusung tema robot yang manusiawi sudah pernah dilakukan oleh Artificial Intelligence (2001) dan Bicentennial Man (1999) (ups, cerita Bicentennial Man ternyata bersumber pada penulis novel yang sama dengan film I, Robot… Isaac Asimov! :mrgreen:)

Selain itu, dalam ceritanya beberapa hal yang rasanya kurang pas. Seperti soal ketidaksenangan yang sangat oleh sang tokoh John Spooner (Will Smith) terhadap robot, diceritakan ‘hanya’ lantaran kecewa karena dalam sebuah kejadian, sebuah robot tidak menolong anak kecil yang mau tenggelam. Begitu juga soal siapa yang menjadi dalang di balik ‘pemberontakan’ para robot yang menjadi mimpi buruk para warga kota. Agak mudah ditebak, meskipun sempat diarahkan bahwa pelakuknya adalah bos dari perusahaan pembuat robot itu. Adegan yang ditampilkan di akhir film di mana digambarkan si robot Sonny sebagai ‘pemimpin’ para robot juga terkesan terlalu dibikin dramatis, maksa, dan kurang bermakna… πŸ™„

Overall, film itu tergolong asik dan recommended, terutama buat yang kecewa dengan Catwoman, kayak gw :mrgreen: Bisa dibilang, I, Robot merupakan sebuah tontonan yang cukup menyenangkan bagi yang gila dengan film-film berbau sci-fi (science fiction) 😈 Di samping itu, boleh juga tuh jadi semacam warning agar ada langkah antisipasi terhadap ‘pemberontakan’ robot di kemudian hari kelak…. Males banget ‘kan kalo suatu hari tiba-tiba kita disekap dalam rumah sama robot dan dikenai jam malam segala… what a nightmare!!! No, thanks! πŸ˜› πŸ‘Ώ

Antara My Salon dan Papa Ron’s

Selasa kemaren pas liburan 17-an, gw dan istri jalan ke Supermal/PTC. Rencana semula sih mo cabut dari rumah sekitar jam 10 pagi biar bisa ini dan itu sekalian… wong lokasinya jauh ini.. eh, gak tahunya molor … jam 4 sore baru berangkat dari rumah! :mrgreen:

Sampe di sana, langsung buruan beli tiket di Studio 21 buat pertunjukan yang jam 18.15 WIB. Pas mau jalan dulu ke Trimedia, eh lihat ada My Salon (salon waralaba jenis baru dari Rudi Hadisuwarno) yang baru buka.. jadi inget rambut gw emang sudah saatnya dipotong… apalagi liat harganya lebih murah dari tetangganya sebelah. akhirnya gw potong deh. sebelumnya udah nanya dulu, bisa gak 30 menit kelar motongnya, biar gak telat nonton… katanya bisa… ya, oke deh!

Eh, gak taunya kerjaan orang-orang di salon baru itu serba lama.. mulai dari cuci rambut (keramas) aja udah cukup lama. 10 menit ada kali ya… πŸ™ kalo gak buru-buru sih gak masalah.. seger sih rambut disiram-siram air gitu.. πŸ˜€ Sudah gitu, yang motong juga sepertinya agak kurang gimana gitu… Gw hanya minta potong pendek banget, dia keliatan bingung… udah gitu lebih banyak ngandelin alat cukur listriknya.. lambat pula! πŸ‘Ώ duh, keliatan amatir banget deh! 😑 Hasilnya, udah potongan rambut gw jadi pendek gak karuan, ditambah jadi agak telat sekian menit nonton film “I, Robot”. πŸ‘Ώ Duh, apa ini membuktikan harga menunjukkan kualitas? Iih! Males ah potong di sana lagi… 😑

papa ron's

Keluar dari Studio 21, kita mampir di Papa Ron’s Pizza. Pengen nyoba seperti apa pizza waralaba yang baru buka di PTC Surabaya itu. Setahu gw, Papa Ron’s Pizza itu adalah waralaba lokal Indonesia, tetapi kepunyaan orang asing. Kabarnya sih di Jakarta cukup terkenal… Setelah bolak-balik liat menunya, kita pesan Pizza yang Meat Easters (gw rasa ini mo nyaingin Meat Lovers-nya pizza ‘tetangga’) yang small, ditambah Bruschetta dan Garlic Bread. Rasa roti oles mentega bawangnya masih kalah sama keluaran Pizza Hut, sementara soal pizzanya sendiri sih ya lumayanlah meskipun gak ada rasa ciri khasnya. Bisa dibilang standarlah… Yang gw rasa enak itu justru Bruschetta Beef-nya yang gw pesan. Rasanya lebih enak ketimbang keluarannya Pizza Hut. πŸ˜‰

Di luar urusan rasa, sebenarnya ada hal lain dari Papa Ron’s Pizza itu yang sedikit ‘mengganggu’.. 😈 :mrgreen: Mereka ‘kan pasang slogan Harga Hemat Rasa Lebih Nikmat… Nah, menurut gw kok kurang tepat ya.. Emang sih lebih murah dikit ketimbang pizza lain yang lebih terkenal, tapi bedanya gak seberapa kok… Lagian, kenapa juga terlalu bangga dengan perbedaan harga yang gak terlalu jauh itu.. Mending cari value lain, yang lebih menggigit dan pas. Kalo hanya gitu aja, ya pasti tampil biasa-biasa aja… dan sambutannya juga bakal biasa-biasa pula… faktor different-nya kurang berasa… ini menurut gw lho… πŸ˜‰ buktinya, liat aja kemarin.. yang makan di sana tergolong tidak banyak, sementara di Pizza Hut gw liat full, bahkan ada yang antri di luar… atau mungkin ada penjelasan lain? πŸ™„