2006

Sekadar Meminjam Nama Miami Vice

[rate 1.0]

miami vice

Kembali penonton Indonesia mendapat kesempatan pertama menonton film Hollywood terbaru. Lebih duluan satu hari ketimbang jadual rilis internasional, Miami Vice sudah diputar di bioskop di Indonesia mulai 27 Juli 2006 kemarin. Dengan ‘kesempatan’ yang tidak dimiliki oleh setiap film asing yang masuk ke Indonesia, seharusnya film adaptasi dari serial tv tahun 80an itu menjanjikan sesuatu yang menarik. Setidaknya lebih baik dari versi televisinya. Namun, nampaknya tidak demikian.

Setelah 135 menit berlalu tetap saja masih sulit menemukan apa yang bisa diandalkan dari film besutan Michael Mann ini selain ‘merek’ Miami Vice dan Michael Mann sendiri. Nostalgia? Lupakan saja. Karakter dua detektif yang bergaya glamour dan flamboyan yang selama ini identik dengan Don Johnson dan Philip Michael Thomas agak susah ditemui pada penampilan Colin Farrel dan Jamie Foxx yang berperan sebagai James “Sonny” Crockett dan Ricardo “Rico” Tubbs. Sudah gitu, sebagai Sonny, Colin terlihat gendut dan tanpa jas putih ‘kebangsaan’ pula. Padahal di serial tv-nya, sosok yang biasanya terlihat lebih ‘berisi’ itu justru Rico, bukan Sonny. Continue reading…

Duel Pisang Goreng Ponti di Surabaya

Setelah booming di Jakarta, nampaknya belakangan ini pisang goreng genre Ponti mulai marak di Surabaya. Kebetulan beberapa hari ini pisang goreng ponti sedang ramai dibicarakan di dua milis yang gw ikuti, milis Jalansutra dan ID-Gmail.

Di Surabaya, sejauh yang gw tahu, setidaknya sudah ada tiga penjual pisang goreng jenis itu. Salah satunya bercokol di jalan Ngagel Jaya Selatan, dua lainnya berada di pinggir jalan Mulyosari. Kalo gw perhatikan, nampaknya salah satu penjual pisang goreng yang ada di Mulyosari itu memasang merek yang sama dengan yang ada di Ngagel Jaya Selatan. Mereknya Jumbo. Sepertinya masih satu grup. Adapun penjual satunya lagi memakai merek Kepomponk.

Sebenarnya beberapa hari lalu gw sudah sempat membeli pisang goreng ponti yang ada di jalan Ngagel Jaya Selatan itu. Menurut gw sih rasanya tidak terlalu enak, terutama balutan tepung krispinya yang terasa hambar dan terlalu tebal. Keunggulannya mungkin hanya terletak pada pisangnya yang empuk dan rasanya manis. Melihat proses penggorengannya, sepertinya pisangnya sendiri tidak terkena panasnya minyak goreng karena ‘terlindungi’ oleh balutan ‘selimut’ adonan tepung krispi dan berpori-pori yang dimasukkan duluan ke dalam wajan penggorengan. Sayangnya saat itu gw lupa bikin screenshot-nya ๐Ÿ™

Kemarin malam ketika melewati jalan Mulyosari dan melihat ada dua penjual pisang goreng ponti dengan merek yang berbeda itu, gw langsung terpikir untuk membikin screenshot-nya sekaligus membandingkan keduanya dalam sebuah duel ๐Ÿ˜‰

Pisang Goreng Ponti JUMBO KEPOMPONK
Lokasi (Surabaya) Jalan Mulyosari Jalan Mulyosari
Kondisi pisang Manis, masak Kurang manis, belum masak
Rasa kremesan tepung Tawar Agak manis
Harga per potong Rp 3000,- Rp 2500,-

Hasilnya? Kepomponk unggul dalam hal harga yang lebih murah dan ‘selimut’ kremesan tepung yang terasa agak manis. Kekurangannya ada pada rasa pisang yang kurang manis dan kurang empuk lantaran pisangnya belum masak (matang) benar. Sementara Jumbo meraih angka tertinggi untuk kualitas pisangnya yang lebih manis, empuk, dan sudah masak. Sisi lemahnya terletak pada harganya yang tergolong mahal dan tawarnya rasa ‘selimut’ kremesan tepungnya.

Jadi, menang mana? Hmmm… ๐Ÿ™„ Sebenarnya gw lebih suka pisang goreng biasa dan pisang goreng kipas ketimbang pisang goreng ponti, tetapi kalau terpaksa harus memilih sepertinya gw akan menunjuk Jumbo. Soalnya namanya pisang goreng ‘kan yang penting rasa pisangnya yang manis dan empuk… ๐Ÿ™‚

pisgor ponti

Continue reading…