2006

Album Repackage: Strategi Jualan Single di Indonesia?

Beberapa tahun belakangan ini berduyun-duyun sederet artis musik tanah air merilis album repackage, yang rata-rata isinya terdiri dari dua atau tiga lagu baru dan sisanya lagu-lagu lama dari album yang sudah dikeluarkan sebelumnya. Singkatnya, seperti beli album lama bonus lagu baru. Atau beli lagu baru bonus album lama? Ah, kurang lebih begitu deh…

Lihat saja seperti album Repackage Selamat Pagi, Dunia! dari Glenn Fredly, Seribu Tahun Repackage dari Jikustik, Langkah Baru-nya Radja, Repackage Cahaya-nya KD, 20-02 Repackage-nya Audy, Ello – Repackage-nya Ello, dan 1st Repackage-nya Maliq & D’Essential.

Konsep serupa namun dalam versi yang sedikit berbeda bisa ditemukan pada album Iwan Fals In Love-nya Iwan Fals, Ratu & Friends-nya Ratu, Semua Jadi Satu-nya 3 Diva, dan The Best of-nya Cokelat. Keempatnya sama-sama menawarkan hanya 1 hingga 3 lagu baru dan sisanya lagu-lagu lama yang diambil dari beberapa album mereka sebelumnya (kecuali pada album Ratu & Friends yang mengumpulkan lagu-lagu lama dari sederet artis lainnya). Memang ada sedikit perbedaan dengan album yang pure dilabeli repackage, tetapi kan sama-sama hanya menawarkan kurang dari lima lagu baru… 🙂

So, apa sih sebenarnya maksud peluncuran berbagai album repackage itu? Continue reading…

Pelajaran dari Majapahit

Pelajaran dari Majapahit: Ketika perbedaan agama semakin sering menjadi pemicu perpecahan, ketika sekelompok orang selalu berusaha memaksakan ajaran agama yang dianutnya kepada orang lain dengan berbagai cara, dan ketika kebebasan beragama apa saja menjadi barang mewah, rasanya pelajaran dari zaman Kerajaan Majapahit perlu direnungi bersama…

Cukup Dua Lagu

Selama ini, setahu gw, aturan yang umum dalam konser atau pertunjukan musik bagi wartawan foto adalah batasan tiga lagu bagi yang ingin memotret tepat di depan panggung. Setelah itu harus keluar dari daerah sekitar panggung. Kalo masih ingin memotret, bisa dilakukan dari daerah penonton. Biasanya aturan ini berlaku untuk pertunjukan artis dari luar negeri.

Ketika meliput acara Java Jazz Festival 2006 yang berlangsung beberapa hari lalu di Jakarta, gw terkejut ketika diberitahu oleh panitia mengenai aturan khusus untuk motret dan meliput di depan panggung. Apalagi aturan itu baru disampaikan sesaat menjelang penampilan Tower of Power di Plenary Hall. Tidak tercantum dalam lembaran tata tertib yang dibagikan sebelumnya.

Setelah dikumpulkan di dekat pintu masuk sebelah panggung, salah seorang panitia mengatakan bahwa kesempatan untuk berada di depan panggung hanya terbatas untuk dua lagu pertama. Setelah itu harus keluar ruangan. Kalau mau meliput lebih lanjut? Harus beli tiket! *gedubrak* 😯 🙁
Continue reading…