Yang Terbaik, Bukan yang Terpopuler

Grammy Awards ke-53 memang telah berlalu, tapi mungkin sampai sekarang masih ada yang belum hilang rasa terkejutnya ketika Esperanza Spalding diumumkan sebagai Artis Pendatang Baru Terbaik (Best New Artist), mengungguli beberapa nama lain seperti Mumford & Sons, Florence & The Machine, serta yang terbilang lebih populer macam Drake dan… Justin Bieber. Benar-benar sebuah kejutan.

Saya sendiri termasuk orang yang tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Tapi setelah mencari tahu lebih lanjut dan menyaksikan rekaman pertunjukan Esperanza Spalding, saya rasa penyanyi yang juga pemain bas jazz itu memang pantas menyandang gelar terbaik dari acara tahunan yang diselenggarakan oleh National Academy of Recording Arts and Sciences (NARAS) atau The Recording Academy tersebut meskipun tetap saja harus diakui selama ini dia memang tergolong kurang populer.

Namun, di luar semua itu, sebenarnya ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa tersebut. Bahkan mungkin bisa berguna juga bagi perkembangan dunia musik di Indonesia. Apakah itu?

Peristiwa lebih banyaknya suara anggota para profesional di bidang musik yang tergabung dalam The Recording Academy menjatuhkan pilihan kepada Esperanza sebagai Artis Pendatang Baru terbaik ketimbang Justin yang jauh lebih populer itu bisa dibilang seperti mengusung sebuah pesan penting. Yaitu, yang terbaik tidak selalu yang terpopuler, dan ketahuilah bahwa masih ada yang menghargai sesuatu yang terbaik itu.

Itu adalah sebuah pesan yang kebetulan cocok bagi pelaku dunia hiburan di Tanah Air, khususnya musik. Pasalnya, hingga saat ini, pandangan yang mengungkung sebagian besar pihak yang punya kewenangan dan pengaruh justru seperti bertolak belakang dengan pesan tadi. Yang sering kali dielu-elukan adalah faktor kepopuleran, urusan menjadi yang terbaik dianggap kurang penting. Seakan-akan yang terpopuler selalu lebih baik dari yang terbaik.

Lihat saja sekarang ini, rata-rata acara pencarian bakat hanya mengandalkan dari jumlah SMS yang diterima untuk menentukan pemenang utamanya. Penentuan pemenang oleh juri yang kompeten di bidangnya seakan tidak diperlukan lagi.

Sudah begitu, ketika ada peserta yang kebetulan berkemampuan menyanyi lebih khas dibanding peserta lainnya dan memilih genre musik kurang populer, ia justru malah cenderung dicela dan dianggap aneh. Bahkan selanjutnya terus-menerus diarahkan untuk mengikuti jenis musik yang lebih populer di pasaran ketimbang yang disenangi peserta tersebut.

Gambaran seperti itulah yang dialami Citra “Idol” dan Putri Ayu “IMB”. Kebetulan keduanya sama-sama juara 2 (runner up) dari kontes yang berbeda. Hanya karena ia membawakan lagu “Karena Ku Cinta Kau” dan “Mau Dibawa ke Mana” dengan gaya nge-jazz, yang jauh berbeda dan lebih bagus dibandingkan versi penyanyi aslinya, Citra sempat dicela juri Indonesian Idol pada waktu itu. Untunglah, belakangan ia cukup diberi kebebasan terus bernyanyi jazzy. Termasuk ketika berkesempatan merilis single-nya sendiri belum lama ini. Tapi sayangnya, video musiknya itu seperti dipaksakan menampilkan beberapa tokoh populer yang justru malah mengganggu kenyamanan menikmati lagunya.

Sementara Putri Ayu ketika pertama kali tampil bergaya menyanyi seriosa, ia memang langsung mendapat pujian dari para juri Indonesia Mencari Bakat. Namun, seiring dengan perjalanannya sebagai peserta kontes itu, semakin mendekati babak grand final, ia justru seperti semakin dijauhkan dari genre seriosa dengan semakin sering diminta juri untuk menyanyikan lagu dari genre lain. Sebut saja seperti rock, melayu, dan komedi. Bahkan soal penampilannya di atas panggung yang seperti umumnya penyanyi seriosa yang tidak terlalu banyak gerak juga ikut disoroti oleh juri. Dianggap kaku.

Ternyata tidak berhenti sampai situ. Setelah keluar sebagai pemenang runner up acara itu, masih saja terkesan Putri Ayu dipaksakan bernyanyi dalam genre musik yang lebih populer dibandingkan dengan seriosa. Hal itu tampak jelas terlihat ketika belum lama ini ia tampil di sebuah acara musik televisi mendampingi Ungu menyanyikan lagu pop bertajuk “Saat Bahagia” milik grup musik itu. Hasilnya? Mengecewakan, jauh berbeda dibandingkan saat dia bernyanyi seriosa.

Begitu juga dengan yang terjadi dengan acara musik seperti Harmoni. Awalnya, acara musik bulanan SCTV itu selalu tampil memesona dengan menghadirkan deretan penyanyi berkualitas serta aransemen musik yang menawan sesuai tema. Tapi semakin lama semakin tampak usaha untuk memasukkan lagu-lagu yang sedang populer di pasaran (yang belum tentu semuanya bagus) ke dalamnya tanpa diseleksi ketat terlebih dahulu.

Puncaknya adalah ketika sebuah episode bertema mengenang almarhum Elfa Secioria, seorang musisi besar Tanah Air, yang seharusnya dijadwalkan menampilkan lagu-lagu ciptaan beliau, ternyata masih harus diwarnai dengan kemunculan beberapa lagu lain yang bukan ciptaannya. Bahkan bisa dibilang sama sekali tidak berhubungan dengan tema dan mungkin hanya ‘kebetulan’ dinyanyikannya oleh penyanyi yang sedang populer. Coba bayangkan, apa hubungannya lagu “Astaga” yang tiba-tiba muncul dalam acara bertajuk “A Tribute to Elfa Secioria” itu lewat suara Charly “ST 12”?

Semoga pemikiran konvensional bahwa yang populer selalu merupakan yang terbaik tidak terus menerus dipertahankan. Sudah saatnya diubah. Kenapa?

Sekali lagi, karena yang terbaik tidak harus yang terpopuler, seperti yang telah dibuktikan oleh Esperanza Spalding dan juga pihak NARAS yang lebih menghargai orang yang terbaik, bukan yang terpopuler.

Tulisan saya ini dimuat pertama kali di Yahoo Indonesia OMG/Yahoo Celebrity Indonesia pada 18 Februari 2011

Print Friendly

Baca juga:

One comment on “Yang Terbaik, Bukan yang Terpopuler

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *