Yang Terbaik, Bukan yang Terpopuler

Grammy Awards ke-53 memang telah berlalu, tapi mungkin sampai sekarang masih ada yang belum hilang rasa terkejutnya ketika Esperanza Spalding diumumkan sebagai Artis Pendatang Baru Terbaik (Best New Artist), mengungguli beberapa nama lain seperti Mumford & Sons, Florence & The Machine, serta yang terbilang lebih populer macam Drake dan… Justin Bieber. Benar-benar sebuah kejutan.

Saya sendiri termasuk orang yang tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Tapi setelah mencari tahu lebih lanjut dan menyaksikan rekaman pertunjukan Esperanza Spalding, saya rasa penyanyi yang juga pemain bas jazz itu memang pantas menyandang gelar terbaik dari acara tahunan yang diselenggarakan oleh National Academy of Recording Arts and Sciences (NARAS) atau The Recording Academy tersebut meskipun tetap saja harus diakui selama ini dia memang tergolong kurang populer.

Namun, di luar semua itu, sebenarnya ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa tersebut. Bahkan mungkin bisa berguna juga bagi perkembangan dunia musik di Indonesia. Apakah itu?
(more…)

»

Musisi Indonesia, Yuk Lebih Mencintai Bahasa Indonesia

Kita sering mendengar anak-anak kecil, juga orang dewasa, dengan mudah menyenandungkan potongan lirik dari lagu yang sedang mengetop. Lirik lagu rasanya lebih mudah dihafal ketimbang isi buku pelajaran di sekolah atau kampus dahulu. Bukan begitu?

Dari lirik lagu juga, tidak jarang kita mengenal kata-kata tertentu yang terkesan baru atau asing, padahal sebenarnya sudah lama ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dari sejumlah lagu KLa Project, misalnya, sebagian dari kita (termasuk saya) mengenal kata-kata seperti “terpuruk” (lagu “Terpurukku di Sini”), “nelangsa” (“Tak Bisa ke Lain Hati”), dan “romansa” (“Romansa”).

Tidak hanya lagu berbahasa Indonesia, yang berbahasa asing juga pengaruhnya tidak kalah hebat. Lihatlah, belakangan ini tiba-tiba banyak yang bisa berbahasa Korea menyanyikan potongan lirik lagu “Gangnam Style” dari PSY.

Lirik lagu memang bisa menjadi sarana efektif untuk mengenalkan atau membuat orang tertarik belajar bahasa dengan cara yang menyenangkan. Namun, sayangnya, di sisi lain ada hal yang cukup memprihatinkan, khususnya menyangkut lagu Indonesia yang dibawakan oleh para musisi Tanah Air. Apa itu?

Kalau didengarkan lebih jelas, terdapat cukup banyak lirik dalam lagu-lagu Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kekeliruan demikian akan semakin tampak jelas dalam isi buklet lirik lagu yang biasanya disertakan dalam album. Termasuk juga adanya bahasa Indonesia dan bahasa asing yang campur aduk dalam sebuah lagu — entah itu judul atau liriknya. Jika terus berlangsung, hal tersebut tentunya akan dapat mengganggu perkembangan bahasa Indonesia.

Beberapa lagu terkenal berikut ini bisa jadi contoh berbagai bentuk kekeliruan penggunaan bahasa Indonesia oleh para musisi Indonesia.
(more…)

»

Kenangan Jalan Penuh Keajaiban Menuju London

Setiap kali menjelang akhir bulan Oktober, seperti sekarang ini, saya selalu terkenang sebuah kisah yang terjadi tiga tahun lalu. Sebuah kisah menarik yang akan selalu terkenang sepanjang masa.

Kisah tentang apa?

Selama ini, kebanyakan teman-teman saya hanya tahu bahwa pada tahun 2013 lalu saya terbang ke London untuk mewakili Indonesia dalam acara Mozilla Festival. Padahal di balik itu, saya sempat hampir tidak bisa berangkat. Ada jalan berliku, tetapi penuh keajaiban.

Saya memang belum pernah menceritakannya secara lengkap di blog ini. Setelah saya pertimbangkan, rasanya tidak ada salahnya sekarang saya berbagi kenangan tentang itu. Mumpung saat ini saya masih ingat.

Oh iya, ini bukan tulisan tentang cara mengurus visa dari A sampai Z. Bukan! 🙂

Keajaiban dimulai ketika pada suatu hari di pertengahan bulan September 2013, tidak lama setelah Nonstop Maker Party 2013 sukses digelar di Surabaya, tiba-tiba saya menerima undangan untuk menghadiri Mozilla Festival 2013 di London, Inggris.

Saya sangat terkejut sekaligus bersyukur karena tidak menduga akan diundang ke acara tersebut.
(more…)

»

KBBI Daring

KBBI Daring: Berbasis Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima (yang versi cetaknya baru akan diterbitkan pada tahun 2017 mendatang), KBBI Daring mulai tersedia untuk publik sejak 28 Oktober 2016, bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-88. KBBI Daring dikembangkan dan dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

»

Pelajaran (yang Terlewatkan) dari Kesuksesan RBT

Kesuksesan penjualan (atau mungkin tepatnya penyewaan, karena hanya berlaku selama sejumlah hari tertentu saja) ring-back tone (RBT) di Indonesia jelas tak terbantahkan. Banyak yang menyebutnya sangat fenomenal, luar biasa. Bahkan kehadiran RBT dianggap sebagai peluang bisnis baru yang sangat menggiurkan bagi para pelaku industri musik di Tanah Air pada umumnya. Angka penjualan CD dan kaset yang disebut-sebut semakin turun dan peredaran MP3 tidak resmi secara gratis lewat Internet menjadi pembenaran yang kuat bagi banyak pihak untuk semakin menekuni bisnis RBT.

Para penyanyi pun semakin tidak malu-malu mengakui alasan utama mereka belakangan ini lebih suka merilis karya baru dalam bentuk single ketimbang album. Yaitu, untuk dipasarkan sebagai RBT atau nada sambung. Meskipun terkesan agak berlebihan, tapi bisa dibilang semua itu sah-sah saja. Wajarlah jika orang-orang jadi lebih berkonsentrasi pada sesuatu yang dianggap paling menghasilkan duit. Apalagi ketika hal itu dilakukan atas nama demi kelangsungan hidup industri musik Indonesia.

Namun, di sisi lain, akan jauh lebih baik jika mereka bisa mempertimbangkan untuk tidak hanya menggantungkan nasib industri musik Indonesia kepada RBT begitu saja. Apalagi suatu saat masa keemasan RBT pasti akan memudar. Bahkan tanda-tandanya sudah mulai tampak sejak kini. Lihat saja. Sudah mulai ada pihak yang banting harga biaya berlangganan, bikin paket hemat beli satu dapat dua, hingga pemaksaan berlangganan baik langsung maupun tidak langsung yang dilakukan oleh operator seluler ataupun pihak terkait lainnya.

Sudah saatnya berbagai pihak terkait memikirkan kembali nasib penjualan album musik Indonesia agar kembali berjaya tanpa harus tergantung pada RBT. Caranya? Strateginya? Tidak perlu jauh-jauh.

Dari kesuksesan RBT itu saja, saya melihat banyak hal dan fakta yang bisa dipetik sebagai pelajaran berharga dalam menyusun strategi yang inovatif bagi perkembangan bisnis musik Indonesia. Dan semua itu rasanya bukan sesuatu yang baru, tapi mungkin selama ini banyak yang lupa atau terlewatkan. Apa saja?
(more…)

»

1 » 321123...2040...» »