Meningkatnya Minat “dalam Bahasa Indonesia”

Ada sebuah wawasan yang menarik perhatian saya ketika membaca sekilas isi laporan Google Year in Search 2021: Indonesia. Apakah itu?

Yaitu, terkait dengan peningkatan kebutuhan terjemahan dalam bahasa Indonesia.

bahasa

Dalam laporan tahunan yang dipublikasikan beberapa hari lalu itu disebutkan, sepanjang tahun 2021 lalu, minat pencarian (atau penelusuran, padanan yang digunakan Google Indonesia untuk “search”) terhadap “dalam bahasa Indonesia” meningkat hingga 40%.

Ini masukan yang bagus bagi para pengelola situs web dan aplikasi yang menargetkan pasar Indonesia agar tidak lupa menyediakan versi bahasa Indonesia. Tentunya, dengan kualitas yang tidak asal-asalan. 😉

Podcast Taat Asas dari YouTube

Meskipun merupakan platform berbagi video secara daring, tapi ketika membuat podcast (siniar) untuk pertama kalinya yang bertajuk “The Upload: The Rise of the Creator Economy” ini, tampaknya YouTube tetap berusaha taat asas.

Taat pada pengertian awal bahwa podcast pada dasarnya adalah berkas audio berbentuk digital yang diunggah ke internet.

    a digital audio file made available on the internet for downloading to a computer or mobile device, typically available as a series, new instalments of which can be received by subscribers automatically.
    Oxford Languages



Lihatlah. Ketika podcast pertama dari YouTube itu diunggah ke platformnya, rekamannya memang tetap dalam bentuk video, tetapi isinya hanya menampilkan suara saja dari penyiarnya, bukan tampilan gambar bergerak dari pihak yang berbicara.

Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia …

Satu-satunya Layanan Gojek Tanpa Go?

paylater-go

Ketika beberapa hari lalu garis waktu di Twitter ramai dengan komentar dan iklan tentang logo baru Gojek, saya jadi tertarik mencari informasi soal itu di situs webnya. Di situs webnya, selain logonya, terlihat deretan ikon dari berbagai layanannya juga ikut berubah. Dari situ saya malah baru menyadari bahwa ternyata ada satu layanan yang tidak dilekatkan prefiks atau awalan Go di depan namanya. Apakah itu?

Layanan itu tertulis sebagai PayLater, bukan GoPayLater. Nama tersebut langsung terlihat berbeda di antara layanan-layanan Gojek seperti GoRide, GoCar, GoFood, GoPay, GoTix, dan lain-lain. Apakah berarti PayLater adalah satu-satunya layanan Gojek yang tidak pakai prefiks “Go”? Untuk saat ini tampaknya demikian.

Padahal selama ini Gojek terbilang paling konsisten menyematkan prefiks “Go” dalam penamaan nama layanan jika dibandingkan merek lain. Sehingga nama layanan PayLater itu jadi terlihat agak aneh. Apalagi beberapa merek lain yang punya layanan bernama sama justru menyematkan merek mereka. Sebut saja seperti OVO PayLater.
Read More

Diundang ke Mozilla l10n Workshop 2017 di Taipei

Bulan April lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Taipei, Taiwan. Berlibur? Bukan. Saya menghadiri undangan acara Mozilla l10n Workshop 2017 yang berlangsung selama dua hari. Tepatnya, 22-23 April 2017.

Mozl10nTPE
Halo Taiwan!

Sebelumnya, untuk wilayah Asia, acara serupa pernah diadakan di Bangkok, Thailand (2015) dan Kuala Lumpur, Malaysia (2016).

Dalam acara di Taipei kali ini, pesertanya terdiri atas para pelokal (localizer) yang berasal dari 11 negara di Asia. Dari Indonesia, selain saya juga ada Eljuno Kasih dan Fauzan Alfi. Sementara staf Mozilla yang hadir berjumlah empat orang seperti tahun-tahun sebelumnya. Yaitu, Francesco Lodolo (Flod), Axel Hecht (Pike), Peiying Mo, dan Gary Kwong.

Mozl10nTPE
Ruangan di kantor Mozilla Taiwan yang digunakan untuk lokakarya selama dua hari. FOTO: BENNY CHANDRA.

Dari Surabaya, saya terbang ke Taiwan via Singapura dengan China Airlines. Asyiknya, untuk penerbangan siang hari dari Singapura (SIN) ke Taipei (TPE), maskapai berkode CI itu menggunakan pesawat Airbus A350 yang terbilang masih sangat baru.

Di antara logo-logo kantor Mozilla. FOTO: FAUZAN ALFI.

Read More

Musisi Indonesia, Yuk Lebih Mencintai Bahasa Indonesia

Kita sering mendengar anak-anak kecil, juga orang dewasa, dengan mudah menyenandungkan potongan lirik dari lagu yang sedang mengetop. Lirik lagu rasanya lebih mudah dihafal ketimbang isi buku pelajaran di sekolah atau kampus dahulu. Bukan begitu?

Dari lirik lagu juga, tidak jarang kita mengenal kata-kata tertentu yang terkesan baru atau asing, padahal sebenarnya sudah lama ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dari sejumlah lagu KLa Project, misalnya, sebagian dari kita (termasuk saya) mengenal kata-kata seperti “terpuruk” (lagu “Terpurukku di Sini”), “nelangsa” (“Tak Bisa ke Lain Hati”), dan “romansa” (“Romansa”).

Tidak hanya lagu berbahasa Indonesia, yang berbahasa asing juga pengaruhnya tidak kalah hebat. Lihatlah, belakangan ini tiba-tiba banyak yang bisa berbahasa Korea menyanyikan potongan lirik lagu “Gangnam Style” dari PSY.

Lirik lagu memang bisa menjadi sarana efektif untuk mengenalkan atau membuat orang tertarik belajar bahasa dengan cara yang menyenangkan. Namun, sayangnya, di sisi lain ada hal yang cukup memprihatinkan, khususnya menyangkut lagu Indonesia yang dibawakan oleh para musisi Tanah Air. Apa itu?

Kalau didengarkan lebih jelas, terdapat cukup banyak lirik dalam lagu-lagu Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kekeliruan demikian akan semakin tampak jelas dalam isi buklet lirik lagu yang biasanya disertakan dalam album. Termasuk juga adanya bahasa Indonesia dan bahasa asing yang campur aduk dalam sebuah lagu — entah itu judul atau liriknya. Jika terus berlangsung, hal tersebut tentunya akan dapat mengganggu perkembangan bahasa Indonesia.

Beberapa lagu terkenal berikut ini bisa jadi contoh berbagai bentuk kekeliruan penggunaan bahasa Indonesia oleh para musisi Indonesia.
Read More