Benny Chandra dot com

blogging without tagline since 2001

Dave Koz & Patti Austin

@ Java Jazz Festival, Jakarta.

Nathan King (Level 42)

@ Level 42 Indonesian Tour, Surabaya.

Jamie Cullum

@ Java Jazz Festival, Jakarta.

Archive for 2005

Wednesday
Dec 28,2005


king kongJika memungkinkan, ingin rasanya menghapus 30 menit pertama dan 30 menit terakhir dari film King Kong-nya Peter Jackson. Kenapa? Meskipun masih tersisa sejumlah kejanggalan, membuang kedua bagian yang paling tidak menarik itu setidaknya akan cukup membuat film berdurasi sekitar 3 jam tersebut lebih enak ditonton. Lihat saja.

Mengingat film ini merupakan remake dari film berjudul sama produksi tahun 1933, mungkin alur ceritanya sudah tidak asing lagi. Ann Darrow (Naomi Watts), seorang artis teater, sedang kebingungan mencari pekerjaan baru karena teater tempat ia bekerja selama ini bankrut akibat tekanan perekonomian dan sosial yang semakin memburuk. Di sisi lain, Carl Denham (Jack Black), seorang sutradara film yang barusan bermasalah dengan sejumlah penyandang dananya selama ini kebetulan sedang berburu artis untuk bakal film terbarunya yang akan berlokasi di sebuah pulau terpencil. Bisa diduga, bertemulah keduanya. Dan bisa ditebak pula, Carl merasa cocok untuk memasang Ann sebagai artis utama meskipun Ann bukan seorang artis terkenal.

Kehadiran Adrien Brody sebagai Jack Driscoll, sang penulis skenario kondang, tetap saja kurang mampu menghilangkan kebosanan mengikuti adegan per adegan pada bagian awal film ini yang berjalan lambat dan agak bertele-tele. Lewatkan saja garingnya adegan syuting di kapal dan kisah romantis antara Ann dan Jack selama perjalanan ke Skull Island. Sampai di sini, rasanya gak percaya seorang sutradara seperti Peter Jackson menghambur-hamburkan durasi film hanya untuk adegan-adegan yang tidak menarik seperti itu. Apalagi dalam film ini dia tidak hanya memegang posisi sutradara saja, tetapi juga terlibat dalam penulisan skenario.

Untunglah masih ada (more…)

  • [»] · Top Ten News Photos of 2005: Versi National Geographic. Foto memang lebih bisa berbicara banyak, apalagi foto-foto ala National Geographic :) · (2)
  • [»] · One in Five Blogs is Spam: Gw setuju dengan hasil riset Umbria Communications itu jika yang dimaksud spam blog itu adalah “sites created only for marketing purposes, often using stolen content via RSS feeds to trigger keyword-based ads from Google’s AdSense and other contextual ad programs.” Bahkan bisa jadi persentasenya mungkin lebih dari itu. Mudah-mudahan blog-blog spam semacam itu bisa cepat berkurang. · (2)
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Hari Ibu atau Hari Perempuan?

Thursday
Dec 22,2005

Dalam perjalanan ke kantor tadi pagi, dari channel radio yang gw setel terdengar sejumlah penelpon yang berbicara soal ibunya. Oh, rupanya hari ini adalah Hari Ibu :)
Nampaknya sudah menjadi semacam tradisi di Indonesia, setiap tanggal 22 Desember selalu banyak kegiatan untuk merayakan Hari Ibu terlihat dan terdengar di mana-mana, termasuk acara-acara di radio dan tv. Begitu juga dengan iklan-iklan di media cetak maupun elektronik. Semuanya soal ibu. Di beberapa iklan, malah ada tambahan sosok anak bersama ibu. Mungkin untuk menguatkan sosok ke-ibu-an.

Mendengar atau membaca kata “ibu”, yang langsung terbayang adalah sosok perempuan dewasa yang sudah punya anak, minimal sudah menikah. Apakah berarti perayaan Hari Ibu terbatas hanya untuk ibu-ibu? Hanya untuk dan oleh mama-mama? Bagaimana dengan perempuan lajang? :roll:
Ketika melakukan pencarian di Google, gw menemukan artikel Yeni Rosa Damayanti dan Hary Prabowo di Kompas berjudul “Hari Ibu Tidak Sama dengan “Mother’s Day”: Mengembalikan Akar Sejarah Hari Ibu” yang isinya mengenai sejarah Hari Ibu. Dalam artikel itu disebutkan bahwa yang menjadi cikal-bakal adanya Hari Ibu adalah Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928 yang dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Adapun penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.

Tujuan kongres ini untuk mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan perempuan Indonesia dan menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam suatu badan federasi yang demokratis tanpa memandang latar belakang agama, politik, dan kedudukan sosial dalam masyarakat.

Kongres Perempuan I ini berhasil merumuskan beberapa tuntutan yang penting bagi kaum perempuan Indonesia, seperti penentangan terhadap perkawinan anak-anak dan kawin paksa, tuntutan akan syarat-syarat perceraian yang menguntungkan pihak perempuan, sokongan pemerintah untuk para janda dan anak yatim, beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan.

Melihat tujuan dan hasil kongres tersebut yang lebih menekankan pada perjuangan perempuan Indonesia pada umumnya ketimbang soal ibu, kenapa hari ini gak dinamakan Hari Perempuan saja ya? :roll:

  • [»] · Think Away the Pain: Berusaha berkonsentrasi, memperhatikan aktivitas pikiran untuk bisa mengurangi rasa sakit yang sedang dialami? Ah, kok BASBANG sih?! Hal itu kan udah lama dikenal dalam latihan meditasi… :) Jangan, jangan tanya detilnya ke gw! Gw bukan pakar meditasi… he he he :D · (1)

Meta


Recent Comments

    Hedi: karena wartawan juga meminta kenaikan [...]

    si Nur: Mustinya gratis bisa ya mas... [...]

    bram: mas beny, kalau ada radio [...]

    bram: mas beny, kalau ada radio [...]

    teguh: kami siap membantu anda bagi [...]

    bek: ho oh.. mendukung juga kl [...]

    5 Alasan Kenapa Kompas Tidak Seharusnya Naikkan Harga » Benny Chandra dot com: [...] kertas masih bisa diperkecil. [...]