20 Detik dan Pecha Kucha Night Surabaya

pecha kucha night

Presentasi 20 slides dengan durasi 20 detik per slide.

Itulah hal yang membuat saya tertarik untuk datang ke acara Pecha Kucha Night. Ya, saya penasaran ingin melihat bagaimana para pembicara bisa menyiasati aturan itu dengan sukses atau tidak. 🙂

Akhirnya, rasa penasaran itu terbayar ketika beberapa hari lalu (tepatnya 25 November 2009) saya bisa datang ke acara Pecha Kucha Night Surabaya #02 (info via Jie). Di edisi Surabaya #01 yang digelar beberapa bulan lalu, saya tidak bisa hadir. Kali ini, acaranya diadakan di sebuah kafe bernuansa outdoor di jalan Sumatera, Surabaya. Karena lokasinya tidak terlalu jauh, saya berusaha datang tidak (terlalu) terlambat. 😛 Menurut jadwal yang tercantum di poster sih seharusnya dimulai jam 06.30 pm…

PKN
PKN

Sekitar jam setengah delapan malam (akhirnya) acara dimulai. Dengan mengusung tema “I Love Indonesia”, berturut-turut pembicara yang tampil di atas panggung adalah Jimmy Priatman (arsitek, dosen), Stephen R. Lomax (general manager Ciputra Golf & Hotel), Nicoline Patricia Malina (fotografer mode), Bing Fei (desainer grafis), Aryani Widagdo (pendiri Arva School of Fashion), Ivan Sielegar (pendiri Navinot.com), Istiawati Kiswandono (food architect), Jay Subiakto (sutradara, fotografer), Errol Jonathans (direktur operasional Radio Suara Surabaya).

PKN
PKN

Secara keseluruhan, kemasan acara kali ini cukup menarik meskipun persiapan para pembicara untuk berpresentasi 20 detik per slide berbeda-beda. Ada yang terlihat cukup siap, ada pula yang tidak siap. Ada yang sekadar membaca contekan, ada yang sering terdiam di atas panggung, tapi ada juga yang presentasinya berjalan mulus di depan ratusan pengunjung yang datang malam itu.

Agak sedikit mengecewakan memang ketika melihat presentasi yang kurang siap. Di sisi lain, aturan “20 slides dengan durasi 20 detik per slide” yang seharusnya bisa jadi ciri khas andalan acara ini malah kurang begitu terlihat pada saat itu. Yang terlihat adalah ada yang tiba-tiba gelagapan karena belum selesai berbicara tapi slide-nya sudah berubah ke slide berikutnya. Ada pula yang terdiam karena kehabisan bahan bicara padahal slide-nya belum berganti. 😆

Kalau boleh usul sih, untuk episode selanjutnya mungkin perlu dipasang countdown timer yang bisa terlihat jelas oleh pembicara dan peserta agar nuansa “20 detik” itu jadi lebih terasa (menegangkan).

Di luar semua itu, saya sendiri sih berharap acara ngumpul-ngumpul sambil berbagi pengalaman seperti ini bisa terus berlanjut diadakan di Surabaya. Apalagi acara ini tidak harus bayar tiket masuk alias gratis. 🙂

Btw, ada yang bisa menebak, foto pertama di atas itu siluetnya siapa? 😀

FOTO-FOTO: BENNY CHANDRA.

Print Friendly, PDF & Email

Benny

Blogger

14 thoughts to “20 Detik dan Pecha Kucha Night Surabaya”

    1. @Ivan @ NavinoT: duduk di sebelah tapi kayaknya hanya tenang-tenang aja tuh… he he he 😀
      @Jiewa: ha ha ha, jawabanmu benar! sampai ketemu di lain waktu 🙂

  1. Thanks buat inputnya, Benny..
    nanti next time coba kami sediakan countdown timer biar seru, hanya saja moga2 audience tidak distracted malahan dengan menghitung2 countdown instead of menyimak content presentasinya.

    1. @Adhiatma Gunawan: Sip! Semoga dgn adanya countdown timer bakal membuat PKN jadi makin seru dan makin menantang. He he he 🙂 Mungkin awalnya akan sedikit membingungkan tapi di sisi lain hal itu akan menjadi daya tarik utama dari PKN jika dibandingkan dengan acara berbagi ilmu lainnya. Bukankah aturan “20 detik” itu sendiri sebenarnya memang formula utama PKN? CMIIW 🙂

    1. @Paman Tyo, bagusnya sih countdown timer-nya menghadap ke pembicara dan hadirin 🙂 Sekalian hadirin juga bisa ‘mengingatkan’ pembicara yg kadang-kadang lupa diri keasikan ngomong… ha ha ha :))

  2. Nicole cantik banget 🙁

    Btw, slideshow pake countdown timer kayaknya asik juga haha. Kayaknya perlu dibikin seperti ini buat kelas kelas bahasa di kampus kampus.

Comments are closed.