




Sabtu malam kemarin (9/9), kebetulan gw sempat menyaksikan sinetron baru di RCTI berjudul DTK “Dunia Tanpa Koma”, yang digembar-gemborkan sebagai sebuah sinetron yang menjanjikan. Dilihat dari pendukungnya memang cukup menjanjikan. Mulai dari artis pendukungnya sampai penulis skenarionya, semuanya memang nama-nama kondang. Lihat saja yang sudah tampil dalam episode pertama kemarin itu, ada Dian Sastro, Fauzi Baadila, Tora Sudiro, Surya Saputra, Didi Petet, Slamet Rahardjo, Wulan Guritno, Indra Birowo, Cut Mini, dan Donny Damara. Itu masih ditambah dengan sederet nama terkenal lain macam Leila S. Chudori (penulis skenario), Leo Sutanto (produser), dan Maruli Ara (sutradara). Kurang? ![]()
Ya, kurang Nicholas Saputra, Rachel Maryam, dan Aida Nurmala! Kenapa? (more…)


Terjadinya aksi beringas yang dilakukan suporter sepakbola di Surabaya kemarin sore sungguh memprihatinkan. Lewat tayangan di tv, terlihat para suporter dengan entengnya memecahkan kaca-kaca mobil yang diparkir di depan Stadion Tambaksari. Bahkan sejumlah mobil dibakar. Brutal!
Tidak hanya itu. Saat gw mendengarkan Radio Suara Surabaya, ada pengendara mobil yang melaporkan kalau kaca mobilnya dipecahkan oleh rombongan suporter yang melintas di jalan raya. Doh!
Tiba-tiba gw jadi teringat dengan wawancara gw sekitar 10 tahun silam dengan sosiolog Hotman Siahaan mengenai aksi brutal suporter sepakbola. Kebetulan pada saat itu, gw juga sempat menemukan seorang suporter untuk diwawancara. Berdasarkan arsip gw, hasil wawancara tersebut dimuat di majalah Hai edisi 42/XX/22 Oktober 1996 menjadi dua artikel.
Melihat tahun wawancara dan pemuatannya memang sudah lama namun gw rasa ada sejumlah pendapat dari Hotman yang masih menarik untuk disimak kembali.
Dalam wawancara itu, Hotman mengatakan bahwa dalam situasi bergerombol, orang bisa melakukan apa saja karena itulah karakteristik massa. “Pada dasarnya setiap kerumunan punya kemungkinan menimbulkan kerusuhan, bukan hanya sepakbola,” kata Hotman.
Saran supaya suporter diseleksi, menurutnya sama saja. Hal itu tidak menyelesaikan masalah. Pasalnya ketika orang-orang yang terseleksi itu berkumpul, karakteristik massanya tetap ada meskipun mungkin dengan gradasi yang lebih rendah.
Jadi, solusinya? (more…)
Awalnya gw sempat heran membaca sejumlah komentar di posting berjudul Pameran Foto dan Penyerahan Medali SFI XXV. Para pemberi komentar itu rata-rata menyatakan ingin bergabung dengan Contoh Management. What? Contoh Management? Apa hubungannya dengan gw?
Akhirnya, via Google, gw menemukan kaitannya. Rupanya ada orang bernama Benny di Contoh Management, tepatnya Benny Simanjuntak. Nah, harusnya “Benny Chandra” dan “Benny Simanjuntak” bedanya jauh banget tapi kenapa orang-orang itu bisa menganggap gw ada kaitannya dengan Contoh Management?
Beberapa kali, via kolom komentar di posting itu, gw coba ngasih tahu kalo gw -Benny Chandra- gak ada hubungannya dengan manajemen artis dan model itu tapi tetap saja komentar-komentar yang isinya ingin bergabung sebagai model terus berdatangan. Bahkan walaupun udah gw ancam akan menghapus komentar yang masih mengkait-kaitkan gw dengan Contoh Management, tetap aja hingga kemarin masih ada yang nekat dan tidak menyadari perbedaan tersebut
Masak mau jadi model top tapi membedakan nama aja tidak bisa… Doh! ![]()