(Masih) “Mission: Impossible” Rasa “ALIAS”

Ketika datang ke bioskop untuk menonton Mission: Impossible – Ghost Protocol ini, awalnya saya berharap sekuelnya sekarang bisa lebih baik dari seri-seri sebelumnya.

Setidaknya, saya bisa mendapat suguhan hiburan yang lepas dari bayang-bayang pengaruh film seri televisi ALIAS-nya J.J. Abrams seperti yang terjadi dalam M:i:III.

Bukan, saya bukan anti J.J. Abrams dan karya-karyanya. Saya bahkan termasuk salah seorang penggemar ALIAS. Hanya saja, saya tidak ingin film seri legendaris seperti Mission: Impossible justru terus-menerus di bawah bayang-bayang atau nuansa dari film lain sehingga tidak punya ciri khas sendiri.

Kembali ke sekuel yang kali ini disutradarai oleh Brad Bird. Begitu melihat Jane Carter (Paula Patton) meloloskan Ethan Hunt (Tom Cruise) dari penjara dengan cara melubangi lantai, mengingatkan pada cara serupa di Mission: Impossible III saat Hunt dan rekannya menculik sang penjahat, harapan saya terhadap film ini mulai terusik.

Sudah begitu, tiba-tiba ada penampakan nama J. J. Abrams pada opening credits, yang durasinya terasa lebih panjang dari biasanya. Ternyata sekarang Abrams bertindak sebagai salah satu produser. Belakangan saya baru tahu kalau dua penulis skenario film ini, André Nemec dan Josh Appelbaum, termasuk orang-orang yang pernah terlibat dalam pembuatan ALIAS juga. Terjawab sudah keheranan saya kenapa sekuel ini diwarnai sejumlah adegan yang bikin saya deja vu. Membuat saya merasa sudah pernah melihat adegan serupa, entah di sekuel sebelumnya maupun ALIAS.

Meskipun cukup menegangkan, adegan Hunt yang berayun-ayun di gedung pencakar langit tertinggi Burj Khalifa, Dubai, misalnya, membuat saya teringat dengan adegannya di gedung pencakar langit juga dalam sekuel sebelumnya. Sementara cara Carter untuk mengorek kode rahasia dari seorang pengusaha telekomunikasi Brij Nath, seingat saya pernah dilakukan Sydney dalam salah satu episode ALIAS.

Adapun topik cerita yang mengusung rencana adu domba untuk menyulut perang nuklir antar Amerika dan Rusia sebagai latar belakang aksi Hunt dan kawan-kawan kali ini terbilang kurang mengesankan, karena topik seperti itu sudah cukup sering dihadirkan dalam sejumlah film lain. Begitu pula dengan suasana pengejaran di tengah badai pasir yang terasa kurang menarik. Padahal seharusnya suasana seperti itu bisa dimanfaatkan lebih jauh untuk menambah unsur dramatis dalam film ini.

Yang terbilang cukup unik dan menarik dari film berdurasi lebih dari dua jam ini mungkin hanya keberadaan gerbong kereta canggih milik IMF dan gedung parkir serba otomatis.

Oh ya, kali ini tidak ada aksi penyamaran yang biasa dilakukan dengan menggunakan topeng yang sangat mirip dengan wajah aslinya. Sempat diperlihatkan topengnya gagal dibuat. Sepertinya ini adalah pertama kalinya dalam sejarah film seri Mission: Impossible. Koreksi jika saya salah.

Secara keseluruhan, di luar pengaruh ALIAS, film ini terbilang agak membosankan. Bahkan jika dibandingkan dengan sekuel sebelumnya, yang sangat kental dengan nuansa dari film seri televisi yang dibintangi Jennifer Garner itu.

Ngomong-ngomong, kapan nih Mas Cruise dan Mas Abrams ngajak Mbak Garner tampil di M:I?

Baca juga:

10 comments on “(Masih) “Mission: Impossible” Rasa “ALIAS”

  1. “keberadaan gerbong kereta canggih milik IMF”. Ini nyontek Harry Potter. Karena gerbongnya kecil dan pintunya kayu, tiba tiba di dalemnya gede dan apa saja ada. Pasti pake magic.

  2. Kemarin sempat lihat film ini di bioskop. Istri ngajak nonton, tapi entah kenapa kurang minat. Dan akhirnya milih Sherlock Holmes 2. Hehehe. Rupanya firasatku *halaaah firasat* ada benar juga…

    1. @ amen, yg meranin tokoh “Marcus Dixon” maksud lu? Sekalian aja ajak tokoh “Marshall” utk gantiin posisi Benji, yg mirip banget karakternya. Loh, ini ujung2nya tetap aja ALIAS versi bioskop… hahaha 😆

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *