Reuni dengan Guru Sinlui yang Paling Berpengaruh

Dalam Reuni St. Louis 1994 pada 3 Agustus 2019 lalu, saya berkesempatan bertemu lagi dengan salah satu guru yang paling berpengaruh terhadap diri saya. Beliau adalah FX. Arie Soeprapto yang dulu pernah menjadi Guru Seni Musik dan Pembina ekstrakurikuler Fotografi dan Paduan Suara di SMA Katolik St. Louis 1, Surabaya.

reuni pak yapi

Dari Pak Yapi, demikian beliau biasa dipanggil, saya banyak belajar seluk-beluk dunia fotografi. Mulai dari teknik dasar memotret, cuci dan cetak film hitam putih secara manual, tips berburu dan menyiapkan foto untuk ikut lomba dan salon foto, hingga memotret acara-acara. Beliau tidak pelit berbagi ilmu dan pengalaman. 📷📸🏆
« … »

Satu-satunya Layanan Gojek Tanpa Go?

paylater-go

Ketika beberapa hari lalu garis waktu di Twitter ramai dengan komentar dan iklan tentang logo baru Gojek, saya jadi tertarik mencari informasi soal itu di situs webnya. Di situs webnya, selain logonya, terlihat deretan ikon dari berbagai layanannya juga ikut berubah. Dari situ saya malah baru menyadari bahwa ternyata ada satu layanan yang tidak dilekatkan prefiks atau awalan Go di depan namanya. Apakah itu?

Layanan itu tertulis sebagai PayLater, bukan GoPayLater. Nama tersebut langsung terlihat berbeda di antara layanan-layanan Gojek seperti GoRide, GoCar, GoFood, GoPay, GoTix, dan lain-lain. Apakah berarti PayLater adalah satu-satunya layanan Gojek yang tidak pakai prefiks “Go”? Untuk saat ini tampaknya demikian.

Padahal selama ini Gojek terbilang paling konsisten menyematkan prefiks “Go” dalam penamaan nama layanan jika dibandingkan merek lain. Sehingga nama layanan PayLater itu jadi terlihat agak aneh. Apalagi beberapa merek lain yang punya layanan bernama sama justru menyematkan merek mereka. Sebut saja seperti OVO PayLater.
« … »

Yang Masih Tersisa dari Film “Searching”

Film “Searching” memang sudah tidak tayang lagi di bioskop, tetapi cerita yang diusungnya masih berkesan di benak saya.

Mengusung kisah pencarian seorang anak hilang oleh ayahnya, sekilas, film ini terkesan biasa-biasa saja. Apalagi tidak bertaburan nama-nama besar. Namun, sebenarnya tidak demikian. Topik yang tergolong sederhana itu cukup berhasil digarap menjadi sesuatu yang oke. Lebih oke daripada ekspektasi saya sebelumnya.

searching

Awalnya, saya tertarik menonton film arahan Aneesh Chaganty ini karena mendapat kabar digunakannya internet sebagai alat bantu utama dalam pencarian itu.

Kombinasi penggunaan komputer dan internet memang membuat film ini lebih menarik untuk diikuti. Namun, plot ceritanya tetap menjadi faktor penting. Plot yang tidak terlalu gampang ditebak, bahkan dari awal cenderung mengecoh dengan disertai, tentunya, unsur kejutan. Keberhasilan John Cho yang memerankan sang ayah bernama David Kim dan Michelle La sebagai Margot Kim yang mendadak hilang juga tidak bisa dilewatkan.

Selain itu, sesungguhnya ada hal lain yang lebih penting yang bisa dipetik untuk menjadi pelajaran. Yaitu, pesan dan sentilan terkait dengan hubungan antar anggota keluarga di era media sosial seperti sekarang.

Apa saja?
« … »

Versi Paling Menarik dari Lagu Asian Games 2018

Hingga beberapa hari menjelang pembukaan Asian Games 2018 di Indonesia, masih bermunculan sejumlah versi dalam bahasa asing dari lagu resmi pesta olahraga Asia itu.

Sebenarnya ada cukup banyak lagu yang dijadikan lagu resmi Asian Games di Indonesia kali ini tetapi hanya dua lagu yang paling populer sampai dibuatkan versi dalam berbagai bahasa. Kedua lagu berbahasa Indonesia itu adalah “Bright As The Sun” dan “Meraih Bintang”.

Meskipun lagu “Bright As The Sun” lebih dahulu diluncurkan tetapi jumlah versi bahasa asingnya kalah banyak ketimbang lagu “Meraih Bintang” yang baru dipublikasikan belakangan. Lihat saja.

Hingga tulisan ini selesai dibuat, ternyata hanya ada empat versi bahasa asing dari lagu “Bright As The Sun”. Yaitu, dalam bahasa Inggris, Korea, Thailand, dan Jepang. Bandingkan dengan “Meraih Bintang” yang sampai dibuatkan dalam versi enam bahasa asing oleh sejumlah penyanyi dari berbagai negara. Keenam bahasa itu adalah Inggris, Thailand, Korea, Mandarin, Arab, dan Hindi yang bermunculan sejak akhir tahun 2017 lalu hingga beberapa hari menjelang pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta.

Oh ya, versi asli “Bright As The Sun” memang ada liriknya yang berbahasa Inggris tetapi hanya di bagian refrein saja. Selebihnya dalam bahasa Indonesia.

Berbeda dengan versi yang dibawakan oleh Jannine Waigel yang liriknya hampir seluruhnya berbahasa Inggris dan hanya menyisakan sedikit bagian dalam bahasa Thailand.

Dari semua versi itu, manakah versi yang paling menarik?
« … »

Kisah Kasih Wonder Woman di Zaman Perang Dunia

Setelah Batman v Superman dan Suicide Squad yang mengecewakan, sebenarnya saya gak mau berharap terlalu banyak dari film Wonder Woman yang juga rilisan DC Comics. Tetapi, ternyata film arahan Patty Jenkins yang mulai diputar sejak 31 Mei 2017 lalu di Indonesia ini agak berbeda jika dibandingkan kedua film tadi itu.

Diawali dengan suguhan pemandangan indah lanskap sebagian kota Paris, terutama area sekitar Museum Louvre. Kemudian tampak sosok Diana Prince alias Wonder Woman (Gal Galdot) yang bekerja di tempat itu. Ia baru saja menerima kiriman paket berisi fotonya saat terlibat dalam Perang Dunia I. Foto itu kemudian membawa ingatannya kembali ke kenangan kisah kasihnya di masa silam.

Kasih? Ya, kenangan yang tersaji tidak hanya seputar kisah masa kecilnya di pulau Themyscira sebagai anak dari Ratu Hippolyta (Connie Nielsen), kepala suku Amazons yang semuanya cewek. Kemunculan tiba-tiba seorang pilot sekaligus mata-mata bernama Steve Trevor dan pasukan tentara Jerman yang mengejarnya, yang entah mengapa bisa menembus kabut yang selama ini menyembunyikan pulau itu dari dunia luar, mengubah perjalanan hidup Diana. Termasuk dalam urusan asmara.

Mirip dengan foto yang dikirim oleh Bruce Wayne. Beda warna… PHOTO: Warner Bros.

Dalam pertempuran di pantai, suku Amazons berhasil mengatasi serangan pasukan Jerman dengan aksi yang mengagumkan tetapi harus kehilangan Jendral Antiope (Robin Wright) yang tertembak peluru lawan dalam melindungi sang keponakannya, Diana. Mereka kemudian mengorek keterangan dari Steve mengenai apa sesungguhnya yang terjadi di luar sana dengan menggunakan Laso Kebenaran, agar tidak dibohongi.

Terpengaruh (dan terpesona) dengan cerita soal perang dunia dan mengira semua itu disebabkan oleh dewa perang Ares, Diana lantas memutuskan berlayar meninggalkan pulau bersama Steve dengan bermodal Laso Kebenaran dan juga pedang “godkiller” yang disebut sebagai peninggalan dewa Zeus. Tujuannya adalah untuk menemukan dan melenyapkan Ares. Sebuah rahasia besar menyangkut dirinya, yang tidak diceritakan oleh sang ibu, ikut membayangi kepergiannya.
« … »