Akhirnya BCA Buka di Gorontalo

Tadi pagi gw dapat kabar bahwa hari ini BCA (Bank Central Asia) membuka cabangnya yang pertama di Gorontalo, kota kelahiran gw. Akhirnya datang eh buka juga… secara beberapa tahun lalu sudah sempat tersiar kabar rencana pembukaannya.

Informasi yang gw terima, kantor cabang BCA Gorontalo itu bertempat di lokasi strategis. Tepatnya di jalan A. Yani, Gorontalo yang termasuk jalan protokol. Ancer-ancernya gedung BCA itu berada di sebelah sebuah apotik. Jika itu lokasi yang dimaksud, sepertinya persiapan pembukaannya tergolong super cepat. Pasalnya waktu bulan lalu gw pulang ke Gorontalo, bangunannya terlihat masih tahap finishing, eh sekarang sudah jadi kantor BCA! Busyet dah!

Setelah sempat tertunda bertahun-tahun, kehadiran BCA di Gorontalo tentunya memberikan harapan baru. Yang jelas, bagi gw, setidaknya tidak perlu pusing lagi untuk mengurus pembayaran kartu kredit BCA dan lain-lain saat sedang berada di Gorontalo (secara gw gak punya Key BCA). Sementara bagi masyarakat Gorontalo yang selama ini terbiasa berada dalam barisan antrian nan panjang di bank-bank seperti Bank Mandiri dan Bank Danamon, sekarang ini punya pilihan “tempat mengantri” yang baru… he he he 😆

»

Video Ring Back, Layanan Gacoan di Era 3G?

Seseorang yang sedang berada di lokasi konser menyiarkan langsung aksi panggung sebuah grup musik ke teman-temannya yang berada di berbagai lokasi berbeda dengan hanya bermodal ponsel berkamera video. Begitulah isi iklan di televisi soal kecanggihan layanan 3G dari salah satu operator yang sudah 3G ready.

Lepas dari kekuatiran apa yang dilakukan oleh penonton seperti di iklan tv itu mungkin bakal menuai larangan dari penyelenggara konser musik, fitur video nampaknya menjadi andalan dari semua penyedia layanan 3G. Selain iming-iming bisa melihat langsung orang yang ditelepon (video telephony) seperti yang sudah banyak dibicarakan di mana-mana, menonton konser sang idola dengan cara di atas mungkin bisa jadi daya tarik tersendiri untuk menggunakan layanan 3G. Bandingkan dengan beberapa tahun lalu di mana orang-orang hanya mengandalkan ponsel berkamera biasa untuk mengabadikan idolanya saat manggung dan mengirim foto itu via layanan GPRS.

ponsel konser

(more…)

»

Ketika Suporter Sepakbola Masih Bermasalah

artikel bonek

Terjadinya aksi beringas yang dilakukan suporter sepakbola di Surabaya kemarin sore sungguh memprihatinkan. Lewat tayangan di tv, terlihat para suporter dengan entengnya memecahkan kaca-kaca mobil yang diparkir di depan Stadion Tambaksari. Bahkan sejumlah mobil dibakar. Brutal! 😡

Tidak hanya itu. Saat gw mendengarkan Radio Suara Surabaya, ada pengendara mobil yang melaporkan kalau kaca mobilnya dipecahkan oleh rombongan suporter yang melintas di jalan raya. Doh! 😐

Tiba-tiba gw jadi teringat dengan wawancara gw sekitar 10 tahun silam dengan sosiolog Hotman Siahaan mengenai aksi brutal suporter sepakbola. Kebetulan pada saat itu, gw juga sempat menemukan seorang suporter untuk diwawancara. Berdasarkan arsip gw, hasil wawancara tersebut dimuat di majalah Hai edisi 42/XX/22 Oktober 1996 menjadi dua artikel.

Melihat tahun wawancara dan pemuatannya memang sudah lama namun gw rasa ada sejumlah pendapat dari Hotman yang masih menarik untuk disimak kembali.

Dalam wawancara itu, Hotman mengatakan bahwa dalam situasi bergerombol, orang bisa melakukan apa saja karena itulah karakteristik massa. “Pada dasarnya setiap kerumunan punya kemungkinan menimbulkan kerusuhan, bukan hanya sepakbola,” kata Hotman.

Saran supaya suporter diseleksi, menurutnya sama saja. Hal itu tidak menyelesaikan masalah. Pasalnya ketika orang-orang yang terseleksi itu berkumpul, karakteristik massanya tetap ada meskipun mungkin dengan gradasi yang lebih rendah.

Jadi, solusinya? (more…)

»

Iklan Penolakan terhadap RUU APP

KAMI MENOLAK RUU APP

Indonesia adalah taman bunga peradaban. Di dalamnya mekar beragam tradisi.
Indonesia adalah pelangi kebudayaan. Di dalamnya berpendar beragam adat.
Indonesia adalah lahan subur kesenian. Di dalamnya tumbuh beragam kreasi.
Indonesia adalah ruang semua agama. Di dalamnya bergema beragam doa.

Kini, keragaman itu sedang terancam oleh RUU APP.
Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi melarang kita menikmati kekayaan budaya kita.

Kita dilarang berpakaian menurut adat kita.
Kita dilarang mengungkapkan kasih sayang pada orang yang kita cintai.
Kita dilarang mengekspresikan keindahan tubuh dan tari-tarian kita.
Kita dilarang mengungkapkan kekayaan seni dan sastra kita.
Kita dilarang untuk menjadi diri kita sendiri.

RUU APP bukan melarang pornografi,
melainkan membenci tubuh manusia, mendiskriminasi kaum perempuan.
RUU APP terlalu jauh memasuki wilayah pribadi manusia,
yaitu tempat setiap orang memelihara keunikannya.

Setiap orang memiliki ukuran moral yang berbeda.
Setiap orang memiliki persepsi sensualitas yang berbeda.
Setiap orang memiliki daya imajinasi yang berbeda.

Tentu, kita ingin lindungi anak-anak kita.
Karena itu pornografi sudah diatur dalam undang-undang tentang perlindungan anak.
Tentu, kita ingin media massa tumbuh sebagai alat komunikasi yang santun dan cerdas.
Karena itu masalah pornografi sudah diatur dalam undang-undang tentang penyiaran.
Bahkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sudah jelas mengatur masalah pelanggaran kesusilaan.

Jadi, Cukup! Jangan merusak keragaman Indonesia dengan RUU APP yang keliru itu.

Indonesia adalah keragaman untuk semua.
Indonesia adalah kebebasan untuk semua.
Indonesia adalah kesetaraan untuk semua.
Indonesia adalah kedamaian untuk semua.

tolak ruu app

Begitulah cuplikan isi iklan penolakan terhadap RUU APP yang termuat satu halaman penuh (halaman 19) di Jawa Pos edisi Jumat 21 April 2006 kemarin, seperti yang juga termuat di halaman depan situs web Aliansi Mawar Putih, penggerak aksi penolakan itu.

Disebutkan bahwa biaya pemasangan iklan yang katanya dipasang juga di Koran Tempo dan The Jakarta Post pada hari yang sama itu merupakan hasil gotong royong dari 3000 orang, yang nama-namanya ikut dicantumkan di situ. Hmm, sebuah bentuk gotong royong yang mengagumkan!

Sedikit menengok ke belakang, sebenarnya cara gotong royong seperti itu pernah juga dilakukan oleh sekitar 10.000 pendukung browser Mozilla Firefox pada dua tahun lalu di mana mereka ramai-ramai mengumpulkan dana untuk pemasangan iklan 2 halaman penuh di surat kabar terkenal, NY Times. Bedanya, mereka bertujuan untuk mempromosikan browser Mozilla Firefox yang pada saat itu memasuki versi 1.0 sekaligus sebagai alternatif pengganti browser Internet Explorer yang selama ini mendominasi pasar browser.

tolak ruu app

Kembali ke soal iklan penolakan terhadap RUU APP tadi. Dengan pemasangan iklan tersebut, mereka yang menolak RUU APP berhasil membuktikan bahwa untuk menyerukan penolakan terhadap sesuatu bisa dilakukan dengan cara yang beradab dan damai disertai penjelasan singkat mengenai penolakan itu. Bukan dengan memasang tampang beringas, teriak-teriak di jalan, melakukan razia, apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan!

»

Hari Ibu atau Hari Perempuan?

Dalam perjalanan ke kantor tadi pagi, dari channel radio yang gw setel terdengar sejumlah penelpon yang berbicara soal ibunya. Oh, rupanya hari ini adalah Hari Ibu 🙂

Nampaknya sudah menjadi semacam tradisi di Indonesia, setiap tanggal 22 Desember selalu banyak kegiatan untuk merayakan Hari Ibu terlihat dan terdengar di mana-mana, termasuk acara-acara di radio dan tv. Begitu juga dengan iklan-iklan di media cetak maupun elektronik. Semuanya soal ibu. Di beberapa iklan, malah ada tambahan sosok anak bersama ibu. Mungkin untuk menguatkan sosok ke-ibu-an.

Mendengar atau membaca kata “ibu”, yang langsung terbayang adalah sosok perempuan dewasa yang sudah punya anak, minimal sudah menikah. Apakah berarti perayaan Hari Ibu terbatas hanya untuk ibu-ibu? Hanya untuk dan oleh mama-mama? Bagaimana dengan perempuan lajang? 🙄

Ketika melakukan pencarian di Google, gw menemukan artikel Yeni Rosa Damayanti dan Hary Prabowo di Kompas berjudul “Hari Ibu Tidak Sama dengan “Mother’s Day”: Mengembalikan Akar Sejarah Hari Ibu” yang isinya mengenai sejarah Hari Ibu. Dalam artikel itu disebutkan bahwa yang menjadi cikal-bakal adanya Hari Ibu adalah Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928 yang dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Adapun penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.

Tujuan kongres ini untuk mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan perempuan Indonesia dan menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam suatu badan federasi yang demokratis tanpa memandang latar belakang agama, politik, dan kedudukan sosial dalam masyarakat.

Kongres Perempuan I ini berhasil merumuskan beberapa tuntutan yang penting bagi kaum perempuan Indonesia, seperti penentangan terhadap perkawinan anak-anak dan kawin paksa, tuntutan akan syarat-syarat perceraian yang menguntungkan pihak perempuan, sokongan pemerintah untuk para janda dan anak yatim, beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan.

Melihat tujuan dan hasil kongres tersebut yang lebih menekankan pada perjuangan perempuan Indonesia pada umumnya ketimbang soal ibu, kenapa hari ini gak dinamakan Hari Perempuan saja ya? 🙄

»

Cara Lion Air Menghadapi Komplain Penumpang

“Ini Lion Air. Saya ini orang Lion Air!,” demikian kata-kata bernada pongah yang dilontarkan petugas di counter check in Lion Air di Bandara Juanda Surabaya pada Minggu pagi kemarin (31 Juli 2005) ketika diprotes soal aturan berat bagasi yang tidak sama.

Si petugas Lion Air ngotot kalo soal berat maksimal bagasi sekarang adalah 30kg, padahal di tiket jelas-jelas tertulis masih 35kg! Ketika dikonfirmasi ke petugas Lion Air lainnya, tetap saja si petugas gak mau tahu soal batasan yang tertulis di tiket itu. Pihak Lion Air malah (more…)

»

1 » 53123...2040...» »