Cewek lebih tertarik (ber)bisnis fotografi? Ini hanya kesimpulan sesaat ketika mengetahui para pendengar yang menghubungi 89.7 HRFM Surabaya baik via telepon maupun SMS saat pembahasan soal bisnis fotografi di “Bincang Fotografi” kemarin pagi semuanya adalah cewek!

Namun, bisa jadi bukan topik bisnis fotografi yang membuat cewek-cewek jadi rajin bertanya kemarin. Siapa tahu pemicunya adalah kehadiran Rudi dari Victory Photo dan Ferry (Indra Foto, Bali) yang jadi narasumber utama dalam episode kemarin… He he he

Hmm, kayaknya kapan-kapan soal ketertarikan cewek terhadap fotografi bisa dibahas lebih lanjut nih dalam acara talkshow “Bincang Fotografi” yang berlangsung saban Selasa mulai jam 08.30 di Good Morning Hard Rockers-nya 89.7 HRFM Surabaya… ![]()
Setelah sempat tertunda beberapa minggu, akhirnya kemarin pagi on air juga acara talkshow “Bincang Fotografi” di 89.7 Hard Rock FM Surabaya!
Asiknya talkshow itu dipasang di prime time dan digabung dalam acara andalan pula, yaitu acara Good Morning Hard Rockers-nya Ivan dan Meity yang terkenal ngocol. “Bincang Fotografi” dimulai dari jam 08.30 sampai 09.30 WIB sementara Good Morning Hard Rockers (GMHR) sendiri berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 10.00.
Kemarin, prewedding photography dipilih sebagai topik pertama dengan menghadirkan Hendra Irawan (Classic Photo Studio), April (Sueswit photography), dan tentunya gw dengan mengusung label Visualnow photography sebagai narsum ![]()
Buat yang gak sempat mendengarkan siaran episode kemarin, jangan membayangkan talkshow yang serius banget karena yang terjadi adalah ketawa-ketawa sepanjang acara secara kedua penyiarnya ngocol gituloh… ![]()
Rencananya talkshow “Bincang Fotografi” bakal rutin hadir saban Selasa jam 08.30-09.30 dalam acara GMHR. Gw juga bakal rutin menemani narsum yang hadir
Jadi, pada jam itu kudu nyetel 89.7 HRFM Surabaya ya! Jangan lupa! ![]()
Oleh Romadhona Zaytoon alias Kriwul, gw diminta menggantikannya menjadi salah satu pembicara di acara Seminar Jurnalistik “Speak Up with BLOG” yang diadakan oleh HIMATEKTRO ITS pada Minggu, 17 Desember 2006 besok di Gedung Pasca Sarjana ITS, Surabaya.
Jadi, kalo semuanya berjalan lancar, di sana gw bakal ngobrol soal blog bergantian dengan dua pembicara lainnya, Rane Hafied dan Raditya Dika. Rencananya, acara itu akan berlangsung cukup lama, dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Gw dapat jadwal ngomong sekitar jam 10 pagi ![]()
Mau sekalian kopdar di sana? Yuk! ![]()
UPDATE:
Kabar terakhir dari panitia, jadwal gw diundur jadi sekitar jam 11 siang. Oh ya, ternyata masih ada satu lagi pembicara, Ingki Rinaldi dari Kompas ![]()

Tadi siang sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 WIB, gw jadi salah satu narasumber dalam acara “Dialog IT” di Radio Suara Surabaya. Agak mendadak sih karena baru kemarin siang gw dihubungi Novi dari Heksa yang biasa ngurus acara itu.
Topik hari ini adalah soal kamera digital. Kebetulan beberapa waktu lalu gw pernah jadi narasumber dengan topik yang sama dalam acara talkshow IT di dua radio lainnya, Hard Rock FM Surabaya dan SCFM. Jadinya sudah bisa mengira-ngira apa yang akan dibahas atau ditanyakan. Meskipun begitu, gw sempat agak deg-degan juga. Pasalnya, sudah cukup lama gw gak ngobrol on air ![]()
Untunglah hingga acaranya kelar, semuanya berjalan cukup mulus. Dengan diselingi informasi lalu-lintas, tak terasa 1 jam cepat berlalu. Sementara pendengar yang bertanya via telepon juga lumayan banyak sampai gw dan Pak Jo (narasumber lainnya) diminta oleh Mbak Restu, penyiar, untuk menjawab singkat-singkat aja.
Banyaknya telepon dari pendengar mengingatkan gw saat on air di dua radio lain dengan topik yang sama dua dan tiga tahun lalu. Pada saat itu, banyak juga pendengar yang mengajukan pertanyaan. Hmm, ternyata topik mengenai kamera digital (masih) selalu menarik ![]()

KORAN LEBARAN, itulah nama surat kabar yang gw beli Selasa dan Rabu siang kemarin di pedagang koran asongan di perempatan jalan Kertajaya, Surabaya. Sepertinya itu adalah satu-satunya surat kabar yang terbit pada saat liburan 24 dan 25 Oktober tahun ini di Surabaya. Bagi yang biasa membaca Jawa Pos tentunya sudah tidak asing dengan tampilan yang diusung KORAN LEBARAN. Mirip banget kalo susah menyebutnya sama persis. Ya, tak salah, ini memang produknya Jawa Pos.
Walaupun mirip, terlihat ada sejumlah perbedaan dengan Jawa Pos edisi regular. Mulai dari jumlah halaman (lebih sedikit), harga (harga bandrol lebih murah tapi harga jual lebih mahal), hingga susunan redaksi! Seakan-akan seperti sebuah koran yang berbeda tapi sama.
Yang menarik, bukan baru tahun ini saja Jawa Pos versi Lebaran terbit. Kalau menurut catatan di kolom redaksinya, ini adalah tahun kelima. Hanya saja, seingat gw, awalnya edisi Jawa Pos yang terbit pada saat Lebaran masih belum diberi nama khusus. Nama yang diusung tetap Jawa Pos. Dan seingat gw juga, setelah beberapa kali terbit pada saat libur Lebaran, pernah sekali Jawa Pos benar-benar libur. Gw lupa tahun kapan.
Pada saat pertama kali terbit di hari libur Lebaran, nampaknya pihak Jawa Pos bangga sekali. Terlihat banyak spanduk dipasang di berbagai sudut kota hanya untuk memberitahu kalo koran itu tetap terbit di hari libur Lebaran. Anehnya, tahun ini tidak terlihat sama sekali spanduk promosi KORAN LEBARAN. Entah kenapa… ![]()
Meskipun tetap menganggap tata bahasa yang digunakan masih sering amburadul, namun gw harus mengakui bahwa KORAN LEBARAN adalah koran strategi, koran strateginya Jawa Pos. Mengapa begitu?
(more…)
Lantaran penasaran dengan apa yang diceritakan Thomas soal Dian Sastrwardoyo dan Super Milyader 3 Milyar (iya, memang begitu judul posting-nya Thomas), kemarin malam (1/10) gw sempat-sempatin untuk menonton acara “Super Milyarder 3 Milyar” yang disiarkan antv itu, meskipun gak sampai selesai. Padahal rencananya ingin keluar jalan-jalan agak sorean.
Ada beberapa hal baru lainnya dalam acara itu selain host baru. Salah satunya adalah tambahan fasilitas bantuan. Selain tiga fasilitas bantuan yang sudah ada selama ini, sekarang ada tambahan fasilitas yang diberikan setelah melewati titik aman pertama. Yaitu, Switch the Question alias bisa menukar pertanyaan yang dianggap sulit dengan pertanyaan lain. Begitu juga dengan titik aman pertama yang sekarang ada di level 3 juta. Sayangnya sejumlah perubahan yang terlihat di layar kaca itu tidak terpasang di situs web antv. Kayaknya informasi yang ada di situ sudah basbang…
Soal host baru, sepertinya terlalu berat bagi Dian Sastro menjadi host acara versi baru dari “Who Wants to Be a Millionaire?” yang selama ini identik dengan Tantowi Yahya itu. Pasalnya, selain akan selalu dibanding-bandingkan dengan Tantowi Yahya, juga ada beban tersendiri sebagai seseorang yang sebelumnya tidak punya pengalaman sebagai pembawa acara.
(more…)
Hari ini, 23 September 2006, Kompas -melalui rubrik Fokus- membahas soal “Konsumtivisme” yang disertai dengan sejumlah artikel pendukung. Yang menarik adalah soal tabel “Sejumlah Waralaba Asing di Indonesia” yang terpasang satu halaman (di halaman 35) dengan artikel berjudul “Donut sebagai Gaya Hidup” ![]()
Dalam tabel susunan Litbang Kompas yang diolah dari berbagai sumber (lengkapnya yang tertulis pada bagian bawah tabel: “Sumber: Litbang Kompas, diolah dari majalah Swa dan Wartek, tabloid Kontan dan Nova, situs KFC dan DailyBread”) itu disebutkan puluhan merek lengkap dengan nama perusahaan pemiliknya dan asal negara. Sekilas tidak ada yang aneh dengan isi tabel tersebut. Namun, setelah dibaca lebih teliti, rupanya tidak semua merek dalam tabel tersebut cocok disebut sebagai merek waralaba asing. Setidaknya ada tiga merek yang sebenarnya merupakan merek bikinan perusahaan lokal di Indonesia. Hah?

Ketiga merek itu adalah Hoka-Hoka Bento, Daily Bread, dan Izzi Pizza. Dalam tabel, Hoka-Hoka Bento disebut berasal dari Jepang dan Izzi Pizza ditulis berasal dari Italia. Sementara pada kolom asal negara untuk Daily Bread tidak diisi. Entah kenapa. Padahal berdasarkan artikel dalam majalah SWA dan Warta Ekonomi, ketiga merek itu dijelaskan sebagai merek-merek lokal alias kepunyaan perusahaan Indonesia. Bukan merek yang diimpor dari negara lain. Jadi, bagaimana (Litbang) Kompas? ![]()