Archive for the ‘Foods’ Category

Pencontreng Terakhir

Friday
Apr 10,2009
4-surat-suara

Kemarin, 9 April 2009, saya juga ikut mencontreng dong. Tapi saya baru datang ke TPS menjelang pukul 12 siang bersama istri saya. :mrgreen:

Tiba di TPS dekat rumah, suasana sudah agak sepi. Yang terlihat hanya para petugas dan seorang warga lainnya.

Saat hendak mencontreng empat kertas suara yang diberikan oleh petugas, saya agak terkejut. Ternyata alat yang disediakan untuk mencontreng adalah pulpen bertinta merah. Saya pikir bakal disediakan spidol, biar lebih jelas contrengannya.

Setelah memasukkan empat kertas suara itu ke empat kotak yang berbeda dan mencelupkan ujung jari kelingking ke botol tinta, saya mendengar ada petugas yang mengingatkan para petugas lain bahwa sudah jam 12 (siang). Saya sempat melirik lagi ke bilik suara. Eh, sudah tidak ada warga lain. Kayaknya saya dan istri saya jadi pencontreng terakhir di TPS tersebut. :mrgreen:
(more…)

Sunday
Sep 21,2008

Selama ini saya mengira di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta yang kesibukan jadwal penerbangannya bisa dibilang hampir 24 jam, tempat-tempat makan yang ada di dalamnya buka terus sepanjang masih ada jadwal penerbangan yang tersisa. Setidaknya, tempat-tempat makan yang ada di dalam gedung bandara atau minimal airport lounge-nya ada yang buka terus sepanjang hari. Ternyata perkiraan saya salah. :shock:
(more…)

Tuesday
Aug 19,2008

Adakalanya ketika cocok dengan menu di sebuah resto atau cafe dan ingin merekomendasikannya ke teman atau relasi bisnis, bisa dilakukan dengan memberikan voucher senilai sekian rupiah agar bisa langsung digunakan di tempat itu. Apalagi kalau voucher itu bisa sekalian sebagai kado ulang tahun.

Yang jadi masalah adalah kalau resto atau cafe yang ingin kita rekomendasikan itu ternyata tidak menyediakan penjualan voucher. Bahkan tidak ada niat sama sekali untuk membuatkan sebuah voucher khusus atas rupiah yang kita ingin bayarkan untuk digunakan oleh teman atau relasi bisnis kita.

Itulah yang saya dan istri saya alami pada Senin kemarin ketika hendak membeli voucher untuk dijadikan kado. Malay Village, La Rucola, dan Coffee Bean adalah tiga dari sejumlah resto dan cafe yang kami hubungi, baik datang langsung maupun tanya via telepon. Dan ternyata tidak ada yang menjual gift voucher makan. Diminta untuk membuatkan voucher khusus pun tidak bersedia. Entah mengapa. :roll:

  • [»] · 13 Things Your Waiter Won’t Tell You: Beberapa di antaranya cukup ‘mengerikan’. Entah sama juga dengan keadaan di Indonesia atau tidak. Yang jelas, informasi dari Reader’s Digest ini perlu diketahui mereka yang sering makan di restoran. Atau mungkin sudah tahu? · (0)
Friday
Apr 18,2008

Ya, saya memang seorang fotografer.
Ya, saya memang senang makan.
Ya, saya memang tercatat sebagai anggota milis Jalansutra.
Ya, saya memang bernama Benny Chandra.
Ya, saya memang memiliki domain BennyChandra.com
Tapi…
saya bukan orang yang tercatat sebagai fotografer dalam buku Kuliner Jalansutra 1 atau judul lengkapnya Kuliner Jalansutra: Tempat Makan Jakarta Tempo Doeloe.
(more…)

Monday
Apr 16,2007
the rocks

Pernah makan siang di restoran yang mengaku menyuguhkan “Modern Australian Cuisine” dan mengusung slogan “Feel 100% OZ with Our Australian Standard” sambil disetelkan dengan volume cukup besar lagu-lagu jadul Indonesia macam Anak Singkong-nya Bill & Brod, Kugadaikan Cintaku-nya Gombloh, Berdiri Bulu Romaku-nya Hetty Koes Endang, hingga lagu kebangsaan Indonesia Raya (walau hanya intro-nya saja)?

Gw dan istri gw baru mengalaminya kemarin siang di The Rocks, sebuah restoran yang berada di daerah Surabaya Barat.

Sekarang gw jadi tahu arti “Feel 100% OZ with Our Australian Standard” yang dipasang resto itu di mana-mana…

Tuesday
Oct 24,2006

dapur desa

Minggu (22/10) kemarin gw dan istri makan siang di Dapur Desa. Dapur Desa adalah sebuah rumah makan yang tergolong baru di Surabaya. Berada di jalan Basuki Rahmat yang merupakan salah satu jalan utama di Surabaya membuat kehadirannya menarik perhatian orang-orang yang sering lewat jalan itu.

Dari nama dan ornamen pada atap bangunannya, sepertinya rumah makan ini menawarkan menu dan suasana pedesaaan. Begitu melewati pintu masuk, setelah ditanya untuk berapa orang, kita dipersilakan untuk langsung memilih makanan. Di meja panjang sebelah kiri berjejer sejumlah tempeh beralas daun pisang yang berisi berbagai lauk pauk. Tidak terlalu banyak sih macamnya. Di antaranya ada ayam goreng, gepuk, tempe bacem, tahu bacem, ikan bakar, perkedel, perkedel/dadar jagung, terancam, tumis kangkung, tumis toge, cecek, teri kacang, nasi bakar, dan nasi tutug tempe. Ada yang sudah matang, ada yang harus digoreng dulu setelah dipilih. Jadi tetap aja harus menunggu untuk dihidangkan di meja kita. Sementara untuk sambalnya bisa diambil sendiri di salah satu sudut. Pilihannya ada tiga: sambal terasi, sambal bajak, dan sambal ijo.

Akhirnya kita memilih Ayam Goreng “DD”, Gepuk, Perkedel Jagung, Terancam, Nasi Bakar “DD”, dan Nasi Tutug Tempe. Untuk minumnya, cukup sebotol air kemasan dingin lantaran saat hendak memesan minuman ternyata daftar menunya tidak tersedia. “Buku menunya belum jadi, Pak,” kata pelayannya yang berbusana resmi ala Jawa Timuran sambil menyebutkan berbagai pilihan jus. Agak mengherankan mengingat rumah makan ini sudah hampir sebulan buka… :roll:
(more…)