Ya, saya memang seorang fotografer.
Ya, saya memang senang makan.
Ya, saya memang tercatat sebagai anggota milis Jalansutra.
Ya, saya memang bernama Benny Chandra.
Ya, saya memang memiliki domain BennyChandra.com
Tapi…
saya bukan orang yang tercatat sebagai fotografer dalam buku Kuliner Jalansutra 1 atau judul lengkapnya Kuliner Jalansutra: Tempat Makan Jakarta Tempo Doeloe.
(more…)

Pernah makan siang di restoran yang mengaku menyuguhkan “Modern Australian Cuisine” dan mengusung slogan “Feel 100% OZ with Our Australian Standard” sambil disetelkan dengan volume cukup besar lagu-lagu jadul Indonesia macam Anak Singkong-nya Bill & Brod, Kugadaikan Cintaku-nya Gombloh, Berdiri Bulu Romaku-nya Hetty Koes Endang, hingga lagu kebangsaan Indonesia Raya (walau hanya intro-nya saja)?
Gw dan istri gw baru mengalaminya kemarin siang di The Rocks, sebuah restoran yang berada di daerah Surabaya Barat.
Sekarang gw jadi tahu arti “Feel 100% OZ with Our Australian Standard” yang dipasang resto itu di mana-mana…






Minggu (22/10) kemarin gw dan istri makan siang di Dapur Desa. Dapur Desa adalah sebuah rumah makan yang tergolong baru di Surabaya. Berada di jalan Basuki Rahmat yang merupakan salah satu jalan utama di Surabaya membuat kehadirannya menarik perhatian orang-orang yang sering lewat jalan itu.
Dari nama dan ornamen pada atap bangunannya, sepertinya rumah makan ini menawarkan menu dan suasana pedesaaan. Begitu melewati pintu masuk, setelah ditanya untuk berapa orang, kita dipersilakan untuk langsung memilih makanan. Di meja panjang sebelah kiri berjejer sejumlah tempeh beralas daun pisang yang berisi berbagai lauk pauk. Tidak terlalu banyak sih macamnya. Di antaranya ada ayam goreng, gepuk, tempe bacem, tahu bacem, ikan bakar, perkedel, perkedel/dadar jagung, terancam, tumis kangkung, tumis toge, cecek, teri kacang, nasi bakar, dan nasi tutug tempe. Ada yang sudah matang, ada yang harus digoreng dulu setelah dipilih. Jadi tetap aja harus menunggu untuk dihidangkan di meja kita. Sementara untuk sambalnya bisa diambil sendiri di salah satu sudut. Pilihannya ada tiga: sambal terasi, sambal bajak, dan sambal ijo.
Akhirnya kita memilih Ayam Goreng “DD”, Gepuk, Perkedel Jagung, Terancam, Nasi Bakar “DD”, dan Nasi Tutug Tempe. Untuk minumnya, cukup sebotol air kemasan dingin lantaran saat hendak memesan minuman ternyata daftar menunya tidak tersedia. “Buku menunya belum jadi, Pak,” kata pelayannya yang berbusana resmi ala Jawa Timuran sambil menyebutkan berbagai pilihan jus. Agak mengherankan mengingat rumah makan ini sudah hampir sebulan buka…
(more…)






Dari penampilannya, sekilas RingMaster terlihat seperti donut keluaran J.CO maupun Krispy Kreme yang tergolong jenis glazed donut. Mungkin lagi ngetren ya jenis donut seperti itu. Begitulah kesan pertama yang muncul saat mengunjungi gerai RingMaster yang barusan buka di Tunjungan Plaza 3 Surabaya. Tapi apakah rasanya juga sama-sama enak? Itu yang lebih penting!

Mirip dengan gerai J.CO, di tempat donut yang satu ini juga menggunakan konsep open kitchen. Pembeli bisa melihat proses pembuatan donut meskipun sedkit terhalang karena mesinnya diletakkan persis di belakang tempat karyawan yang sedang melayani pembeli. Yang agak berbeda, jalur masuk pembeli untuk memilih varian donut diawali dari sebelah kanan, bukan dari sebelah kiri.
Sistem harga yang dipatok juga tidak berbeda dengan J.CO. Untuk 1 buah donut dijual 5.500, 1/2 lusin 25ribu, dan 1 lusin 45ribu rupiah. Sayangnya tidak dikasih struk…
(more…)
Gepuk adalah salah satu jenis makanan pesanan gw yang dikirim Endhoot dari Bandung minggu lalu. Gw memang sengaja pesan lantaran sudah lama bikin gw penasaran. Berhubung beberapa minggu belakangan ini gw sibuk banget, baru hari ini bisa bahas soal makanan asal Bandung itu.
Oh ya, katanya Endhoot, bagi orang Bandung, gepuk sendiri artinya adalah empal. Padahal jika dibandingkan dengan empal yang biasa gw temui di warung-warung yang ada di Surabaya, penampilan gepuk dari Bandung itu jauh berbeda. Biar gampang dibedakan, menurut gw, gepuk itu adalah empal yang dimasak sampai empuk atau something like that™
CMIIW.
Ternyata di Bandung ada dua merek gepuk yang terkenal, Ny. Ong dan Ny. Yong. Kalau hanya melihat penampilannya, sekilas keduanya mirip banget. Apalagi merek yang diusung juga hampir sama. Cukup membingungkan bagi yang belum mengetahuinya keberadaan dua merek tersebut.
Keduanya boleh sama-sama menyebut diri sebagai gepuk asal Bandung, harga per potong juga boleh sama-sama 6000 rupiah per potong, nama juga boleh mirip, tetapi ternyata rasanya berbeda. Bahkan perbedaan rasanya cukup kontras. Mana yang lebih enak? Lihat dulu perbandingannya…
(more…)
Setelah booming di Jakarta, nampaknya belakangan ini pisang goreng genre Ponti mulai marak di Surabaya. Kebetulan beberapa hari ini pisang goreng ponti sedang ramai dibicarakan di dua milis yang gw ikuti, milis Jalansutra dan ID-Gmail.
Di Surabaya, sejauh yang gw tahu, setidaknya sudah ada tiga penjual pisang goreng jenis itu. Salah satunya bercokol di jalan Ngagel Jaya Selatan, dua lainnya berada di pinggir jalan Mulyosari. Kalo gw perhatikan, nampaknya salah satu penjual pisang goreng yang ada di Mulyosari itu memasang merek yang sama dengan yang ada di Ngagel Jaya Selatan. Mereknya Jumbo. Sepertinya masih satu grup. Adapun penjual satunya lagi memakai merek Kepomponk.
Sebenarnya beberapa hari lalu gw sudah sempat membeli pisang goreng ponti yang ada di jalan Ngagel Jaya Selatan itu. Menurut gw sih rasanya tidak terlalu enak, terutama balutan tepung krispinya yang terasa hambar dan terlalu tebal. Keunggulannya mungkin hanya terletak pada pisangnya yang empuk dan rasanya manis. Melihat proses penggorengannya, sepertinya pisangnya sendiri tidak terkena panasnya minyak goreng karena ‘terlindungi’ oleh balutan ’selimut’ adonan tepung krispi dan berpori-pori yang dimasukkan duluan ke dalam wajan penggorengan. Sayangnya saat itu gw lupa bikin screenshot-nya ![]()
Kemarin malam ketika melewati jalan Mulyosari dan melihat ada dua penjual pisang goreng ponti dengan merek yang berbeda itu, gw langsung terpikir untuk membikin screenshot-nya sekaligus membandingkan keduanya dalam sebuah duel
| Pisang Goreng Ponti | JUMBO | KEPOMPONK |
|---|---|---|
| Lokasi (Surabaya) | Jalan Mulyosari | Jalan Mulyosari |
| Kondisi pisang | Manis, masak | Kurang manis, belum masak |
| Rasa kremesan tepung | Tawar | Agak manis |
| Harga per potong | Rp 3000,- | Rp 2500,- |
Hasilnya? Kepomponk unggul dalam hal harga yang lebih murah dan ’selimut’ kremesan tepung yang terasa agak manis. Kekurangannya ada pada rasa pisang yang kurang manis dan kurang empuk lantaran pisangnya belum masak (matang) benar. Sementara Jumbo meraih angka tertinggi untuk kualitas pisangnya yang lebih manis, empuk, dan sudah masak. Sisi lemahnya terletak pada harganya yang tergolong mahal dan tawarnya rasa ’selimut’ kremesan tepungnya.
Jadi, menang mana? Hmmm…
Sebenarnya gw lebih suka pisang goreng biasa dan pisang goreng kipas ketimbang pisang goreng ponti, tetapi kalau terpaksa harus memilih sepertinya gw akan menunjuk Jumbo. Soalnya namanya pisang goreng ‘kan yang penting rasa pisangnya yang manis dan empuk…


Pernah gak berada dalam sebuah restoran yang hampir semua jenis makanannya terasa asing? Gw pernah dan itu terjadi hari Minggu kemarin (2/7).
Sekitar seminggu yang lalu gw terpilih sebagai salah satu penanya yang beruntung dalam talk show JW Marriott di Hard Rock FM Surabaya. Hadiahnya adalah undangan menikmati Sunday Brunch di Imari, JW Marriott Surabaya untuk dua orang. Asyik, bisa MAKAN-MAKAN™ (Thanks to JW Marriott & HRFM!) ![]()
Setelah sehari sebelumnya melakukan konfirmasi, akhirnya baru hari Minggu kemarin gw dan istri bisa datang ke japanese restaurant itu. Jam 11 lebih sedikit kita sudah tiba di hotel. Saat konfirmasi, oleh manajernya gw udah diwanti-wanti agar datang kurang dari jam 11 siang biar tidak sampai harus antri.
Secara gw dan istri tergolong bukan penggemar masakan Jepang, menikmati hidangan buffet bernuansa Jepang di Imari merupakan pengalaman tersendiri. Bahkan sempat gw agak kuatir jangan-jangan semua masakannya serba mentah kayak sushi dan sebangsanya. Hiii…
Untunglah kekuatiran gw tidak terbukti
(more…)