Belajar Menyapa Penggemar via Video dari Simple Plan

Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat selebritas zaman sekarang semakin mudah menyampaikan kabar kegiatan atau sekadar menyapa fans. Tidak lagi harus lewat surat berprangko atau menunggu diliput televisi atau media lainnya.

Para pesohor cukup berkicau menyapa penggemar via Twitter, misalnya. Mudah, tidak ribet, dan efektif.

Para artis musik juga lumrah mengunggah sekaligus memamerkan video musik dari setiap lagu yang dirilis dengan memanfaatkan layanan berbagi video seperti YouTube. Promosi lagu baru jadi lebih mudah.

Bagaimana dengan urusan memberi kabar atau menyapa penggemar secara berkala lewat video yang diunggah ke YouTube? Mungkin untuk urusan yang satu ini perlu belajar dari Simple Plan.

Meski menyukai lagu-lagunya, saya sebenarnya bukan termasuk dalam barisan penggemar berat yang selalu mengikuti sepak terjang Simple Plan. Makanya, ketika belum lama ini saya mengetahui keberadaan akun resmi Simple Plan di YouTube, saya agak terpukau melihat konten yang ada.

Ternyata mereka cukup rajin mengisinya. Akun grup musik asal Kanada itu tidak hanya berisi kumpulan video musik seperti kebanyakan artis musik lainnya. Di dalamnya ada juga sederet rekaman video yang berisi sapaan terhadap para penggemar dan cerita perjalanan mereka saat tur ke berbagai negara. Di situ, mereka semacam ngeblog lewat video atau istilahnya vlog.

(more…)

»

Diundang ke Mozilla l10n Workshop 2017 di Taipei

Bulan April lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Taipei, Taiwan. Berlibur? Bukan. Saya menghadiri undangan acara Mozilla l10n Workshop 2017 yang berlangsung selama dua hari. Tepatnya, 22-23 April 2017.

Mozl10nTPE
Halo Taiwan!

Sebelumnya, untuk wilayah Asia, acara serupa pernah diadakan di Bangkok, Thailand (2015) dan Kuala Lumpur, Malaysia (2016).

Dalam acara di Taipei kali ini, pesertanya terdiri atas para pelokal (localizer) yang berasal dari 11 negara di Asia. Dari Indonesia, selain saya juga ada Eljuno Kasih dan Fauzan Alfi. Sementara staf Mozilla yang hadir berjumlah empat orang seperti tahun-tahun sebelumnya. Yaitu, Francesco Lodolo (Flod), Axel Hecht (Pike), Peiying Mo, dan Gary Kwong.

Mozl10nTPE
Ruangan di kantor Mozilla Taiwan yang digunakan untuk lokakarya selama dua hari. FOTO: BENNY CHANDRA.

Dari Surabaya, saya terbang ke Taiwan via Singapura dengan China Airlines. Asyiknya, untuk penerbangan siang hari dari Singapura (SIN) ke Taipei (TPE), maskapai berkode CI itu menggunakan pesawat Airbus A350 yang terbilang masih sangat baru.

Di antara logo-logo kantor Mozilla. FOTO: FAUZAN ALFI.

(more…)

»

Yang Terbaik, Bukan yang Terpopuler

Grammy Awards ke-53 memang telah berlalu, tapi mungkin sampai sekarang masih ada yang belum hilang rasa terkejutnya ketika Esperanza Spalding diumumkan sebagai Artis Pendatang Baru Terbaik (Best New Artist), mengungguli beberapa nama lain seperti Mumford & Sons, Florence & The Machine, serta yang terbilang lebih populer macam Drake dan… Justin Bieber. Benar-benar sebuah kejutan.

Saya sendiri termasuk orang yang tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Tapi setelah mencari tahu lebih lanjut dan menyaksikan rekaman pertunjukan Esperanza Spalding, saya rasa penyanyi yang juga pemain bas jazz itu memang pantas menyandang gelar terbaik dari acara tahunan yang diselenggarakan oleh National Academy of Recording Arts and Sciences (NARAS) atau The Recording Academy tersebut meskipun tetap saja harus diakui selama ini dia memang tergolong kurang populer.

Namun, di luar semua itu, sebenarnya ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa tersebut. Bahkan mungkin bisa berguna juga bagi perkembangan dunia musik di Indonesia. Apakah itu?
(more…)

»

Musisi Indonesia, Yuk Lebih Mencintai Bahasa Indonesia

Kita sering mendengar anak-anak kecil, juga orang dewasa, dengan mudah menyenandungkan potongan lirik dari lagu yang sedang mengetop. Lirik lagu rasanya lebih mudah dihafal ketimbang isi buku pelajaran di sekolah atau kampus dahulu. Bukan begitu?

Dari lirik lagu juga, tidak jarang kita mengenal kata-kata tertentu yang terkesan baru atau asing, padahal sebenarnya sudah lama ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dari sejumlah lagu KLa Project, misalnya, sebagian dari kita (termasuk saya) mengenal kata-kata seperti “terpuruk” (lagu “Terpurukku di Sini”), “nelangsa” (“Tak Bisa ke Lain Hati”), dan “romansa” (“Romansa”).

Tidak hanya lagu berbahasa Indonesia, yang berbahasa asing juga pengaruhnya tidak kalah hebat. Lihatlah, belakangan ini tiba-tiba banyak yang bisa berbahasa Korea menyanyikan potongan lirik lagu “Gangnam Style” dari PSY.

Lirik lagu memang bisa menjadi sarana efektif untuk mengenalkan atau membuat orang tertarik belajar bahasa dengan cara yang menyenangkan. Namun, sayangnya, di sisi lain ada hal yang cukup memprihatinkan, khususnya menyangkut lagu Indonesia yang dibawakan oleh para musisi Tanah Air. Apa itu?

Kalau didengarkan lebih jelas, terdapat cukup banyak lirik dalam lagu-lagu Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kekeliruan demikian akan semakin tampak jelas dalam isi buklet lirik lagu yang biasanya disertakan dalam album. Termasuk juga adanya bahasa Indonesia dan bahasa asing yang campur aduk dalam sebuah lagu — entah itu judul atau liriknya. Jika terus berlangsung, hal tersebut tentunya akan dapat mengganggu perkembangan bahasa Indonesia.

Beberapa lagu terkenal berikut ini bisa jadi contoh berbagai bentuk kekeliruan penggunaan bahasa Indonesia oleh para musisi Indonesia.
(more…)

»