Ketika Blog Dibukukan

nge-blog dgn hatiDari blog menjadi buku? Dari blogger menjadi ‘penulis buku’? Itulah yang sudah dialami oleh beberapa blog dan blogger di tanah air.

Berkaitan dengan itu, ada sesuatu yang cukup menarik untuk dicermati. Apakah itu?

Ketika pertama kali isinya dibukukan beberapa tahun lalu, seingat saya (CMIIW), blog Kambing Jantan milik Raditya Dika langsung ditutup sementara untuk umum. Bahkan kemudian arsip lama yang sudah masuk buku dihapus (tapi belakangan dia sudah punya blog baru dengan nama domain baru).

Meskipun terlihat agak ironis (karena blog yang membuatnya bisa bikin buku malah ‘dimatikan’), bisa jadi penutupan itu merupakan semacam kompromi atau perjanjian khusus antara blogger yang bersangkutan dengan pihak penerbit yang membukukan isi blognya.

Bagaimana dengan blogger lain yang isi blognya juga dibukukan? Apakah menutup blognya juga? Hal yang berbeda dilakukan oleh Ndoro Kakung alias Wicaksono ketika sebagian isi blognya diterbitkan oleh Gagas Media menjadi sebuah buku bertajuk “Nge-blog dengan Hati“. (Ya, saya basbang karena baru sekarang nulis soal buku itu, padahal sudah beli dari kapan hari :P)

Ketika bukunya mulai hadir di toko buku sejak pertengahan 2009, bagusnya, akses ke tulisan asli yang ada di internet tidak ditutup. Kita masih bisa membaca tulisan-tulisan Ndoro Kakung di sejumlah ‘tempat aslinya’. Yaitu, di Blog Tempo Interaktif, Ndoro Kakung, dan Piwulang Ndoro Kakung.

Namun, saya melihat ada sedikit keanehan. Ketika membolak-balik buku ini, saya tidak menjumpai pencantuman tautan posting blog asalnya di setiap tulisan. Selain itu, tautan sejumlah situs web dan blog yang disebut di dalam tulisan juga tidak disertakan. Sebut saja seperti Wikipedia, blog Dian Sastrowardoyo, blog Unspun, dan blog Matt Mullenweg. Terasa ada yang kurang lengkap.

Di samping itu, sejumlah tulisan yang dimuat di buku ini juga mengalami perubahan judul, tidak sama seperti aslinya. Sebut saja untuk beberapa tulisan dari Blog Tempo Interaktif, seperti “Ranjau Masalah di Ranah Blog” jadi “Ranjau-ranjau Ranah Digital” dan “Perlukah Seorang Blogger Masyhur” berganti jadi “Harusah Kita Masyhur?” (ya, di buku itu tertulis “harusah“).

Beberapa judul tulisan yang diambil dari blog Ndoro Kakung juga kena ‘gunting sensor’. Misalnya, “Pewarta Pecas Ndahe” jadi “Pewarta dan Kecemasan Warga” dan “Etika Pecas Ndahe” berubah jadi “Kode Etik atau Kode Buntut”. Hilanglah ciri khasnya berupa judul pendek dan selalu disertai tambahan “Pecas Ndahe”.

Berubahnya judul tulisan Ndoro Kakung yang dimuat dalam buku ini tentunya menimbulkan tanda tanya. Apakah judul aslinya dianggap tidak memenuhi kriteria judul yang kuat, seperti yang diuraikan dalam tulisan berjudul “Membuat Posting yang Nendang“? 🙂 Dalam tulisan itu dikatakan bahwa

“Judul yang kuat akan menentukan efektivitas seluruh tulisan. Makin menarik sebuah judul, makin besar kemungkinan pengunjung akan membacanya” (halaman 16).

Yang juga agak mengganjal adalah sampulnya. Selain mudah kotor karena berwarna dasar putih dan tidak dilaminasi, juga gambar sampul yang sederhana dengan huruf bergaya tidak formal bisa membingungkan bagi yang belum pernah tahu siapa Ndoro Kakung. Di sebuah toko buku, saya pernah menemukan buku ini dipajang di antara deretan novel. :mrgreen:

Apakah semua itu memang disengaja? Merupakan semacam kompromi juga atau perjanjian dengan pihak penerbitnya? Entahlah.

Yang jelas, secara keseluruhan, buku setebal lebih dari 160 (142 ++) halaman ini menawarkan panduan berblog yang bermanfaat. Mereka yang ingin atau baru tahu soal ngeblog sebaiknya memilih buku ini sebagai panduan awal agar tidak salah arah.

Cukup banyak tips menarik yang bisa diserap dari tulisan-tulisan blogger yang juga wartawan kondang itu. Misalnya, bagaimana mulai ngeblog dengan hati, menghadapi kritik dari pengunjung blog, mencari ide untuk ngeblog, memilih layanan hosting blog, hingga bagaimana menyikapi pasal karet sebuah undang-undang kontroversial.

Ini tentunya menjadi penyegar di antara belantara buku-buku yang hanya sekadar mengandalkan dan menawarkan mimpi indah soal gampangnya berburu uang dari internet dengan berbagai cara.

[rate 3.5]

Print Friendly, PDF & Email

Benny

Blogger

11 thoughts to “Ketika Blog Dibukukan”

  1. menurut saya perbedaan judul yang terjadi dari blog menjadi dalam sebuah buku memang wajar, karena dari pihak penerbit pasti menerapkan SOP dari mereka.

  2. Hmmmm, itu termasuk dalam list buku yang harus kubeli (dan semoga kubaca) pas balik Indo nanti.

    Apakabar, Bang? 🙂

  3. wahh, jadi pengen baca. Buku ini sebenernya udah lama pengen saya baca, tapi gak jadi2 terus. Jadi pengen kenalans ama Ndoro Kakung. Ketemu sama Ndoro Kakung aja baru sekali, itu juga dari jauh di acara PB 2009 kemaren.
    Salam kenal, mas..
    Mampir2 ke blog saya yaa.
    😀

Comments are closed.