2004

Word of the Year 2004: Blog!

Belakangan ini perkembangan blog sangat gila-gilaan. Pelaku blog (blogger) semakin banyak. Bahkan beberapa kasus pemecatan lantaran berblog ria pun terjadi di tahun ini. Sudah begini, orang yang belum tahu soal blog pasti tertarik mencari tahu apa sih blog itu. Gak heran kalau penerbit kamus Merriam-Webster menetapkan “blog” sebagai Word of the Year 2004! :plok: Kata “blog” mengalahkan sembilan kata lainnya, yaitu incumbent, electoral, insurgent, hurricane, cicada, peloton, partisan, sovereignty, defenestration.

Adapun pengertian “blog” menurut Kamus Merriam-Webster ( akan dimuat dalam edisi 2005) itu adalah:

BLOG noun [short for Weblog] (1999) : a Web site that contains an online personal journal with reflections, comments, and often hyperlinks provided by the writer.

Dhani Bantah Lip Sync β€œLaskar Cinta” di RCTI

Menyangkut dugaan lip sync oleh Dewa saat konser launching album “Laskar Cinta” di RCTI, 22 November 2004, akhirnya bisa mendapat konfirmasi langsung dari pihak Dewa!

Kebetulan tadi (tepatnya kemarin malam) Dhani Ahmad, leader dari Dewa, tiba-tiba muncul di acara TReMM-nya 89.7 HRFM Surabaya. Lewat telepon (thanks Kika!), gw minta konfirmasi soal lip sync saat launching “Laskara Cinta” di RCTI. Apalagi paling kentara saat lagu “Matahari Bulan Bintang” di mana Once terlihat melakukan lip sync. πŸ˜‰

“Itu fitnah. Tidak benar. Mungkin pada saat itu giliran saya menyanyi, tetapi kameranya ke arah Once,” bantah Dhani. 😯

Yah, kalau pihak Dewa udah bilang gitu, mo gimana lagi?! πŸ™„ Secara gw gak punya rekaman konser launching album baru itu… 😐 Oke deh pak! πŸ™‚

Musik di Resto Khas

Beberapa hari ini gw kekurangan ide buat nulis, padahal pengen nulis… 😈 Mungkin pengaruh sibuk nyiapin ‘sesuatu’ yang bakal soft launching dalam satu dua hari ini kali ya… he he he :mrgreen:

Akhirnya gw ingat soal musik di resto, terutama di resto khas. 😈 Resto khas itu contohnya seperti resto yang menu utamanya dari negara atau daerah tertentu. Misalnya, resto masakan Jepang, Thailand, dan Jawa. Bagi gw, setiap makan di resto adalah sebuah pengalaman, termasuk resto khas. Pengalaman itu tidak hanya soal cita rasa saja, tetapi juga menyangkut pelayanan dan suasana! Seringkali, pemilik atau pengelola resto khas kurang menyadari akan hal itu. Yang lebih dipentingkan hanyalah salah satu diantaranya, bukan kombinasi atau gabungan dari semua hal itu. Cukup memprihatinkan! πŸ™

Membangun suasana yang sesuai dengan tema khas resto pun tidak cukup hanya diwakili oleh macam makanan dan interior. Musik yang diperdengarkan juga punya pengaruh yang cukup gede lho! Seperti tadi malam ketika gw mencoba resto Chubo Chubo, Plaza Tunjungan 4. Resto ini dari interior dan macam makanannya udah jelas banget kalau mengusung cita rasa serba khas Jepang. Sayangnya, makanan yang ditawarkan biasa-biasa aja… tidak ada yang istimewa..Gw dan istri mencoba 2 macam menunya (chicken lemon dan satunya mirip-mirip beef yakiniku). Sudah gitu, makanannya kurang asik, masih ditambah musik yang diputar saat itu adalah tembang-tembang dari album terbaru Dewa! 😑 Kacau deh! πŸ‘Ώ Akan lebih menyenangkan dan lebih nyambung deh kalau yang diperdengarkan adalah musik bernuansa Jepang! 😎

Kejadian serupa juga gw alami ketika makan di Coca Suki yang menawarkan menu ala Thailand. Ternyata musik yang terdengar adalah lagu-lagu Indonesia, udah lawas pula! 😐 Sementara ketika mampir ke Ayam Goreng Mbok Berek, bukannya menikmati alunan musik khas Jawa, kita malah disetelin lagu-lagu slow rock lawas dari salah satu radio! 😯 Padahal interiornya sudah cukup mendukung sebagai sebuah resto tradisional Jawa… Duh! πŸ™„