Benny Chandra dot com

blogging without tagline since 2001

Dave Koz & Patti Austin

@ Java Jazz Festival, Jakarta.

Nathan King (Level 42)

@ Level 42 Indonesian Tour, Surabaya.

Jamie Cullum

@ Java Jazz Festival, Jakarta.

Archive for the ‘Books’ Category

Friday
Apr 18,2008

Ya, saya memang seorang fotografer.
Ya, saya memang senang makan.
Ya, saya memang tercatat sebagai anggota milis Jalansutra.
Ya, saya memang bernama Benny Chandra.
Ya, saya memang memiliki domain BennyChandra.com
Tapi…
saya bukan orang yang tercatat sebagai fotografer dalam buku Kuliner Jalansutra 1 atau judul lengkapnya Kuliner Jalansutra: Tempat Makan Jakarta Tempo Doeloe.
(more…)

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Budaya Masa Kini

Tuesday
Dec 5,2006

Beberapa waktu lalu gw pernah dengar di radio, ada yang bilang bahwa kita yang tinggal di Indonesia ini lebih cenderung menganut budaya mengobrol dan mendengar ketimbang budaya menulis dan membaca. Pada saat itu gw cenderung setuju dengan pendapat itu.

Namun ketika mampir di TGA Bookstore @ Mal Galaxy Extension Sabtu malam kemarin, ada sesuatu yang membuat gw jadi ragu apakah pendapat tadi masih sesuai dengan keadaan sekarang. Yang gw lihat itu memang bukan suatu sesuatu yang baru alias basbang tapi sepertinya masih cukup menarik untuk dicermati.

Adalah sederet rak di bagian depan dekat pintu masuk yang membuat gw tertarik untuk sejenak singgah. Rak-rak itu dipenuhi dengan ratusan novel yang beragam. Meskipun ada yang merupakan terjemahan dari novel berbahasa asing, namun ternyata sebagian besar yang ada di situ merupakan hasil karya penulis lokal. Menariknya, novel-novel lokal itu juga bervariasi, tidak hanya sekedar novel bergenre chicklit atau teenlit tetapi ada juga novel berdasarkan skenario film. Penulisnya pun tidak hanya itu-itu saja. Terlihat cukup banyak nama-nama baru. Dan semuanya nampak menonjol, menarik. Keadaan ini jauh berbeda dengan keadaan di tahun 80-90an di mana secara umum -seingat gw- hanya ada novel lokal bikinan angkatan Hilman ‘Lupus’ Hariwijaya dan angkatan S. Mara GD dan Mira W.

Melihat perkembangan novel-novel lokal yang begitu semarak, nampaknya budaya menulis mulai berkembang dengan cukup pesat di jaman sekarang. Dugaan itu semakin menguat dengan semakin ramainya aktivitas menulis di blog belakangan ini. Acara-acara talkshow, seminar, atau workshop blog semakin sering diadakan di mana-mana. Sekadar menyebut beberapa saja, misalnya, September lalu ada workshop blog di Jakarta, Sabtu dan Minggu kemarin telah digelar “Blog Fun Daydi Bandung, dan “Speak up with Blog” yang akan diadakan pada 17 Desember mendatang di Surabaya.

Jadi, apakah budaya menulis sudah menjadi budaya masa kini? Inginnya menjawab iya, tetapi mungkin lebih tepat adalah “sedang berproses”… :)

Menyewa(kan) Koran?

Tuesday
Nov 14,2006
sewa majalah

Beberapa tahun lalu ketika bertemu di Surabaya, seorang pemimpin redaksi majalah komputer (bukan, bukan dari majalah yang terlihat pada skrinsut di samping) terkejut ketika mengetahui selama ini gw membaca majalahnya dengan cara menyewa dari tempat persewaan buku. Ya, menyewa, bukan membeli :mrgreen:
Mudah-mudahan bukan karena itu rubrik yang sempat ditawarkan ke gw tidak jadi muncul di majalahnya… he he he :lol:
Nampaknya bagi sejumlah orang, menyewa buku -entah itu majalah, komik, maupun novel- masih dianggap sesuatu yang aneh atau tidak umum. Entah karena tidak mengetahui adanya tempat persewaan buku atau enggan menyewa. Ada yang memang lebih memilih membeli ketimbang menyewa.

Meskipun kadang-kadang masih membeli majalah-majalah tertentu, sejak SMP gw sudah terbiasa menyewa buku. Menurut gw, menyewa adalah cara termurah agar bisa membaca majalah, komik, maupun novel sebanyak-banyaknya, asalkan tidak sering-sering kena denda dalam jumlah besar karena terlambat mengembalikan hingga berminggu-minggu… :wink:
Selain itu, menyewa buku bolehlah dianggap bisa berhemat tempat. Hemat tempat? Selesai baca majalah atau komik gw tidak perlu menyimpannya, isi gudang tidak perlu bertambah.

Sayangnya, hingga sekarang gw masih belum menemukan tempat yang menyediakan koran dan tabloid untuk disewa…

Text Link Ads

Motret Produk Pakai Buku Mini

  • Filed under: Books
Wednesday
Oct 18,2006

cover mini studio

Beberapa minggu lalu gw mendapat kiriman buku dari Paman Tyo. Buku mini berkaver mengkilap itu berjudul “Bikin Mini Studio Foto” terbitan majalah Komputer Aktif (PT Prima Media Pustaka).

Kalau hanya sekilas membaca judulnya, mungkin bisa terkecoh. Bisa-bisa yang langsung terbayang adalah mini studio untuk memotret orang. Sebelum kecewa berat, ada baiknya segera singkirkan jauh-jauh bayangan itu. Ya, meskipun ada satu tutorial memotret orang yang coba diselipkan di halaman 94, namun sebagian besar isi buku ini bisa dibilang hanya cocok untuk pemotretan produk. Itu pun produk atau barang yang tidak terlalu besar. Kenapa begitu? Lihat saja. :wink:
Sejak awal buku ini sudah berusaha menyajikan selengkap mungkin panduan dalam membikin mini studio kreasi sendiri. Mulai dari pengenalan bahan-bahan pendukung, jenis-jenis kamera digital, hingga berbagai macam tip dan trik. Jenis perangkat mini studio yang diperkenalkan pun tidak hanya satu. Selain soft light box berbahan kardus yang merupakan mini studio seperti dimaksud pada judul tadi, dipaparkan pula cara membuat table top sederhana dengan bahan-bahan yang tidak sulit diperoleh. Tak hanya itu, masih ada artikel singkat mengenai pembuatan photobox atau kios cetak seperti yang ada di mal-mal.

Sementara untuk (more…)

Saturday
Jul 22,2006

digital fortress

Meskipun merupakan novel pertama Dan Brown yang diterbitkan jauh sebelum The Da Vinci Code, novel edisi Bahasa Indonesia cetakan Mei 2006 dari Digital Fortress (1998) ini tetap menarik untuk dibaca. Dengan mengusung setting dunia teknologi yang tergolong jarang digunakan dalam sebuah novel drama, Digital Fortress menawarkan kisah penuh ketegangan dan konflik kepentingan. Ya, bagi yang tidak terbiasa berada dalam lingkungan komputer dan internet bersiaplah untuk masuk ke sebuah dunia lain yang sarat dengan istilah-istilah asing. Cerita yang diusung novel ini memang kental dengan istilah dalam dunia teknologi. Buat yang tidak terbiasa mungkin akan terasa berat membosankan. Untunglah Dan Brown masih menyisakan celah untuk urusan cinta, politik, kehormatan, dan kekuasaan.

Semua dimulai dari sebuah akhir pekan penuh kejutan bagi Susan Fletcher. Pagi-pagi David Becker, kekasihnya, dengan alasan ada urusan penting, secara mendadak menunda rencana kencan romantis perayaan enam bulan pertemuan mereka. Belum hilang dari keterkejutannya dengan sikap David, kembali cewek berusia 38 tahun itu terheran-heran ketika ditelepon Komandan Strathmore, atasannya, untuk segera ke kantor karena ada urusan darurat. Tidak biasanya ada kerjaan penting bagi dirinya di akhir pekan. Susan mungkin tidak mengira bahwa semua itu hanyalah awal dari berbagai rentetan peristiwa yang akan menjadi bagian paling menegangkan dalam hidupnya sebagai Kepala Bagian Kriptografi NSA (National Security Agency).
(more…)

elektra@kokom.com

Tuesday
Mar 29,2005

Dee

Apakah e-mail elektra@kokom.com yang tertulis pada halaman 86 dari Supernova: Petir benar-benar ada atau aktif? Semalam saya udah ngecek domain kokom dot com ternyata milik seseorang di Jakarta! :roll:
Begitulah pertanyaan gw kepada Dee dalam acara “Drive N’ Jive’s BookAholic with Dewi Lestari” yang digelar pada Minggu 27 Maret 2005 kemarin di House of Sampoerna, Surabaya.

Bagaimana tanggapan Dee? “Yang ngasih ide pakai e-mail itu kakak saya. Lucu juga sih. Khas Sunda banget. Kokom-dot-kom… kayak ce-cep atau lainnya. Pas sudah siap cetak sebenarnya saya pengen beli domain itu tetapi kayaknya udah diambil orang. Orang Jakarta itu mungkin. Tapi e-mail itu tetap saya masukkan. Abis lucu sih…,” ungkap Dee sambil tertawa lepas.

*gedubrak* :shock: Pengakuan yang polos dari seorang Dee. :mrgreen: Padahal ‘kan e-mail itu secara tidak langsung ikut populer seiring dengan larisnya buku Supernova: Petir. Bisa dimanfaatin orang iseng tuh. Gw sih nyaranin untuk di cetakan berikutnya agar e-mail itu diganti aja! :wink: Saat itu sih, Dee mengiyakan. Semoga gak lupa aja! :wink:
Ada jawaban dari Dee yang menarik saat menjawab pertanyaan dari peserta lain yang bertanya soal spiritualismenya Dee. Detilnya gw gak ingat, tetapi intinya Dee bilang kalo yang penting tuh bukan ngurus seputar simbol-simbol keagamaan. Lebih luas dari itu. Gw setuju! :)
Oh ya, saat nungguin buku-buku Supernova milik istri gw ditandatangani Dee, gw sempat bertanya soal kapan buku Supernova dibikin filmnya. “Kayaknya belum deh. ‘Kan sekarang baru sampai keping 39. Beda dengan Harry Potter, Supernova kan ceritanya linear,” jawab penulis yang tahun ini bakal ngerilis buku kumpulan prosa bertajuk “Filosofi Kopi”.

Yah, mesti nunggu berapa tahun lagi ya biar nyampe keping 99? :roll: Pastinya masih lama :( Buku Supernova: Partikel aja dijadualin baru keluar tahun depan. Padahal penasaran juga entar siapa yang bakal jadi Rubben dan Diva! He he he :twisted: :mrgreen:
UPDATE:
Ups, gw lupa nyantumin data kepemilikan dari domain kokom.com saat ini. :mrgreen: Ini dia:
(more…)

Thursday
Oct 28,2004

Sering nongkrong di cafe atau sejenis kedai kopi / roti moderen? Apa yang biasa kamu lakukan ketika berada di sana? (tentunya selain minum dan makan :P) Apakah lebih senang ngobrol, ngegosip, atau membaca? :twisted:
Gw dan istri cenderung memilih yang terakhir, membaca! :cool: Bacaannya bisa apa aja. Bahkan seingat gw, dulu pas masih kuliah kita berdua sempat nongkrong di Cafe Excelso - Plaza Surabaya sambil baca catatan kuliah buat ujian besoknya! :mrgreen: :music:

Belakangan ini, nampaknya kesenangan membaca sambil nongkrong mulai terlayani oleh sejumlah pengelola cafe dengan tersedianya majalah dan atau surat kabar di tempat yang mereka kelola. Hanya sayangnya, hal ini belum begitu menjadi perhatian utama oleh setiap pengelola atau pemilik. Terbukti dari beragamnya tingkat ketersediaan bacaan pada masing-masing cafe. Mulai dari yang tergolong serius menyediakan sederet bacaan menarik dan terbaru sampai yang hanya sekedar asal ada bacaan saja. :neutral:
Khusus di Surabaya, gw iseng ngamati soal ketersediaan bacaan pada sejumlah cafe yang gw sempat nongkrongin dalam kurun waktu kira-kira 6 bulanan belakangan ini. Adapun tempat-tempat nongkrong yang gw maksud itu adalah Oh La La Cafe (Plaza Tunjungan 2 & SPI), Wingdome (Citywalk), Cinnzeo (Plaza Tunjungan 3), RBT (Plaza Tunjungan 3), Excelso Cafe (Plaza Tunjungan 4), Starbucks (Plaza Tunjungan 4), dan Coffee Bean & Tea Leaf (Plaza Tunjungan 3). :music: Mana yang paling oke? :twisted:
Dari semua itu, yang gak terlihat nyediain bacaan hanyalah Excelso Cafe (Plaza Tunjungan 4)! :razz: Padahal yang lainnya rata-rata menyediakan…

Namun di antara tempat yang tersedia bacaan, nampaknya yang paling menyedihkan adalah Starbucks (Plaza Tunjungan 4)! :razz: Kenapa?
(more…)

Meta


Recent Comments

    Hedi: karena wartawan juga meminta kenaikan [...]

    si Nur: Mustinya gratis bisa ya mas... [...]

    bram: mas beny, kalau ada radio [...]

    bram: mas beny, kalau ada radio [...]

    teguh: kami siap membantu anda bagi [...]

    bek: ho oh.. mendukung juga kl [...]

    5 Alasan Kenapa Kompas Tidak Seharusnya Naikkan Harga » Benny Chandra dot com: [...] kertas masih bisa diperkecil. [...]